Pengumpan:
Tulisan
Komentar

Arsip untuk September, 2011

Oleh Herdi Pamungkas “Benar itu, Kisanak.” tatapnya. “Mengapa batangan-batangan ini tidak pernah membuat saya puas. Hanya pada awalnya kepuasaan itu tiba—setelah menjadi kebiaasan dan bukan lagi hal aneh semuanya tinggal gapaian angan-angan, semakin hari semakin menggunung. Semakin dikejar-semakin tak berasa. Semakin banyak yang tersimpan semakin dalam disembunyikan—semakin ketakutan diketahui orang yang memiliki niat merampoknya. Hingga [...]

Untuk mentranslate bahasa

Syekh Siti Jenar Menyatu dengan Dzat (Ajal) 118

Oleh Herdi Pamungkas Perkampungan Pengging semakin larut dalam untaian irama senja, para petani sudah kembali dari ladang dan sawah arungi jalan yang berkelok-kelok dinaungi bayang-bayang keemasan. Ketiga murid Syekh Siti Jenar beriringan melintasinya, menuju gubuk kecil di sudut perkampungan. Tiada lagi bayangan Kadipaten Pengging yang penuh dengan kemegahan serta serba berkecukupan, semuanya telah dijauhi. Mereka [...]

Untuk mentranslate bahasa

Oleh Herdi Pamungkas “Percaya, Gusti Alloh itu ada,” lelaki itu memecah keheningan. “Hanya sayang saya memiliki keterbatasan dalam menjangkaunya?” raut mukanya kecewa dan sedih. “Mengapa andika percaya akan adanya Gusti Alloh?” “Saya telah berpikir bolak-balik apa yang andika uraikan tadi, sehingga saya berkesimpulan; Gusti Alloh itu ada—karena tidak mungkin ada ciptaan-Nya jika tidak ada yang [...]

Untuk mentranslate bahasa

Oleh Herdi Pamungkas “Baiklah. Indahnya pegunungan bisa andika jangkau dengan penglihatan, adanya angin bisa andika rasakan dengan kulit, harumnya bunga bisa andika tangkap dengan penciuman…” “Ya, tentu karena ada.” “Bukankah menurut andika yang ada itu hanya bisa dijangkau dengan penglihatan?” “Awalnya memang begitu, ternyata tidak selalu bisa dijangkau dengan penglihatan seperti yang andika katakan tadi. [...]

Untuk mentranslate bahasa

Syekh Siti Jenar Menyatu dengan Dzat (Ajal) 115

Oleh Herdi Pamungkas “Tidak ada sesuatu yang terjadi dengan sendirinya.” senyum Ki Donoboyo, “Andika memiliki pedati?” “Ya,” “Apakah dengan tiba-tiba ada?” “Tentu tidak, anak kecil juga tahu. Masa pedati jadi sendiri tanpa ada yang membuat?” “Tidak mungkin bukan?” “Ya, iya…” “Siapa yang membuatnya?” “Teman saya…” “Pedati saja dibuat teman andika apalagi bintang yang jauh di [...]

Untuk mentranslate bahasa

Syekh Siti Jenar Menyatu dengan Dzat (Ajal) 114

Oleh Herdi Pamungkas “Sudah diam!” geram Ki Donoboyo, “Jika ingin bertarung majulah! Percumah saja berdebat dengan andika yang teramat dungu. Bicaralah dengan kadigjayaan, ilmu apa yang sesungguhnya ingin dipertontonkan pada kami?” “Haha, bertarung itu mudah.” dengan senyum terpaksa, “Saya hanya ingin menjajal ilmu kalian tentang Gusti Alloh.” “Menjajal?” geram Ki Donoboyo. “Betapa angkuhnya andika, Kisanak? [...]

Untuk mentranslate bahasa

NGAJI BAGONG (1)

Ku Herdi Pamungkas   Disebutkeun pilemburan da  geus kabanasabon ka kota najan rada nyingcet oge. Kahirupannana oge katularan ku perilaku urang kota, sok sanajan ari kebon jeung gunung mah eta oge aya. Ngan patani teu sagemblengna bisa melak pare di sawah kawas jaman revolusi, kiwari mah di sagigireun pare nu jadi teh mucunghul supermarket, mall, [...]

Untuk mentranslate bahasa

Oleh Herdi Pamungkas Ketiganya mematung di tepi jalan perkampungan Pengging, menyatu dengan hembusan angin. Nafasnya menyambangi beragam bebauan, selain pepohonan, juga lalu-lalang para petani yang beranjak dari ladang dan sawah. Roda pedati melaju pelan ditarik sepasang kerbau, ditunggangi lelaki bertubuh gempal, tinggi besar. Matanya yang beringas kemerah-merahan memandang tajam Kebo Kenongo serta kedua rekannya. “Haha…mungkin [...]

Untuk mentranslate bahasa

Oleh Herdi Pamungkas “Andai saya telah mengambil jalan kesempurnaan itu. Temuilah taqdirmu di Tingkir…” “Sekarang saya harus menemui Ki Ageng Tingkir?” “Bukan, cermatilah perkataan saya tadi. Sekarang kembalilah ke tempat andika berada.” Sejenak Joyo Dento mencoba mengunyah setiap perkataan Kebo Kenongo, meskipun tidak semuanya bisa dicerna. Setidaknya dirinya telah mendapat pencerahan, walau masih perlu untuk [...]

Untuk mentranslate bahasa

Oleh Herdi Pamungkas “Kepura-puraan?” Ki Chantulo mengayunkan langkah pelan mengiringi. “Kebanyakan manusia lebih menyukai kebohongan ketimbang kejujuran…” “Bukankah tidak berharap untuk dibohongi?” “Tidak, tetapi disukai.” mematung di tepi jalan. “Lihat! Penunggang kuda menuju kemari…” “Mungkinkah utusan Demak untuk menangkap kita?” “Rasanya saya mengenal dia?” “Dari Majapahit?” “Bekas abdi….dia prajurit…” “Ki Ageng,” turun dari punggung kuda [...]

Untuk mentranslate bahasa

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.