Feeds:
Tulisan
Komentar

Oleh Herdi Pamungkas

Hipnotis, Tenaga Dalam, Telepati, dan sebangsanya merupakan ilmu biasa bukan sulap-bukan sihir. Tidaklah teramat sulit untuk mempelajari, bahkan mengusai ilmu-ilmu tersebut. Pada hakekatnya pada setiap diri manusia terdapat bahan dasar dari ilmu-ilmu tadi, hanya tanpa sadar seakan-akan kita tidak bisa. Bahan dasar tadi dimiliki oleh makhluk hidup (khusnya manusia), yang akan kita bicarakan pada kesempatan ini adalah upaya/proses penggalian dari dasar-dasar ilmu tadi sehingga berkembang menjadi/sebuah ilmu yang dituju.

Selamat menyimak pada edisi berikutnya……….

Bersambung………..

                                                                                                      Ddronaalam wiracarita Mahabharata, Drona  atau Dronacharya adalah guru para Korawa dan Pandawa. Ia merupakan ahli mengembangkan seni pertempuran, termasuk dewāstra. Arjuna adalah murid yang disukainya. Kasih sayang Drona terhadap Arjuna adalah yang kedua jika dibandingkan dengan rasa kasih sayang terhadap puteranya, Aswatama.
Kelahiran dan kehidupan awal
Drona dilahirkan dalam keluarga brahmana (kaum pendeta Hindu). Ia merupakan putera dari pendeta Bharadwaja, lahir di kota yang sekarang disebut Dehradun (modifikasi dari kata dehra-dron, guci tanah liat), yang berarti bahwa ia (Drona) berkembang bukan di dalam rahim, namun di luar tubuh manusia, yakni dalam Droon (tong atau guci).

Kisah kelahiran Drona diceritakan secara dramatis dalam Mahabharata. Bharadwaja pergi bersama rombongannya menuju Gangga untuk melakukan penyucian diri. Di sana ia melihat bidadari yang sangat cantik datang untuk mandi. Sang pendeta dikuasai nafsu, menyebabkannya mengeluarkan air mani yang sangat banyak. Ia mengatur supaya air mani tersebut ditampung dalam sebuah pot yang disebut drona, dan dari cairan tersebut Drona lahir kemudian dirawat. Drona kemudian bangga bahwa ia lahir dari Bharadwaja tanpa pernah berada di dalam rahim.

Drona menghabiskan masa mudanya dalam kemiskinan, namun belajar agama dan militer bersama-sama dengan pangeran dari Kerajaan Panchala bernama Drupada. Drupada dan Drona kemudian menjadi teman dekat dan Drupada, dalam masa kecilnya yang bahagia, berjanji untuk memberikan setengah kerajaannya kepada Drona pada saat menjadi Raja Panchala.

Drona menikahi Krepi, adik Krepa, guru di keraton Hastinapura. Krepi dan Drona memiliki putera bernama Aswatama.
Belajar kepada Parasurama
Mengetahui bahwa Parasurama mau memberi pengetahuan yang dimilikinya kepada para brahmana, Drona mendatanginya. Sayangnya pada saat Drona datang, Parasurama telah memberikan segala miliknya kepada brahmana yang lain. Karena tersentuh oleh kesanggupan hati Drona, Parasurama memutuskan untuk memberikan pengetahuannya tentang ilmu peperangan kepada Drona.
Drona dan Drupada
Demi keperluan istri dan puteranya, Drona ingin bebas dari kemiskinan. Teringat kepada janji yang diberikan oleh Drupada, Drona ingin menemuinya untuk meminta bantuan. Tetapi, karena mabuk oleh kekuasaan, Raja Drupada menolak untuk mengakui Drona (sebagai temannya) dan menghinanya dengan mengatakan bahwa ia manusia rendah.

Dalam Mahabarata, Drupada memberi penjelasan yang panjang dan sombong kepada Drona tentang masalah kenapa ia tidak mau mengakui Drona. Drupada berkata, “Persahabatan, adalah mungkin jika hanya terjadi antara dua orang dengan taraf hidup yang sama”. Dia berkata bahwa sebagai anak-anak, adalah hal yang mungkin bagi dirinya untuk berteman dengan Drona, karena pada masa itu mereka sama. Tetapi sekarang Drupada menjadi raja, sementara Drona berada dalam kemiskinan. Dalam keadaan seperti ini, persahabatan adalah hal yang mustahil. Tetapi ia berkata bahwa ia akan memuaskan hati Drona apabila Drona mau meminta sedekah selayaknya para brahmana daripada mengaku sebagai seorang teman. Drupada menasihati Drona supaya tidak memikirkan masalah itu lagi dan ingin ia hidup menurut jalannya sendiri. Drona pergi membisu, namun di dalam hatinya ia bersumpah akan membalas dendam.
Legenda Dronacharya
Legenda tentang Drona sebagai guru besar dan kesatria tak terbatas pada mitologi Hindu saja, namun dengan kuatnya mempengaruhi tradisi sosial India. Drona memberi inspirasi perdebatan tentang moral dan dharma dalam wiracarita Mahabharata.
Bola dan cincin
Drona pergi ke Hastinapura dengan harapan dapat membuka sekolah seni militer bagi para pangeran muda dengan memohon bantuan Raja Dretarastra. Pada suatu hari, ia melihat banyak anak muda, yaitu para Korawa dan Pandawa yang sedang mengelilingi sumur. Ia bertanya kepada mereka tentang masalah apa yang terjadi, dan Yudistira, si sulung, menjawab bahwa bola mereka jatuh ke dalam sumur dan mereka tidak tahu bagaimana cara mengambilnya kembali.

Drona tertawa, dan menasihati mereka karena tidak berdaya menghadapi masalah yang sepele. Yudistira menjawab bahwa jika Sang Brahmana (Drona) mampu mengambil bola tersebut maka Raja Hastinapura pasti akan memenuhi segala keperluan hidupnya. Pertama Drona melempar cincin kepunyaannya, mengumpulkan beberapa mata pisau, dan merapalkan mantra Weda. Kemudian ia melempar mata pisau ke dalam sumur seperti tombak. Mata pisau pertama menancap pada bola, dan mata pisau kedua menancap pada mata pisau pertama, dan begitu seterusnya, sehingga membentuk sebuah rantai. Perlahan-lahan Drona menarik bola tersebut dengan tali.

Dengan keahliannya yang membuat anak-anak sangat terkesima, Drona merapalkan mantra Weda sekali lagi dan menembakkan mata pisau itu ke dalam sumur. Pisau itu menancap pada bagian tengah cincin yang terapung kemudian ia menariknya ke atas sehingga cincin itu kembali lagi. Karena terpesona, para bocah membawa Drona ke kota dan melaporkan kejadian tersebut kepada Bisma, kakek mereka.

Bisma segera sadar bahwa dia adalah Drona, dan keberaniannya yang memberi contoh, ia kemudian menawarkan agar Drona mau menjadi guru bagi para pangeran Kuru dan mengajari mereka seni peperangan. Kemudian Drona mendirikan sekolah di dekat kota, dimana para pangeran dari berbagai kerajaan di sekitar negeri datang untuk belajar di bawah bimbingannya.
Diskriminasi kasta

Sebuah lukisan dari India, tentang adegan saat Ekalawya mempersembahkan ibu jarinya kepada Drona.Ekalawya adalah seorang pangeran muda dari suku Nishadha, yang datang mencari Drona karena minta diajari. Drona tidak mau menerimanya karena ia tidak berasal dari golongan Warna (kasta) kesatria. Ekalawya tidak terkejut, kemudian memasuki hutan, dan ia mulai belajar dan berlatih sendirian, dengan sebuah patung tanah liat menyerupai Drona dan ia sembah. Dengan menyendiri, Ekalawya menjadi kesatria dengan kehebatan yang luar biasa, setara dengan Arjuna. Pada suatu hari, seekor anjing menggonggong saat ia serius melakukan latihan, dan tanpa melihat, sang kesatria menembakkan panah lalu menancap di mulut anjing tersebut. Para Pandawa melihat anjing itu lari, dan heran karena ada yang mampu melakukan perbuatan tersebut. Mereka melihat Ekalawya, yang mengaku bahwa ia adalah murid Drona. Drona kaget karena merasa tidak memiliki murid seperti Ekalawya. Kemudian Ekalawya menjelaskan bahwa setiap hari ia belajar dengan patung yang menyerupai Drona yang ia anggap sebagai guru. Karena merasa prestasi Arjuna akan tersaingi, Drona meminta agar Ekalawya mempersembahkan daksina kepada sang guru sebagai tanda bahwa pelajarannya telah sempurna. daksina yang diminta Drona adalah ibu jari Ekalawya. Ekalawya pun memotong jarinya sendiri sehingga ia tidak bisa lagi menggunakan senjata panah.

Karna yang ingin belajar di bawah bimbingan Drona juga ditolak dengan alasan bahwa Karna tidak berasal dari kasta kesatria. Karena merasa terhina, Karna belajar kepada Parasurama dengan menyamar sebagai brahmana.
Pembalasan terhadap Drupada
Saat para Korawa dan Pandawa menyelesaikan pendidikannya, Drona menyuruh agar mereka menangkap Raja Drupada yang memerintah Kerajaan Panchala dalam keadaan hidup-hidup. Duryodana, Dursasana, Wikarna, dan Yuyutsu mengerahkan tentara Hastinapura untuk menggempur Kerajaan Panchala, sementara Pandawa pergi ke Kerajaan Panchala tanpa angkatan perang. Arjuna menangkap Drupada dan membawanya ke hadapan Drona. Drona mengambil separuh dari wilayah kekuasaan Drupada, dan separuhnya lagi dikembalikan kepada Drupada. Dengan dendam membara, Drupada melaksanakan upacara untuk memohon anugerah seorang putera yang akan membunuh Drona dan seorang puteri yang akan menikahi Arjuna. Maka, lahirlah Drestadyumna, pembunuh Drona dalam Bharatayuddha, dan Dropadi, yang menikahi Arjuna dan para Pandawa.
Pertempuran di Kurukshetra
Saat perang di Kurukshetra berkecamuk, Drona menjadi komandan pasukan Korawa. Ia merencanakan cara yang curang untuk membunuh Abimanyu pada pertempuran di hari ketiga belas.
Kematian Drona
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Yudistira
Sebelum perang, Bagawan Drona pernah berkata, “Hal yang membuatku lemas dan tidak mau mengangkat senjata adalah apabila mendengar suatu kabar bencana dari mulut seseorang yang kuakui kejujurannya”. Berpedoman kepada petunjuk tersebut, Sri Kresna memerintahkan Bhima untuk membunuh seekor gajah bernama Aswatama, nama yang sama dengan putera Bagawan Drona. Bhima berhasil membunuh gajah tersebut lalau berteriak sekeras-kerasnya bahwa Aswatama mati. Drona terkejut dan meminta kepastian Yudistira yang terkenal akan kejujurannya. Yudistira hanya berkata, “Aswatama mati”. Sebetulnya Yudistira tidak berbohong karena dia berkata kepada Drona bahwa Aswatama mati, entah itu gajah ataukah manusia (dalam keterangannya ia berkata, “naro va, kunjaro va” — “entah gajah atau manusia”). Gajah bernama Aswatama itu sendiri sengaja dibunuh oleh Pendawa agar Yudistira bisa mengatakan hal itu kepada Drona sehingga Drona kehilangan semangat hidup dan Korawa bisa dikalahkan dalam perang Bharatayuddha.
Drona dalam pewayangan Jawa
Riwayat hidup Drona dalam pewayangan Jawa memiliki beberapa perbedaan dengan kisah aslinya dari kitab Mahabharata yang berasal dari Tanah Hindu, yaitu India, dan berbahasa Sanskerta. Beberapa perbedaan tersebut meliputi nama tokoh, lokasi, dan kejadian. Namun perbedaan tersebut tidak terlalu besar sebab inti ceritanya sama. Perlu digarisbawahi juga, bahwa kepribadian Drona dalam Mahabharata berbeda dengan versi pewayangan.
Kepribadian
Resi Drona berwatak tinggi hati, sombong, congkak, bengis, banyak bicaranya, tetapi kecakapan, kecerdikan, kepandaian dan kesaktiannnya luar baisa serta sangat mahir dalam berperang. Karena kesaktian dan kemahirannya dalam olah keprajuritan, Drona dipercaya menjadi guru anak-anak Pandawa dan Kurawa. Ia mempunyai pusaka sakti berwujud keris bernama Keris Cundamanik dan panah Sangkali (diberikan kepada Arjuna).
Riwayat
Bhagawan Drona atau Dorna (dibaca Durna) waktu mudanya bernama Bambang Kumbayana, putera Resi Baratmadya dari Hargajembangan dengan Dewi Kumbini. Ia mempunyai saudara seayah seibu bernama Arya Kumbayaka dan Dewi Kumbayani. Ia adalah guru dari para Korawa dan Pandawa. Murid kesayangannya adalah Arjuna. Resi Drona menikah dengan Dewi Krepi, putri Prabu Purungaji, raja negara Tempuru, dan memperoleh seorang putra bernama Bambang Aswatama. Ia berhasil mendirikan padepokan Sokalima setelah berhasil merebut hampir setengah wilayah negara Pancala dari kekuasaan Prabu Drupada.

Dalam perjalanannya mencari Sucitra, ia tidak dapat menyeberang sungai dan ditolong oleh seekor kuda terbang jelmaan Dewi Wilutama, yang dikutuk oleh dewa. Kutukan itu akan berakhir bila ada seorang satria mencintainya dengan tulus. Karena pertolongannya, maka sang Kumbayana menepati janjinya untuk mencintai kuda betina itu. Namun karena terbawa nafsu, Kumbayana bersetubuh dengan kuda Wilutama hingga mengandung, dan kelak melahirkan seorang putra berwajah tampan tetapi mempunyai kaki seperti kuda (bersepatu kuda), yang kemudian diberi nama Bambang Aswatama.

Setelah bertemu Sucitra yang telah menjadi raja dan bergelar Prabu Drupada, ia tidak diakui sebagai saudara seperguruannya. Kumbayana marah merasa dihina, kemudian balik menghina Raja Drupada. Namun Mahapatih Gandamana (dulu adalah Patih di Hastinapura, saat pemerintahan Pandu) menjadi murka sehingga terjadi peperangan yang tidak seimbang. Meskipun Kumbayana sangat sakti ternyata kesaktiannya masih jauh di bawah Gandamana yang memiliki Aji Bandung Bondowoso (ajian ini diturunkan pada murid tercintanya, Raden Bratasena) yang memiliki kekuatan setara dengan seribu gajah.

Kumbayana menjadi bulan-bulanan sehingga wajahnya rusak. Namun dia tidak mati dan ditolong oleh Sangkuni yang bernasib sama (baca sempalan Mahabharata yang berjudul Gandamana Luweng). Akhirnya ia diterima di Hastinapura dan dipercaya mendidik anak-anak keturunan Bharata (Pandawa dan Korawa).
Drona dalam Bharatayuddha
Dalam perang Bharatayuddha, Resi Drona diangkat menjadi Senapati Agung Kurawa, setelah gugurnya Bisma. Ia sangat mahir dalam siasat perang dan selalu tepat menentukan formasi perang. Resi Drona gugur di medan pertempuran oleh tebasan pedang Drestadyumena, putera Prabu Drupada, yang memenggal putus kepalanya. Konon kematian Resi Drona akibat dendam Prabu Ekalaya, raja negara Parangggelung yang arwahnya menyatu dalam tubuh Drestadyumena. Akan tetapi sebenarnya kejadian itu disebabkan oleh taktik perang yang dilancarkan oleh pihak Pandawa dengan tipu muslihat karena kerepotan menghadapi kesaktian dan kedigjayaan sang Resi.

Pelajaran yang dapat diambil dari sini adalah bagaimanapun saktinya sang resi, beliau sangat sayang terhadap keluarganya sehingga termakan tipuan dalam peperangan yang mengakibatkan kematiannya. (dikutip dari wikipedia)

ozawaTanggal lahir: 8 Januari 1986 (umur 23)
Tempat lahir: Hokkaido, Jepang
Ukuran vital: 88(E)-58-86(cm)
35-23-34(inch)
Tinggi: 1.62 m (5 ft 4 in)
Berat: 48 kg
Warna mata: Coklat
Warna rambut: Hitam
Payudara asli: Ya
Golongan darah: A
Etnis: Jepang dan Kanada Perancis
Alias: Miyabi
Official Website
Maria Ozawa ( ,Ozawa Maria), juga dikenal sebagai Miyabi  (lahir 8 Januari 1986; umur 23 tahun), adalah bintang porno Jepang.

 

 Kehidupan dan Karir
Seperti idola pornografi lainnya, Tina Yuzuki dan Anna Ohura, Maria Ozawa memiliki ras campuran. Ibunya adalah orang Jepang dan ayahnya orang Kanada Perancis.

Ozawa mengalami pengalaman seksual pertamanya pada usia 13 tahun dan mempelajari 48 posisi seksual dari buku yang ia beli sendiri. Dia pertama kali melihat AV (adult video/Film Dewasa) dengan melihat beberapa rekaman video yang dimiliki saudara laki-lakinya. Tidak seperti kebanyakan aktris AV, Ozawa tidak diarahkan. Dia pertama kali dikenalkan pada industri AV melalui temannya yang bekerja pada perusahaan AV. Ozawa kemudian tertarik pada industri tersebut, mencari perusahaan yang cocok sampai akhirnya ia menemukan perusahaan B-open, agen model yang disukainya. Dia mengikuti wawancara dengan perusahaan tersebut dan diterima. Ozawa memulai karirnya sebagai model Miyabi untuk situs Shirouto-Teien.com pada Juni 2005, yang menghasilkan beberapa set foto dan Video Hardcore gonzo pendek uang diedarkan dalam format CD-R dan DVD-R. Kemudian Ozawa menandatangani kontrak dengan S1, sebuah perusahaan AV yang memproduksi pornografi hardcore ringan, tampil pertama kali sebagai Maria Ozawa pada 7 Oktober 2005 dengan video New Face – Number One Style. Ozawa ingat saat itu ia sangat gugup selama proses syuting Film AV pertamanya sampai ia tidak mampu menatap wajah lawan mainnya.

Di S1, Ozawa secara teratur muncul dalam video bulanan sampai Februari 2007. Ozawa juga ikut berpartisipasi dalam beberapa video kompilasi S1, termasuk video kontestan “AV Open 2006″, sebuah pameran kompetisi diantara studio pornografi Jepang yang menentukan studio mana yang memiliki omset penjualan paling tinggi. Video Hyper – Barely There Mosaic yang menghadirkan Maria Ozawa, diantara beberapa idola AV lainnya seperti, Sora Aoi, Yua Aida, Yuma Asami, dan Rin Aoki memenangkan juara pertama. Maria Ozawa mengakhiri kontrak dengan S1 pada awal 2007. Bersama dengan Rin Suzuka, Reina Matsushima dan Rin Aoki, mereka kemudian pindah ke perusahaan baru yaitu, Dasdas (DAS). Pada 25 April 2007, Dasdas mengedarkan beberapa video pertama perusahaan tersebut, diantaranya menghadirkan Maria Ozawa. Video-video Dasdas menampilkan adegan pemerkosaan, creampie, urolagnia, enema, dan penyikasaan fisik, tema yang sangat berbeda dari video S1nya.

Pada akhir 2007, ia menandatangani kontrak (tidak eksklusif) dengan Attackers’ , sebuah studio AV yang memiliki spesialisasi pada tema pornografi perkosaan. Pada Juni 2008 ia berpindah studio sekali lagi, berpindah ke studio baru yaitu Ranmaru yang meluncurkan videonya dengan studio tersebut pada 19 Juli 2008. Pada pertengahan 2008 Maria Ozawa melakukan beberapa variasi video dari produser yang berbeda termasuk video lesbiannya yang pertama (W Cast Premium Lesbian) untuk LADYXLADY, sebuah divisi dari studio pornografi Jepang Soft on Demand. Dia akhir September 2008 Maria Ozawa mengeluarkan AV pertamanya yang benar-benar tanpa mozaic atau dengan kata lain tanpa sensor, dengan judul Tora-Tora Platinum 49.

Selain dalam video dewasa, ia juga tampil pada film-film V-Cinema, sebuah buku foto dan beberapa video glamor (“gravure”). Ia juga pernah tampil dalam MTV Jepang, dan di Grup hip hop Yokohama DS455’s untuk lagu “Summer Time in the D.S.C.”.

Pada sebuah wawancara tahun 2007, Ozawa menyatakan bahwa ketertarikannya pada industri film dewasa tetap tinggi, dan dalam lemari videonya hanya terdapat film dewasa saja. Ia mendapat hidup yang layak dari industri ini, tinggal di sebuah apartemen mewah dengan sewa per bulan US$1.682, dan Ozawa mendapat penerimaan minimal $8.000 per bulan. Walaupun begitu, ia mengatakan bahwa ia akan berhenti dari industri AV jika ia terpaksa untuk melakukan hal lain, Ozawa juga mencegah teman-temannya agar tidak bekerja pada Industri AV. Keluarga Ozawa dan temannya sangat menentang dan tidak setuju dengan profesinya. Ketika Ozawa membawa beberapa video AVnya untuk ditunjukkan pada orangtuanya, mereka menolak untuk menontonnya dan mengusirnya keluar dari rumah. (Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas)

“Lantas?” Kebo Benowo menggeleng. “Ide apa kali ini yang bersemayam di benak andika, Dento?”
“Doktrin!”
“Maksudnya?” dahi Kebo Benowo mengkerut.
“Bukankah  siasat  ini berhasil?” sungging Joyo  Dento.  ”Keadaan rakyat Demak Bintoro terpengaruh dan kacau…”
“Ajaran hidup untuk mati itukah?”
“Itulah!”
“Bukankah  mereka sudah menganggap mati itu indah?  Mana  mungkin mereka  menginkan  kedudukan dan memiliki niat  bergabung  dengan kita?”
“Hahahaha…Ki Benowo! Jangan khawatir, bukankah orang-orang yang akan  kita  pengaruhi tidak lain hanyalah masyarakat  miskin  dan bodoh?”
“Benar,”
“Mudah.”

 
***

 

“Syekh  Siti Jenar yang memiliki ilmu sihir itu ternyata  teramat mudah  untuk  saya seret ke hadapan Gusti  Sultan.”  tawa  renyah Pangeran Modang mengurai gemerisiknya dedaunan tertiup angin.

“Dimas, Modang!” kerut Pangeran Bayat. “Tidak mungkin ini terjadi teramat  mudah?”  matanya tidak beranjak dari  wujud  Syekh  Siti Jenar yang terikat dan disered-sered Pangeran Modang.

“Tentu saja, Kakang. Mungkin ilmu sihirnya pada hilang  gara-gara 
berhadapan dengan Kanjeng Sunan Kalijaga yang memiliki ilmu tinggi.”

“Bukankah tempo hari juga yang menghadapi Kanjeng Sunan Kudus?”

“Entahlah…bukankah ketika berhadapan dengan Kanjeng Sunan Kudus masih sempat menghilang dengan sihirnya ketika akan ditangkap?”

“Benar juga?”

“Kenapa andika malah berdebat?” lirik Syekh Siti Jenar. “Bukankah tujuan   andika berdua menangkap saya. Setelah  diberi  kemudahan malah diperdebatkan. Bawalah saya dan hadapkanlah pada Gustimu!”

“Andika menantang!” geram Pangeran Modang.

 

Bersabung…………….

Senja  telah beranjak, meninggalkan dingin bersama malam.  Mereka mulai menyertai Dewi Citraningrum dan Anggoro yang tidak menyerah di kegelapan.

***

“Bunda,”  wajah Pangeran Samudra tampak keruh.  Perlahan  bangkit dari pembaringan, menembus pekatnya malam, untuk kembali menyelinap ke kamar Permaisuri, melalui lorong rahasiah. Semakin tergangu  pertemuannya,  rindu pun semakin menebal.  Hasratpun  semakin menggunung.

Hilir mudik prajurit penjaga dengan senjata lengkap tidak  pernah surut untuk berjaga di samping istana. Namun hanya lorong rahasia yang lengang. Luput dari rasa curiga dan pengawalan. Tiada banyak orang yang mengetahui selain Paduka Raja, Permaisuri dan  pejabat penting.

Langkah leluasa tanpa hambatan, telah mengantar Pangeran  Samudra ke kamar Permaisuri.

Permaisuri  belumlah  tidur, tubuhnya telentang  matanya  menatap langit-langit kamar. Kainnya tersingkap hingga pertengahan  paha, dadanya  naik turun seiring helaan napas. Baju tidur tipis  tidak menghalangi  tonjolan  dibagian dada. Lalu  membalikan  tubuhnya, tengkurap.

Pangeran  Samudra  menghela napas  dalam-dalam  menyaksikan  Dewi Ontrowulan.  Lalu melangkah berat, tenggorokannya terasa  mengering, seiring dengan hasratnya yang mulai bergemuruh di dada.

Sejenak berdiri beberapa jengkal di samping tubuh Permaisuri yang tergolek. Bagian punggung dan pahanya yang terbuka memanggil jiwa Pangeran Samudra untuk mengelana, terbang melayang satukan rasa.

“Akkhhhh…” Permaisuri terusik, terasa punggungnya bagai  ditindih.

“Bunda….”  Pangeran  Samudra  menempelkan  mulut  ditelinganya, bisikannya  menarik  bibir menyentuh telingan  Permaisuri  dengan lembut.

“Pangeran…”  desahnya  lembut menahan geli.  ”…mengapa  nekat datang  kemari? Bukankah situasi masih dalam penyelidikan?”  Permaisuri  tidak beranjak, tidak rela menghindari  kenakalan  putra mahkota.

“Ananda tahu, Bunda.” dadanya tiada antara dengan kulit  punggung Permaisuri, “Namun apalah daya yang bisa….ananda perbuat  menahan cekam sehari saja tidak berjumpa Bunda. Nanda tak sanggup…” tangan kekarnya mengusik bahu Permaisuri.

“…bukankah nanda Pangeran tahu?” tubuhnya  terusik,”…bukankah keputren ini sedang diawasi para prajurit?”

“…nanda  sangat paham betul, Bunda.” Perlahan  menyingkap  kain permaisuri hingga terangkat sebatas pinggang. “…andai  prajurit tahu    ananda    berada   ditempat    terlarang…tentu    nyawa taruhannya…” bergerak pelan.

“…mengapa  Pangeran  melakukannya?”  tangan  lembut  Permaisuri menarik kain Pangeran Samudra hingga lepas, “…tega mengorbankan jiwa demi tempat terlarang…” tubuhnya menahan beban,  tangannya menggapai selimut sekedar mencari pegangan.

“…meskipun  ini  terlarang…” kedua  tangan  Pangeran  Samudra melilit di leher Permaisuri yang merunduk, membiarkan punggungnya menahan beban. “…ananda tidak akan tersentuh hukum selama bunda melindungi…akhhh…” genggamannya semakin erat, seiring  dengan buliran-buliran embun tipis yang berbaur satu.

“…akhhhhh…Pangeran…”  Dewi Ontrowulan tidak  kuasa  menahan beban  hingga  akhirnya terkapar lemas, “…tapi itu  pun  selagi bunda…” lalu membalikan tubuhnya telentang, hingga napas keduanya bertaut.

Bersambung……..

BANDUNG, KAMIS — Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) kembali menghadapi ujian berat. Adegan syur seorang wanita yang disebut-sebut sebagai praja IPDN beredar di internet. Sang siswi ditemani pria yang tak terlihat wajahnya. Adegan syur tersebut beredar dalam bentuk potongan gambar. Di sebuah blog yang memuat gambar tersebut, sang praja disebut berinisial SM dan berasal dari Papua.

Di blog tersebut terdapat 13 gambar, salah satunya adalah foto SM mengenakan seragam IPDN berwarna putih. “Saat kami cek, dia memang praja IPDN angkatan 16,” ujar sumber di IPDN.

Foto-foto syur ini menggambarkan SM telanjang dalam posisi telentang, telungkup, hingga berhubungan intim dengan seorang pria. Sepertinya, SM menikmati hubungan ini. Salah satu gambar menunjukkan, SM dengan mata terpejam memeluk laki-laki yang tidak terlihat wajahnya itu. Perbuatan syur tersebut dilakukan di sebuah kamar.

Rektor IPDN Ngadisah mengaku sudah mendengar berita tersebut, namun belum melihat foto-foto itu. “Saya sudah mendengar kabar, tetapi belum lihat fotonya,” ujarnya, Rabu (4/3).

Menurut Ngadisah, beredarnya foto syur tersebut bisa saja ulah segelintir oknum yang ingin mencemarkan nama baik IPDN. Kendati demikian, pihaknya akan tetap mengusut kabar ini.

Ketika dimintai konfirmasi bahwa wanita di foto syur itu adalah SM, praja angkatan 16, dan berasal Papua, Ngadisah menjelaskan bahwa angkatan 16 sudah lulus dua tahun silam. Jika wanita di foto syur tersebut benar SM angkatan 16 dan dia melakukan perbuatan itu setelah lulus, maka hal itu bukan tanggung jawab IPDN.

“Kalau dia alumni, berarti dia sudah bukan tanggung jawab kami karena sudah menjadi tanggung jawab pemda tempat dia bekerja,” kata Ngadisah.

Kasus foto-foto bugil praja IPDN ini bukanlah yang pertama. Sebelumnya, Inu Kencana, waktu itu masih menjadi dosen IPDN, membongkar praktik tak bermoral di kampus pencetak pamong praja tersebut.

Di depan Ketua Komnas HAM Abdul Hakim Garuda Nusantara, pertengahan 2007, Inu membeberkan foto-foto syur seorang wanita dosen IPDN dengan praja pria. “Bukan maksud saya menyebarkan foto porno. Sebenarnya sudah banyak yang tahu. la (dosen tersebut) pasti tidak akan mengakui itu dirinya karena sama saja membuka kebobrokannya. Dia adalah dosen yang mendampingi praja putri yang mengadu ke Komnas HAM beberapa waktu lalu,” kata Inu.

Wanita yang dimaksud Inu adalah ET, dosen IPDN. Sebelum Inu mengadu ke Komnas HAM, ET dan 10 wanita praja IPDN mengadukan Inu ke Komnas HAM dan MUI terkait dengan isi buku berjudul IPDN Undercover karya Inu Kencana.

Melihat gambar yang disodorkan Inu, Ketua Komnas HAM bertanya, “Dari mana Bapak dapat itu?” Inu menjawab, “Dari praja yang ada di foto tersebut.” Inu mengatakan, praja tersebut berinisial EH. Saat Inu mengadu ke Komnas HAM, menurut Inu, EH telah lulus dan bertugas di Pemda Padang, Sumatera Barat. (Tribun Jabar/tat)

Rincik rincang rincik rincang
aya roda na tanjakan
sidik pisan sidik pisan
nyai teh bogoh ka akang

Cikaracak ninggang batu
laun-laun jadi legok
tai cakcak ninggang huntu
laun-laun nya dilebok

Cikaracak ninggang batu
laun-laun jadi legok
cai …. ninggang ….
laun-laun jadi orok

Kembang cula kembang tanjung
kembang sagala domdoman
rek sabulan rek sataun
moal weleh diantosan

Aya roda na tanjakan
katinggang ku pangpung jengkol
aya randa gogoakan
katinggang ku hulu botol

Jauh jauh manggul awi
nyiar-nyiar pimerangeun
jauh-jauh neang abdi
nyiar-nyiar pimelangeun

Aya listrik di masigit
caangna ka Pabrik Kina
Aya istri jangkung alit
hanjakal teu di calana

Manuk ciung na pisitan
buah nona aratah keneh
dicium kunu kumisan
si nona kalahka jebleh

***

Awan  berlayar rendah di atas bahu puncak Gunung  Lawu.  Matahari berbinar kemerah-merahan, mungkin marah atau terusik dengan suara bising  di tepi hutan. Teriak lantang, dentingan  senjata  begitu nyaring.

Nun  jauh  dari keramaian rakyat negeri  Demak  Bintoro,  berdiri pendopo  megah  terbuat dari kayu jati tidak  berukir.  Halamnnya yang luas dipagari pepohonan sebesar tubuh kerbau, daun rimbunnya menutup langit, pagar hidup dan tumbuh.

Loro  Gempol berdiri di depan para lelaki telanjang  dada,  tubuh kekar  serta  berotot.  Setiap tangan  menggenggam  pedang,  lalu berpasangan saling serang.

Di sudut lain Kebo Benowo berdampingan dengan Joyo Dento, dihada pannya  berdiri pasukan berbaju serba hitam. Tangannya  menghunus keris,  menggenggam  tombak pasukan  sebelahnya,  paling  samping dengan busur di tangan dan anak panah.

“Inilah pasukan gelap sewu!” gumam Kebo Benowo.

“Hanya  saja  kita kekurang satu pasukan lagi?” dahi  Joyo  Dento mengkerut.

“Maksud andika?”

“Kita perlu pasukan berkuda.”

“Kenapa tidak?”

“Persoalannya  kita  harus mengeluarkan modal yang  lebih  besar? Selain  membeli  kuda juga merekrut lagi warga  Demak  yang  siap berjuang bersama kita.”

“Bukankah itu soal mudah, Dento?”

“Maksud aki?”

“Taklukan lagi para rampok dan paksa orang-orang kampung, teruta
ma para pemudanya agar mengikuti kita. Perlu kuda kita  melakukan perampasan…”

“Saya kurang setuju dengan cara demikian, Ki.” Joyo Dento meninggikan  alisnya. “Meski dulu pernah melakukan cara itu. Namun  itu hanya  berlaku  bagi para perampok. Bagi penduduk  kampung  tidak lagi dengan cara kasar.”

“Takutkah andika, Dento?”

“Sama sekali tidak, Ki.”

“Lantas?”

“Tidakkah  aki pikirkan seandainya kita menempuh cara lama  dalam mengumpulkan  orang tidak akan pernah menumbuhkan  rasa  simpati. Apalagi mendukung langkah kita,”
“Haruskah membeli?” tatap Kebo Benowo, “Bukankah kita tidak cukup modal  untuk biaya makan mereka saja mengandalkan uang  dan  emas cipataan?”

“Tidak,”
Bersambung……….

“Lupakanlah masa kecil itu, Anggoro!”

“Hhhhhmmmm…” Anggoro menghela napas dalam-dalam, seraya  benaknya berputar. ‘Biarlah aku tidak memiliki dirimu….tetapi kesempatan  ini  tidak  akan kubiarkan berlalu  begitu  saja…’  lalu tersenyum.

“Jawab, Anggoro! Ditanya malah senyam-senyum sendirian?”

“Baiklah,  Nini.  Saya paham…meski imbalannya  hanya  segenggam emas  tidaklah  soal. Mari akan saya  tunjukan  tempatnya!”  lalu melangkah  mendahului,  diriingi Dewi Citra  Ningrum  yang  sudah tidak sabar.

“Bagaimana pun caranya, saya harus mendapatkan Pangeran Samudra.” gumam Dewi Citraningrum.

Awan  berlayar rendah, mengitari puncak gunung.  Dinginnya  udara pegunungan  meremas tubuh Dewi Citraningrum dan  Anggoro.  Dengan susah payah merangkak menuju puncak. Mencari pertapa sakti.
“Itulah gua resi pertapa!” tunjuk Anggoro.
“Sudah dekat.” wajahnya tampak cerah, meski hari beranjak senja.

“Dekap apanya?” kerucut muka Anggoro, jemarinya menyeka keringat.

“Bukankah sudah tampak dari sini?”

“Hanya tampak…” mukanya keruh, “…saat matahari tenggelam baru kita sampai.”

“Tidak  soal! Bukankah setiap tetesan keringat andika  akan  saya hargai?”

“Heeehhhhmmm…..”  Anggoro menghela napas dalam-dalam,  benaknya mulai terbang bersama angannya. Untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan,  sekedar  melepas hasrat yang  sulit  terwujud  menyunting perempuan yang berjalan pelan disampingnya.
Bersambung……

Oleh Herdi Pamungkas

Angin kematian berhembus semakin kencang. Jerit kematian semakin menjalar, mayat-mayat bergelimpangan, tubuh-tubuh berjatuhan, darah menggenangi Kuru Setra.

“Ayo lawan aku…” teriak Resi Dorna di atas kereta, seraya melepas sepucuk anak panah dari busurnya. Ketika melesat menjadi  ribuan laksana hujan yang turun dari langit, menghantam para  prajurit Pandawa.

Pihak Kurawa tampak gembira, Dursasana menari-nari sembari memainkan pedangnya memenggal kepala para prajurit yang tidak sebanding kemampuan berperangnya. Mereka berjatuhan, bagaikan pohon pisang ditebas petani.

Mahasenapati Resi Drona semakin ganas, menghajar musuh-musuhnya, tiada yang sanggup membendung serangan anak panahnya. Ia Guru  Pandawa dan Kurawa yang memiliki ilmu sriwenda danurwenda dalam  tahapan yang sangat sempurna, sehingga sulit untuk mencari tandinganya.

“Tangkis serangan Resi Dorna, Rayi!” teriak Srinalendra Khresna  selaku sais kereta perang Arjuna.

“Baiklah,  Kakang!” Arjuna, dengan raut muka sedih  melepas  anak panah yang berubah menjadi ribuan menagkis serangan gurunya.

“Kenapa  rayi  terlihat  sedih?”  sudut  mata  Khresna  memicing,  “Bukankah hujan panah Eyang Drona bisa terpatahkan?”

“Meski  demikian,  Kakang. Kita tidak  mungkin  bisa  mengalahkan  Eyang Dorna?” Arjuna mukanya keruh.

“Ya,  tentu saja.” Khresna tersenyum, “Setidaknya hari  ini  rayi  bisa membendung serangan Eyang Dorna. Nanti malam usai  pertempu ran kita atur siasat.

***

Pajar  mulai menyingsing, seiiring dengan teriakan para  prajurit  Hastina dan Indraprahasta, merangsek maju ke tengah-tengah  medan  tempur  Kuru  Setra. Kepulan asap berterbangan  ke  angkasa  dari  tanah yang terusik telapak kaki kuda, serta kereta perang berbaur satu dengan semburan darah para pahlawan.

Mahasenapati Resi Dorna melepas panah-panahnya, hingga  pertempuran  pun  tidak  seimbang. Meski  berkali-kali  Arjuna  menangkis serangannya, namun harus ditebus dengan kematian para prajurit.

Resi  Dorna  meletakan  busur dan anak panahnya  di  atas  kereta perang, seraya mencabut pedang. Bilah pedang di tangan Resi Dorna berkelebatan  menjemput kematian, berbarengan  dengan  langkahnya merangsek  di antara kerumunan prajurit pandawa.  Kematian  malah  terbirit-birit seakan-akan ketakutan melihat sosok sang resi. Menyelinap  di antara riuh rendah, serta sorak sorai para  kurawa  kabar kematian Aswatama putra kesayangan Resi Dorna. Kabar  kematin  terseok-seok  kesana  kemari mengabari sang  Resi  nun  jauh  anaknya bertempur di sudut lain.

“Ajauoooo….” Resi Dorna mencari-cari Yudistira, raja  Indrapra hasta lambang kejujuran sejati.

Yudistira  tampak di atas kereta perang disertai  Khresna  selaku saisnya berputar-putar mendekati Resi Dorna yang tampak  lunglai,  tiada lagi semangat berperang.

“Ajauooo…Yudistira!”  Resi  Dorna mendekati  kereta  Yudistira, 

 ”Nanda Prabu, benarkah Aswatama anaku telah gugur?”

“Be…benar…Eyang…”  terdengar  keras,  ’…namun  itu  gajah  Asuratama’ lanjutnya dalam hatinya.

“O….”  Resi Dorna membalikan tubuhnya, seraya  melepar  pedang. Tubuhnya semakin lunglai.

“Bukankah Eyang yang mengajarkan…kematian bagi seorang  ksatria laksana harum bunga dan kemuliayaan….” ujar Yudistira.

“Yang aku sesalkan bukanlah kematian Aswatama….namun  lenyapnya kejujuran di muka bumi…” lalu duduk bersila di atas tanah  kuru  setra,  seiring dengan datangnya senja, menjemput kepergian  Resi  Dorna  untuk  selama-lamanya.  

Langit pun  ikut  menangis,  hujan  gerimis mengiringi langkahnya menuju ke alam keabadian.

“Keparat!  Mampus  kau  Dorna!” Drestajumena  dengan  sorot  mata beringas  loncat  dari atas kuda membabat leher Resi  Dorna  yang sudah meninggal dengan sabetan pedang.

*** ***

« Newer Posts - Tulisan Sebelumnya »