Oleh Herdi Pamungkas “Saya tidak paham apa yang andika katakan?” gelengkan kepala. Ki Chantulo belumlah kembali berujar, kepalanya menunduk,lalu mendongak pelan. Batinnya, mungkinkah orang yang baru saja percaya akan adanya Tuhan bisa memahami ilmu yang bertingkat tentang hakikat? Sementara mengenal juga baru akan? “Mengapa andika diam?” liriknya. “Nanti kita lanjutkan,” langkahnya mendahului. “Lagian kita sudah [...]
Arsip untuk Oktober, 2011
Syekh Siti Jenar Menyatu dengan Dzat (Ajal) 123
Diposkan dalam Cerber pada Oktober 30, 2011 | Tinggalkan sebuah Komentar »
Syekh Siti Jenar Menyatu dengan Dzat (Ajal) 122
Diposkan dalam Cerber pada Oktober 26, 2011 | 3 Komentar »
Oleh Herdi Pamungkas “Ah, bhatin saya belumlah sehebat Ki Ageng. Tidak mengapa seandainya Ki Ageng dan lainnya tidak ke Khendarsawa, izinkanlah saya.” berbalik tanpa menunggu jawaban, berkelebat menyatu dengan angin senja. “Secepat angin?” gumam lelaki bertubuh gempal tak berkedip. Ki Canthulo dan Ki Donoboyo melempar tatap ke arah Kebo Kenongo, setelah Ki Lontang menghilang dari [...]
Syekh Siti Jenar Menyatu dengan Dzat (Ajal) 121
Diposkan dalam Cerber pada Oktober 9, 2011 | 5 Komentar »
Oleh Herdi Pamungkas “Selamat datang, Ki Lontang.” tatapnya menyejukan. “Tidak juga, malah kisanak yang tidak pernah berubah selalu ingin mendalami bhatin orang lain. Tampaknya kisanak dalam keadaan marah memasuki Pengging?” “Ki Ageng, bisa menembus bhatin saya. Kenapa saya tidak?” gelengkan kepala. “Saya selalu berada dibawah Ki Ageng.” “Siapa dia Ki Ageng?” tatap lelaki bertubuh gempal. [...]
Pantun Anak
Diposkan dalam Pantun Anak pada Oktober 7, 2011 | 1 Komentar »
Jika ingin makan kupat jangan lupa bagi-bagi jika gigi ingin sehat mesti rajin gosok gigi Dulu delman sekarang bendi masak gule dikuali bangun tidur terus mandi tidak lupa gosok gigi Jika hendak beli mistar belinya ke batu jajar jika ingin jadi pintar hendaklah rajin belajar Jalan-jalan naik dokar sambil makan nasi uras [...]
Syekh Siti Jenar Menyatu dengan Dzat (Ajal) 120
Diposkan dalam Cerber pada Oktober 3, 2011 | 1 Komentar »
Oleh Herdi Pamungkas “Ketika sang raja merasa sangat berkuasa, sudah tentu akan menghalalkan segala cara demi terlaksananya setiap jengkal keinginan. Rakyat akan menderita dan semakin miskin. Dari mana lagi mereka mendapatkan kekayaan kalau bukan dengan jalan menekan rakyatnya; upeti akan dinaikan berkali lipat, wanita persembahan, yang menentang akan dibungkam.” “O, demikiankah? Artinya penguasa itu telah [...]


