Oleh Herdi Pamungkas
“Benar itu, Kisanak.” tatapnya. “Mengapa batangan-batangan ini tidak pernah membuat saya puas. Hanya pada awalnya kepuasaan itu tiba—setelah menjadi kebiaasan dan bukan lagi hal aneh semuanya tinggal gapaian angan-angan, semakin hari semakin menggunung. Semakin dikejar-semakin tak berasa. Semakin banyak yang tersimpan semakin dalam disembunyikan—semakin ketakutan diketahui orang yang memiliki niat merampoknya. Hingga saya memutuskan untuk melenyapkan semuanya—karena membuatnya saya bersusah payah mencurigai banyak orang, termasuk mereka yang pernah saya beri kepercayaan untuk menjaganya. Terkadang timbul pikiran, tentu pada suatu saat akan berhianat. Meski pun sebetulnya mereka setia. Perasaan takut dihianati selalu menghantui.”
“Bukankah ketika bersyahwat untuk memiliki sesuatu akan selalu mengejarnya, hingga yang diinginkan itu teraih. Maka ketika telah tercapai bukankah hanya sesaat merasakan bangganya atas capaian tadi, setelah itu biasa lagi.”
“Ya, puncaknya seperti yang saya kemukakan tadi.” menumpuk kembali jerami dan kayu bakar di atas batangan emas dalam pedati. “Mengapa kisanak tidak menginginkan kekayaan seperti kebanyakan orang?”
“Saya tidak ingin terjebak dalam kepalsuan dan kebodohan.”
“Ketahuilah Kisanak!” potong Ki Chantulo. “Tahukah andika siapa yang sebetulnya diajak bicara?”
“Bukankah andika ini para muridnya Syekh Siti Jenar?”
“Benar, tetapi yang saya maksud, beliau!” menunjuk dengan lirikkannya. “Beliau ini Ki Ageng Pengging…”
“Saya tahu kalau nama itu. Bukankah Ki Ageng Pengging itu seorang Adipati, lihatlah kemegahan bangunan kadipaten serta kekayaannya. Mengapa Ki Ageng yang saya kenal sangat bersahaja?”
“Beliau telah melepaskan diri dari kemegahan, harta, serta tahta.”
“Sudahlah, Ki Chantulo.” tatap Kebo Kenongo.
“O, andai demikian saya baru paham akan Ki Ageng. Pantas memahami apa yang saya rasakan. Tidak salah rasanya saya belajar hidup miskin…”
“Miskin dan bersahaja itu berbeda, Kisanak.” timpal Ki Donoboyo.
“Apa perbedaannya?”
“Orang yang merasa miskin itu akan selalu memiliki perasaan kurang dan kurang, sehingga terus berusaha memperkaya diri. Meskipun secara kasat mata telah memiliki segalanya.”
“Benar yang andika katakan. Saya pun tidak pernah merasa puas meskipun kata orang memiliki segalanya. Makanya sekarang saya ingin seperti kalian meskipun tidak kaya tetapi tampak bahagia. Benarkah itu?”
“Ketahuilah, bahagia itu fitrah setiap manusia. Sedangkan tahta, ilmu, dan kekayaan tidak dimiliki setiap orang. Andai saja andika memiliki dari ketiga hal atau salah satunya, tetapi tidak merasakan bahagia, padahal bahagia itu fitrah setiap manusia. Maka perlulah bersedih.” terang Kebo Kenongo. “Bukan kemiskinan yang perlu ditangsi, belum tentu yang menurut andika miskin hatinya tidak bahagia?”
“Lalu mengapa orang mencari itu semua?”
“Mereka mengejar kakayaan ingin bahagia. Padahal ilmu, harta, tahta bukan sumber bahagia. Tetapi alat untuk jadi bahagia. Yang namanya alat andai tidak tepat menggunakannya, mungkinkah bisa dirasakan manpaatnya?”
“Tidak,”
“Ya, itulah yang terjadi.”
“Benar, Ki Ageng.” turun dari pedati, berjalan beriringan, tangannya memegang tali kekang. “Saya akhirnya tidak heran andai Ki Ageng melepas jabatan. Ketika orang memiliki jabatan ditangannyalah segala kebijakan. Bebas berbuat sekehendak hati, kekuasaan bertumpu pada tangannya. Siapa yang akan berani menentang? Meski berusaha keras untuk mendapatkan segalanya, bermegah-megah, berpoya-poya sekali pun.”
“Ingatlah, prilaku demikian bisa merugikan rakyat.” lirik Ki Donoboyo.
“Maksudnya?”
bersambung……


