Feeds:
Pos
Komentar

Lalakon Ki Syahwat

ku Herdi Pamungkas

Disiksik dikunyit-kunyit dicacag diwalang-walang. Cekéng. Bedog dilugas. Barasat. Kasebrot panon poé. Pamajikan di imah ngawakwak bari ngancam. “Lamun teu sanggup nalukeun hartina Nyai nu kudu nyingkah!” ngembang laja. Nu dianti teu burung ngurunyung malédogkeun imut. Matak ngalenyap. Jajantung beuki kerep ketugna. Les. Manéhna ngaléok lebah péngkolan. Kurunyung Ki Syahwat minangka badégana. Ngagégag ngajingjing gobang. “Ditungguan di tempat sasari!” cénah nyeuneu. “Narah!” cekéng. “Kéhéd siah! Ti iraha nampik pangasih?” ngacungkeun gobang. “Tong tatanya!” Der galungan. Uing geus jangji poé ieu kudu bisa meruhkeun manéhna. Wanci sareupna Ki Syahwat boboléh. Geuntak ditalikung. Disetorkeun ka pamajikan. “Kerem di dapur. Kadé leupas!” bungah. Tuluy dicangcang dina suku korsi nu didiukan. Sabot ngaleyep. Tinggal tambangna. “Ka mana?” Nyusud tapak sukuna. Reg. Hareupeun panto kamar. Rékép. Pirajeunan hayang noong. Méméh prak. Bray muka. Leungeun dibedol satarikna. Pamajikan. Di pipir ribut. Tuluy ka tukang. “Ki Syahwat ngunclungkeun manéh ka sumur,” cék RT. Pamajikan ceurik. “Jih?” cekéng kerung. (04092014)

http://www.fikminsunda.com

BAPA

Ku Herdi Pamungkas

Saragam sakola anu nganhiji-hijina réngsé dikérodan. Diasongkeun ka anakna. Mang Suha jajap nepi ka lawang pakarangan. “Sabar, sugan aya milik!” Anakna nyium tonggong leungeun. Laju mapay jalan satapak. Leumpangna ingkud-ingkudan, sapatu nu dipakéna calangap sabeulah. Bapana ukur neuteup bari ngeclakeun cimata. Ras inget kanu jadi indungna, nu geus nilar leuwih ti heula. “Hayu Kamprét!” nyalukan anjingna. Gedig indit. Ngala batu. Wanci lohor anakna geus balik sakola. Sakumaha biasa kurah-koréh kana boboko. Teu manggih sangu. Ukur  tapakna. Dekul mirun seuneu. Nungguan bapana mulang mawa béas. Dimana sééng nyéngsréng moal lila tinggal ngarih jeung nagenkeun. Cai geus ngagolak. Suluh ampir béak. Can jol kénéh baé. Nu kadéngé sora si Kamprét ngagogog diburuan. “Kamprét, mana bapa?” Nu ditanya sakapeung ngaharengan. Buntutna kupat-képot. Kawas hayang nyarita. Dunungan surti. “Hayu!” Manéhna nuturkeun si Kamprét. Nepi kanu dituju. Ngagogogan urugan batu nu ngarurub sédong. (***)

 03022013

Oleh Herdi Pamungkas

“Jadi hidup ini untuk mati, mati untuk hidup?”

“Ya, hidup ini untuk mati. Ketahuilah ketika manusia menyia-nyiakan hidupnya di alam jasad adakah amal perbuatan baik  yang dibawanya? Yang diperintahkan dalam ajaran ini bukanlah berlomba-lomba mengejar jabatan atau meraih kekayaan, berlombalah dalam kebaikan.  Jadilah rahmat bagi segenap alam, hamma mayu hayuningbawana. Ketika orang menebar kebaikan pada sesamanya, saat hidup, lalu memberikan manfaat kepada sesamanya. Bukankah setiap jengkal kebaikannya akan selalu disebut orang? Orang-orang akan mengingat dan mengenangnya.”

“Bahkan merindukanya….” selanya.

“Nah, carilah. Agar kita selalu dirindukan orang. Tiada lain itu tadi hamma mayu hayuning bawana. Kemana pun di mana pun, kita akan selalu dirindukan. Ketiadaan kita dinantinya, ketidakhadiran kita ditunggunya, keberadaan kita menentramkannya. Sebaliknya penabur kedzaliman, kejahatan, tidaklah mungkin dirindukan. Orang akan menjauh. Menyingkir, menghindari. Kehadirannya tidak diharapkan, kemunculannya menebar rasa takut. Ketiadaannya sudah tentu diharapkan. Mereka mensyukuri ketiadaannya….” Kebo Kenongo mengakhiri pembicaraan. Ketika tampak seekor kuda memasuki sudut pelataran.

“Permisi!” prajurit Demak mendekat.

“Ada apa?”

“Andikakah yang bernama Kebo Kenongo?”

“Ya,”

“Hati-hatilah! Saya hanya mengingatkan, entah tindakan selanjutnya?”

“Hanya itu pesan yang Kisanak bawa?”

“Ya, permisi!” matanya menerabas masuk ke dalam serambi. Sejenak menyentuh tubuh lelaki bertubuh gempal yang asik menyantap hidangan.

“Heh,” lelaki bertubuh gempal menoleh. Tatapannya beradu. Lalu membelakangi.

“Ki Kebo Kenongo,” kembali menoleh dan pergi.

“Silahkan!”

“Hey, prajurit!” seseorang berteriak, bangkit.

“Sudahlah!” Kebo Kenongo mengangkat telapak tangan.

“Siapakah dia, Ki Ageng?” Ki Donoboyo mendekat.

“Prajurit Demak!”

Bersambung…..

Oleh Herdi Pamungkas

“Andai kita beliau ya bukan soal. Menurut hematku apa yang Ki Chantulo lakukan sudah tepat.” kembali berbalik.

Lelaki bertubuh gempal mendekat, kiranya ingin larut dalam pembicaraan yang belum tuntas.

“Ki Chantulo,”

“Saatnya kita menikmati masakan Nyi Ageng.” tatapnya. “Mari!” lalu diajak memasuki serambi.

Kebo Kenongo berdiri, menyampaikan ajaran Syekh Siti Jenar di depan warga Pengging yang telah usai menjalankan salat Magrib berjamaah.

Lekaki bertubuh gempal melahap hidangan nasi putih dengan lauk-pauknya berupa ikan bakar disertai Ki Chantulo. Telinganya berusaha pula menyerap setiap ceramah Kebo Kenongo di depan pekarangan dengan suara tenang, lantang, dan mudah dicerna. Meskipun tidak semuanya mampu dipahami dengan keterasingannya, persoalan-persoalan yang baru didengar.

“…tiada seorang pun manusia yang bisa luput dari kematian,” berhenti sejenak. “Sadarilah, kematian itu akan menjemput siapa saja tanpa pandang bulu. Malaikat maut tidak akan melihat siapa yang harus dihadapi. Ketika waktunya telah tiba maka orang yang dikehendakinya akan terkapar tanpa nyawa. Berhargakah manusia jika tidak memiliki nyawa?”

“Tidak!”

“Dapatkah kerabat, sanak saudara, atau orang yang dicintai menghidupkan kembali?”

“Tidak!” kembali sahut yang hadir.

“Meskipun dia seorang penguasa, saudagar, bahkan siapa saja tidak bisa menangkal maut. Maut akan merenggut siapa saja, kapan saja, dimana saja. Dimana harta, tahta keluarga yang kita banggakan dan sombongkan saat itu berada? Bisa saja berada disampingnya, bahkan memeluknya, tetapi tidak berdaya menghadapi ketentuan Alloh. Mereka yang mencintai dan menyayangi hanya bisa menangis sekeras-kerasnya. Tangis itu tidak sanggupmengembalikan ruh yang telah lepas dari jasadnya. Ruh itu mengembara ke alam lain untuk mempertanggungjawabkan hidup itu sendiri, ketika berada di alam jasad. Alam barzah bukanlah tempat untuk kembali merajut kebaikan, mengumpulkan amal kebaikan, tetapi tempat penantian yang sangat panjang menjelang manusia kembali di bangkitkan menuju akhirat.”

“Bagaimana keadaan keluarga dan harta yang kita tinggalkan?”

“Ingatlah, ketika manusia mati yang mengantar jenazah ke liang lahad
ada tiga; pertama keluarganya, kedua harta bendanya, dan yang ketiga
amal perbuatannya. Ketahuilah yang dua itu akan kembali bersama
rombongan ke rumahnya, yaitu; keluarga, dan hartanya, yang tinggal
dan menyertainya hanyalah amal perbuatan. Keluarga sekali pun sangat
mencintai tidaklah mungkin akan ikut masuk ke liang lahad, harta juga
tidak. Andai memaksakan harta itu harus dimasukan ke dalam kubur,
adakah manfaat dan madharatnya?”

“Tidak, hanya akan dicuri orang.”

“Tetapi amal perbuatan itu tidak tampak yang jelas akan menyertainya di alam kubur. Bukankah amal perbuatan itu hasil jerih payah ketika manusia berada di alam jasad? Andai itu baik, maka akan menjadi kebaikan pula di sana, sebaliknya andai tidak baik akan berakibat buruk pula.”

bersambung…..

Oleh Herdi Pamungkas

“Saya tidak paham apa yang andika katakan?” gelengkan kepala.

Ki Chantulo belumlah kembali berujar, kepalanya menunduk,lalu mendongak
pelan. Batinnya, mungkinkah orang yang baru saja percaya akan adanya
Tuhan bisa memahami ilmu yang bertingkat tentang hakikat? Sementara
mengenal juga baru akan?

“Mengapa andika diam?” liriknya.

“Nanti kita lanjutkan,” langkahnya mendahului. “Lagian kita sudah memasuki Perkampungan Pengging. Tidakkah andika merasa lapar dan dahaga?”

“Tentu saja.”

Mereka memasuki pekarangan gubuk yang berukuran tujuh belas tombak persegi. Para petani yang telah berpakaian bersih berdatangan dan menghamparkan tikar pandan. Ki Donoboyo menuju pancuran air bambu di selatan pekarangan, dibelakangnya Ki Chantulo mengiringi. Lelaki gempal kebingungan setelah menambatkan pedati di luar halaman.

“Apa yang akan mereka lakukan?” liriknya.

“Mereka akan melakukan salat Magrib berjamaah.” terang Kebo Kenongo yang
masih berdiri disampingnya.

“Salat?” dahinya berkerut-kerut.

“Syariat Islam yang hukumnya wajib bagi penganutnya. Apakah andika mau
bersama-sama mendirikannya?”

“Tidak.” dahinya semakin berkerut. “Belum mengerti, jika Ki Ageng ingin silahkan! Saya sebaiknya menunggu di sini.” lalu menepi, duduk di atas batu.

Kebo Kenongo, berlalu dari hadapannya. Mengambil air wudu seusai kedua teman sepergurunnya. Tidak lama berselang azan Magrib dikumandangkan, membelah bayang-bayang jingga keemasan di langit barat perkampungan Pengging.

Lelaki bertubuh gempal tidak melepas tatapannya, batinnya tidak henti bicara tatkala menyaksikan perilaku Kebo Kenongo beserta para penduduk  Pengging. Hingga selesai.

“Ki Ageng Pengging ternyata masih memiliki pengikut setia yang jumlahnya tidak sedikit. Mereka masyarakat miskin, petani sederhana. Mengapa tidak tertarik akan tahta juga harta? Sungguh aneh sosok ini? Meninggalkan Istana Kadipaten hanya karena ingin berbaur dengan para petani miskin. Rasanya tidak mungkin berbuat seperti ini jika tanpa tujuan?” gumamnya.  “Mereka juga begitu patuh, bahkan mengikuti setiap gerakan Ki Ageng.  Meskipun Ki Ageng harus menungging mencium tanah. Aneh?”

Usai salat Magrib Ki Chantulo yang berada di shaf terdepan berbisik pada Kebo Kenongo selaku imam.

“Haruskah saya menjawabnya?”

“Belumlah saatnya.”

“Bukankah Syekh Siti Jenar mengajarkan ilmu tidak pernah mengenal tahapan?”

bersambung…..

Oleh Herdi Pamungkas

“Ah, bhatin saya belumlah sehebat Ki Ageng. Tidak mengapa seandainya Ki Ageng dan lainnya tidak ke Khendarsawa, izinkanlah saya.” berbalik tanpa menunggu jawaban, berkelebat menyatu dengan angin senja.

“Secepat angin?” gumam lelaki bertubuh gempal tak berkedip.

Ki Canthulo dan Ki Donoboyo melempar tatap ke arah Kebo Kenongo, setelah
Ki Lontang menghilang dari pandangan.

“Ikutilah Ki Lontang andai andika berdua tertarik untuk itu,”

“Tindakan Ki Lontang sempat menggoyah batin kami. Haruskah berbuat yang serupa atau cukup disini menyertai Ki Ageng?”

“Andika telah memiliki ilmu yang sama. Ragukah akan ilmu dan batin andika?”

“Kami tidak meragukan ilmu. Mungkinkah keraguan yang kami dapatkan karena tarap pencapaian ilmu belumlah seperti Ki Ageng. Batin ini terhalang, mata hati tertutup rapat.”

“Lenyapkan keraguan dalam batin andika. Ikutilah kehendak mata hati, gunakanlah ilmu itu sebagai alatnya.”

“Kiranya kami belum sanggup menggunakannya.”

“Semuanya akan terjawab andai andika tepat menggunakannya.”

“Terangkanlah sedikit alasan Ki Ageng tidak mengikuti jejak Ki Lontang?”

“Bukankah saya telah menjelaskan jauh sebelum Ki Lontang datang?”

“Ya, mengikuti batin dan ilmu. Tetapi batin kami sumpek?”

Kebo Kenongo melangkah pelan, mereka mengikuti. Pintu gerbang perkampungan Pengging telah tercapai.

“Tahukah andika tentang kematian Srinalendra Kresna, Resi Drona, ataukah
Resi Bisma dalam Mahabharata parwa perang Bharatayuda?”

“Bukankah kami pernah menyaksikan lakonnya yang dibawakan Ki Ageng Tingkir waktu mendalang.”

“Saya ingat.” timpal Ki Chantulo, “Srinalendra Kresna telapak kaki kirinya kena panah saat bertapa, Resi Drona menjemput kematiannya sambil duduk di medan perang Kuru Setra namun pedang Dresta Jumena membabat lehernya padahal beliau sudah mati, dan Resi Bisma sekujur tubuhnya tertusuk ribuan anak panah, kematian beliau sesuai keinginannya…”

“Saya tidak mengerti apa yang andika semua perbincangkan?”

“Kisanak, maksudnya ketiga orang tadi bisa mengatur kematian dan tahu darma serta karmanya…” jelas Ki Chantulo.

“O,” lelaki gempal gelengkan kepala. “Hebat sekali, adakah ajaran Syekh  Siti Jenar demikian?”

“Syekh Siti Jenar adalah sosok yang telah memahami hakikat hidup, terang akan makna taqdir, batinnya tajam melebihi ujung pedang…”

bersambung…..

Oleh Herdi Pamungkas

“Selamat datang, Ki Lontang.” tatapnya menyejukan. “Tidak juga, malah kisanak yang tidak pernah berubah selalu ingin mendalami bhatin orang lain. Tampaknya kisanak dalam keadaan marah memasuki Pengging?”

“Ki Ageng, bisa menembus bhatin saya. Kenapa saya tidak?” gelengkan kepala. “Saya selalu berada dibawah Ki Ageng.”

“Siapa dia Ki Ageng?” tatap lelaki bertubuh gempal.

“Ki Lontang teman seperguruan kami.”

“Saya kira bhatin Ki Ageng telah maphum. Datangnya saya ke Pengging tentu saja dalam keadaan marah dan berapi-api, mengapa tidak? Saya mendengar kabar Syekh Siti Jenar akan ditangkap orang-orang Demak Bintoro, utusan Raden Patah. Sudah selayaknya saya sebagai muridnya marah besar!” geramnya.

“Bukankah baru akan?”

“Ya,” tangan bergetar, mata menyala. “Mereka tidak menghargai guru menginjak-nginjak martabat sesama. Tidakah mereka ingin saya lumat dengan pukulan gelap Ngampar!” kepalan tangannya diayunkan ke arah batu seukuran anak kerbau yang bertengger di tepi jalan.

Terlontar bola api disusul suara ledakan dahsyat yang meluluhlantakan menjadi kepulan debu, tertiup angin. Lelaki bertubuh gempal tidak berkedip, mulut melongo, tubuh menggigil. Berbeda dengan para murid Syekh Siti Jenar lainnya tidak terusik.

“Haruskah mereka saya lumat laksana debu?”

“Apakah pertanyaan itu untuk saya ataukah untuk Ki Lontang sendiri?”

“Ki Ageng, mengapa melempar pertanyaan demikian?”

“Bukankah setiap orang bertanya membutuhkan jawaban?”

“Tentu saja,” dahinya berkerut tiga. “Pertanyaan itu saya tujukan pada Ki Ageng dan rekan seperguruan.”

“Jika itu tertuju pada saya, maka saya tidak akan bersikap seperti Ki Lontang.”

“Tidak melakukan pencegahan dan perlawanan?”

“Tentu saja,”

“Bukankah beliau guru kita. Sudah selayaknya menuntut bela dan melakukan perlawanan.”

“Itu yang saya maksud pertanyaan tadi. Saya sudah menjawab, berikutnya Ki Lontang sendiri yang menjawab.”

“Ki Ageng?” dahi berkerut tiga dipijit-pijitnya. Mulai larut pikirannya dalam setiap ucapan Kebo Kenongo.

Semuanya belumlah beranjak beberapa tombak dari muka gapura perkampungan Pengging. Kebo Kenongo menghargai perjalan pikiran Ki Lontang yang mencari ujung penyelesaian, Ki Donoboyo, dan Ki Chantulo sebatas menghormati. Hanya lelaki bertubuh gempal yang tidak terlalu paham perilaku mereka.

“Jadi Ki Ageng tidak akan datang ke Khendarsawa untuk melakukan pembelaan terhadap guru, serta melumat para utusan Demak termasuk di dalamnya anggota wali songo?”

“Tidakah Ki Lontang memahami bhatin guru?”

“Maksud, Ki Ageng?”

“Bukankah guru itu manunggaling kawula gusti?”

“Ya,”

“Jika Ki Lontang mendalami itu saya rasa maphum?”

bersambung….

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.