Oleh Herdi Pamungkas
“Ketika sang raja merasa sangat berkuasa, sudah tentu akan menghalalkan segala cara demi terlaksananya setiap jengkal keinginan. Rakyat akan menderita dan semakin miskin. Dari mana lagi mereka mendapatkan kekayaan kalau bukan dengan jalan menekan rakyatnya; upeti akan dinaikan berkali lipat, wanita persembahan, yang menentang akan dibungkam.”
“O, demikiankah? Artinya penguasa itu telah mengambil hasil keringat rakyatnya sendiri demi kemakmuran dirinya dan sesamanya. Apa yang diberikan mereka pada rakyat?”
“Coba apa yang andika rasakan sekarang?”
“Tidak ada rasanya. Saya memiliki emas ini hasil keringat saya beserta pengikut setia. Rakyat jelata bisa makan dan minum hasil keringat sendiri dengan jalan bercocok tanam, selain berdagang.” lelaki itu gelengkan kepala. “Benar sangat Ki Donoboyo. Mereka yang bergelimang kekayaan di balik tembok megah dan angkuh hanya bisa berkelakar. Apa sesungguhnya yang mereka perbuat hanyalah untuk kesenangan raja beserta pengikut setianya. Di luar istana masih banyak rakyat melarat, kelaparan.”
“Itulah arti kekuasaan.” geram Ki Chantulo. “Sangat maklum andai Ki Ageng Pengging melengserkan diri.”
“Sudahlah Ki Chantulo.” lirik Kebo Kenongo. “Itu sudah menjadi tekad saya untuk hidup berbaur dengan rakyat tanpa tembok pembatas. Yang telah membatasi saya dengan rakyat untuk berbagi. Menjauhkan saya serta terciptanya jarak yang memaksa rakyat untuk menghormati saya, dipisahkan pula dengan hak istimewa, raja harus dibentengi para pengawal. Padahal apa istimewanya saya di hadapan Gusti Alloh seandainya tidak bisa membantu mensejahterakan rakyat, apalagi rakyat semakin menderita gara-gara saya berkuasa. Lalu bagaimana ketika saya harus berhadapan dengan rakyat dalam pengadilan Alloh?” menarik napas dalam-dalam.
“Saya tidak paham dengan apa-apa yang kalian perbincangkan.” lelaki itu memijit-mijit keningnya. “Saya masih harus banyak belajar dari kalian tentang ajaran Syekh Siti Jenar yang begitu mulia. Pendapat saya.”
Sejenak hening, desir angin mengusik dedaunan, menggerak-gerakan jubah ketiga murid Syekh Siti Jenar. Roda pedati, beradu keras dengan suara terompah mereka. Semakin mendekati gapura perkampungan Pengging, dari jarak belasan tombak wajah sederhana telah tampak. Gubuk-gubuk berdinding anyaman bambu, bertiang kayu, beratap anyaman daun kelapa yang dilapisi jerami tersusun rapih.
“Sangat sederhana,” gumam lelaki brtubuh gempal. “Tidakkah penduduk kampung ingin menjadi orang kaya?”
Belumlah kering mulut lelaki gempal, mata mereka berusaha ingin menangkap kelebatan bayangan. Gerakannya menyatu dengan angin senja, warna lembayung jingga membungkus jubah merahnya yang semakin menyala. Tubuh ramping, ceking berbalut jubah longgar semakin mendekat berjarak beberapa anak panah.
Dalam jarak dua anak panah berhenti, sorot mata tajam menancap pada mereka, sejenak terpaku dalam tatap. Hanya Kebo kenongo yang menandingi, tiap pendaran ketajaman dapat dipatahkan, berkeping-keping.
“Ki Ageng,” meleleh. “Ilmu bhatin Ki Ageng meluluhlantakan semuanya. Saya tidak sanggup lagi menembus dinding bhatin yang Ki Ageng tanam.”
bersambung……



siap nyimak lg boz