Oleh Herdi Pamungkas
“Kamu yakin, Jod? Malam ini kita akan merampok ke rumah dr. Delman?” tanya Herman.
“Kenapa tidak, Man?” Jodi geram, tangannya dikepalkan. “Selain aku ingin menguras hartanya, kita juga butuh nyawanya.”
“Kenapa? Sedemikian kejam? Kalau hartanya sudah terkuras tidak perlu kita menghabisinya!” terang Herman. Matanya menatap tajam, pikirannya menerawang pada masa-masa SMA. Mereka bertiga saling bersahabat. Herman. Delman dan Jodi.
“Kamu lupa, Man. dr. Delman penghianat? Aku tidak akan pernah melupakan masa laluku. Dia harus ku habisi malam ini juga.” tangannya yang terkepal dipukulkan ke dinding.
“Itukan masa lalu, aku yakin sekarang dia telah berubah.” Herman menenangkan.
“Berubah apanya? Justru dia yang telah mereguk kebahagiaan dari aku. Kita sekarang hanya rampok kelas coro. Nasib seperti ini bukankah karena si dr. Delman?” sorot matanya memerah.
“Benar juga, Jod?” Herman hanya bisa garuk-garuk kepala, yang kebetulan banyak ketombean. Pantasan gatal.
***
Malam itu tidak terdengar suara bising kendaraan. Langit gulita tanpa dihiasi oleh rembulan apalagi bintang gemintang. Awan pekat menyelimuti seiring dengan turunnya hujan gerimis. Gerimis mengundang rampok.
Herman dan Jodi menyelinap diantara rimbunnya pohon jalan. Mantel bulu dan jas hujan membalut tubuhnya. Setelah memarkir mobil tidak jauh dari rumah dr. delman, mereka bergerak pelan. Kedua matanya mengintai keadaan di sekitarnya.
“Aman, Jod.” bisik Herman.
“Bagus, Man. Pakai topengnya!” perintah Jodi. Tangannya menempelkan topeng diwajahnya.
“Bukalah topengmu…!”
“Berisik! Matikan hp kamu, Man!” ucap Jodi.
“Bukalah..to…!” Herman mematikan hp dengan ringtun yang sangat ironis.
Keduanya mulai bergerak, menyelinap di balik pot bunga dan dinding rumah milik dr. Delman.
Keduanya kini telah berhasil memasuki ruang tengah milik dr. Delman. Matanya yang tajam mengintai keadaan dalam ruangan.
“Mana kamarnya?” tanya Jodi.
“Tuh, yang depan! Kamu mau ngerampok atau membantai dr. Delman?” Herman menatap Jodi, yang telah bergerak pelan menuju sebuah kamar.
“Dua-duanya.” ujar Jodi, kakinya menendang pintu kamar. Kamar terbuka.
“Rampok!” teriak dr. Delman dan istrinya setelah menatap orang bertopeng berdiri di lubang pintu kamarnya.
“Celaka!” Herman grogi. “Jodi kita lari! Mereka ternyata belum pada tidur.”
***
Jodi dan Herman melarikan diri dari kejaran aparat. Mereka tidak menggubris tembakan peringatan. Jodi, menginjak pedal gas sekuat tenaga, menghindari kejaran mobil aparat.
Suara serine yang khas mengusik malam yang tadinya hening. Tembakan pistol aparat kini mulai diarahkan pada mobil yang dikendarai rampok.
“Ah, gawat!” Herman berteriak panik.
“Apanya yang gawat, Man?” tanya Jodi, yang memegang setir seakan-akan tidak terkendali.
“Ban belakang kayaknya pecah kena tembakan?” tangan Herman mulai membukakan pintu, niatan untuk loncat.
“Akhhhh…” Jodi tidak sempat loncat, tidak ayal lagi mobil menghantam pembatas jalan.
Prak, kaca depan pecah. Tubuh Jodi terhimpit, setir mobil menghantam dadanya hingga merontokan tulang-tulangnya. Nafasnya terhenti menyengal, sekujur tubuhnya mendadak kaku dalam himpitan.
“Eeh, kenapa tubuh ini?” ujar Jodi. Rasa kagetnya belum juga hilang, aparat sudah pada mendekat ke lokasi kecelakaan.
“Bagaimana Sersan?” tanya Iptu Koko.
“Kayaknya dia sudah meninggal, Pak.” Sersan Dadu memeriksa nadi Jodi yang sudah terhenti.
“Cepat panggil ambulans dan keluarkan dia dari himpitan!” perintah Iptu. “Temannya dimana?”
“Dia tertembak kakinya. Sekarang sudah diamankan.” jawab Sersan Dadu.
***
“Tubuhku kenapa tidak bisa digerakan?” desis Jodi. “Aparat berhasil mengeluarkan tubuhku dari himpitan. Tidak, aku tidak mau tertangkap. Kenapa mereka membawaku ke dalam mobil ambulans?” Jodi semakin kebingungan.
Jodi tidak bisa berbuat banyak selain menatap juru rawat yang mengangkat tubuhnya ke atas blankar dan memasukannya ke dalam mobil ambulans. Di belakang ambulans tampak mobil aparat yang telah berhasil mengikat kedua tangan Herman.
“Kenapa Herman tertangkap? Aku harus lari dan membebaskan dia. Kenapa tidak bisa? Kenapa aku harus berbaring dalam mobil ambulans ini. Aku harus membunuh dr. Delman. Bukan berbaring seperti sekarang?” gumamnya.
“Perawat, keluarkan aku dari ambulans ini!” Jodi berteriak. “Brengsek, kenapa tidak menjawab aku?”
Perawat yang duduk dibelakang tetap saja berbincang-bincang dengan temannya, seakan-akan tidak peduli pada teriakan Jodi.
Mobil ambulans, akhirnya sampai ke Rumah Sakit. Tubuh Jodi dikeluarkan untuk diautopsi, selanjutnya dibawa ke kamar mayat.
“Perawat, kenapa aku dimasukan ke kamar mayat?” Jodi bertanya. “Eh, ditanya malah pergi!” Jodi menatap perawat yang telah meninggalkan ruangan. Pintu kamar mayatpun ditutup dari luar.
“Keparat! Kenapa aku dibiarkan terbaring diruangan ini?” matanya menatap ke setiap sudut ruangan. Betapa terkejutnya Jodi. “Eeh, mayat-mayat?”
“Aku harus keluar dari ruangan ini! Aku kenapa disatukan dengan mayat-mayat? Aku belum mati. Aku harus membunuh dr. Delman.” Jodi seraya ingin bangkit. Namun tubuhnya tetap terbaring kaku. Kini Jodi mulai menatap sekujur tubuhnya yang berlumuran darah, tulang dadanya patah semua, hingga menusuk jantung akibat terhantam setir mobil yang dilarikannya.
“Akukah itu? Apa yang telah terjadi? Bukankah aku sedang kejar-kejaran dengan mereka?” Jodi mengerutkan dahinya.
***
“Jasad, penjahat ini segera keluarkan dan ambil kornea mata serta ginjalnya. Mumpung masih segar, selamatkan pasien.” dr. Delman memerintahkan pada perawat agar membawa jasad Jodi ke ruang operasi.
“Si Brengsek Delman masuk ke kamar mayat. Mau apa kamu?” Jodi geram ketika melihat dr. Delman masuk.
Jasad jodi dibawa ke ruang operasi. Di sana telah menanti dr. Delman dan dua temannya unuk mengambil ginjal dan kornea matanya. Mereka telah menyiapkan pisau operasi, gunting dan yang lainnya.
“Mau apa mereka?” Jodi menatap dr. Delman dan teman-temannya.
“Kita ambil ginjal dan kornea mata orang ini.” ujar dr. Delman pada temannya. Tangannya mulai mengangkat pisau operasi.
“Brengksek, Delman! Kamu mau menorehkan pisau pada bagian tubuhku. Jangaaannnnn!” Jodi berteriak.
Namun seorangpun tidak ada yang mendengar teriakannya. Hanya teman dr. Delman yang mengamati wajah Jodi kaget.
“Lho, air dari mana?”
“Ada apa, dok?” tanya dr. Delman pada temannya.
“Air dari AC kah yang menetes pada matanya?”
“Lho, tidak ada air yang menetes disini.” dr. Delman mulai menorehkan pisau operasi pada bagian tubuh Jodi.
“Delman, keparat! Kubunuh kau!” teriak Jodi, rasa takut mulai menyelimuti. Orang yang dibencinya akan merobek-robek jasadnya dengan pisau operasi.***
Bandung, 20 April 2007
huh ironis sekali
dendam yang menuntun maut