Oleh Herdi Pamungkas
Dendam semakin berkarat dalam hati Jack. Selalu mencari waktu dan saat yang tepat untuk membalasnya. Jack berkali-kali masuk penjara, bisa bebas berkat bantuan tuannya.
“Ini kali terakhir aku dalam penjara,” desisnya. “Tidak akan lama lagi aku dibebaskan.” Jack, memegang jarum suntik. Pelan ditusukan kebagian tangannya. Serasa tubuhnya melayang bagaikan diawang-awang. Menelesuri awan jingga berlapis-lapis laksana singgasana para dewa, serta para bidadari menyapanya dan tersenyum.
***
Sepucuk surat diterima Jack dari balik jeruji. Mengabarkan Tuanya tertembak di Afganistan. Wajah Jack langsung murung, dahinya mengerut.
“Keparat! Lalu bagaimana aku balas dendam? Bagaimana aku keluar dari jeruji ini?” Jack memijit-mijit dahinya, mulai terasa pening.
“Jack, apa kabar?” Sipir Don mendekat, setelah membuka pintu jeruji, tangannya yang kekar merenggut leher baju Jack. “Kini tidak ada lagi yang akan membantumu keluar dari jeruji, sepantasnya kamu mendekam dan mampus disini!”
“Brengsek!” Jack mengelakan tangan lawan.
“Diam, Kau!” Sipir Don mendorong tubuh Jack hingga terbanting ke dinding tembok penjara.
“Bedebah kamu, Don! Kuhabisi kau disini!” Jack segera berdiri tegap dan siap menyerang.
Drek, kepalan tangan Jack mengantam pintu penjara yang dibanting Sipir Don. Lalu di kunci dari luar.
“Mengeranglah kau disitu, tinggal menunggu vonis hukuman mati.” Sipir Don pun tertawa sambil pergi.
“Jahanam!” Jack geram, kepalan tangan kanannya terasa sakit gara-gara menghantam pintu jeruji penjara.
Jack duduk disudut ruang tahanan, seraya memutar pikiran harus keluar dari penjara dan balas dendam.
Pikirannya mulai menerawang pada kejadian yang membuat hatinya tertekan dan menyimpan dendam membara. Gray Pedro, yang semula dianggapnya dewa penolong namun pada akhirnya menghancurkan kehidupan keluarganya. Memperkosa Istrinya dan memberikannya pada srigala lapar sesama keparat, hingga akhirnya bunuh diri. Lalu menjual anak gadisnya, sampai kini tidak ditemukan lagi.
“Pedro, tunggu pembalasanku. Kamu pula yang selalu berhinat dan menggiringku ke dalam penjara.” geramnya.
Jack, memutar lagi otaknya. Keringat dingin mulai bercucuran dari dahinya yang dikerutkan, mencari cara untuk keluar dari dinding pengap berjeruji besi.
Tidak lama kemudian pintu jeruji berderit, buyarkan Jack dari berpikir keras. Lalu matanya menatap sosok yang datang.
“Beraninya kau menatapku seperti itu!” Lelaki bertubuh kekar mendekat dan mecekiknya.
“Kamu lagi!” Jack geram, setelah jelas pada sosok yang datang. “Apa maumu, Don?” tanya Jack, seraya melepas cekikan sipir Don.
“Aku hanya ingin menolongmu agar bisa keluar dari jeruji ini,” ujar sipir Don.
“Tumben kau ingin membantuku?” Jack menyeringai.
“Aku tidak sangka, meski tuanmu sudah tertembak mati. Ternyata kakitangannya masih mempedulikan kau untuk bebas.” Sipir Don mencengkram leher Jack dan mendekatkan mulut ke wajahnya.
“Bagus, berarti kau masih punya penghasilan tambahan. Cepat! Beri tahu aku jalan mana yang aman untuk melarikan diri!” Jack membuka cengkraman sipir Don dengan kedua tangannya.
“Tentu saja jalan yang biasa, bedebah!” sipir Don membanting Jack ke pintu jeruji.
“Brengsek!” Jack berusaha bangun lalu mendobrak pintu penjara yang tidak dikunci. Setelah itu melarikan diri usai mengunci pintu penjara dari luar.
“Tolong, tahanan kabur!” sipir Don berteriak setelah Jack menghilang dari pandangannya. Alarm pun berbunyi petugas berhamburan, sebagian mencari Jack dan sebagian lagi membebaskan sipir Don yang terkurung.
***
“Akhirnya aku bebas juga!” Jack telah merasa aman dan melangkah tenang menuju jalan tempat biasa tuannya menjemput.
Pandangan matanya tertuju ke sebrang jalan, mobil hartop yang biasanya menjemput telah menunggu. Lalu Jack berlari dengan gembira ke arah penjembut.
Diluar dugaan mobil itu bergerak untuk menabraknya, Jack terkejut. Segera membalikan tubuh dan menghindar. Mobil terus mengejar, dibarengi beberapa tembakan, seraya terdengar suara yang menertawakannya.
“Bodoh! Tuanmu telah ku bunuh. Sekarang giliranmu akan ku antar ke neraka.” tawa renyah pengendara hartop mengingatkan Jack pada suara musuh besarnya. Lalu membalikan tubuh.
“Gray Pedro?” Jack tertegun. Mobil pun melaju kencang lalu menghantam tubuh Jack hingga terpental beberapa meter dan berguling-guling di antara semak belukar di bibir tebing. Tubuhnya membentur batu padas yang berserakan di dasar tebing, sejenak Jack merasa gelap dan kehilangan kesadaran. Kepalanya pecah, darah bercampur isi kepala membasuh batu padas, tulang belulangnya remuk. Tubuhnya telentang kaku.
Jack terbangun, terasa lebih ringan. Lalu loncat dari kedalaman jurang, lebih gesit dan ringan seperti terbawa angin.
“Keparat, Gray Pedro!” Jack berdiri di tengah jalan menghadang mobil yang dikendarai musuh bebuyutannya.
“Tuan dan anjingnya sudah mampus. Bisnisku tidak ada lagi saingan,” Gray Pedro menginjak pedal gas dan menubruk Jack yang menghadang jalan.
“Kenapa dia tidak melihat aku? Bahkan menganggapku telah mati? Kenapa?” Jack menatap mobil yang di kendarai Gray Pedro yang melaju kencang. Tidak paham akan kejadian yang menimpa dirinya. ***
Bandung, 24 Desember 2007



huh ironis sekali
dendam yang menuntun maut
Hi Maya, salam kenal
tragids nian….