Rincik rincang rincik rincang
aya roda na tanjakan
sidik pisan sidik pisan
nyai teh bogoh ka akang
Cikaracak ninggang batu
laun-laun jadi legok
tai cakcak ninggang huntu
laun-laun nya dilebok
Cikaracak ninggang batu
laun-laun jadi legok
cai …. ninggang ….
laun-laun jadi orok
Kembang cula kembang tanjung
kembang sagala domdoman
rek sabulan rek sataun
moal weleh diantosan
Aya roda na tanjakan
katinggang ku pangpung jengkol
aya randa gogoakan
katinggang ku hulu botol
Jauh jauh manggul [...]
Arsip untuk Februari, 2009
Sisindiran, Pantun Sunda
Diposkan dalam Sisindiran pada Februari 26, 2009 | 15 Komentar »
Syekh Siti Jenar Menyatu dengan Dzat (Ajal) 88
Diposkan dalam 1 pada Februari 10, 2009 | 1 Komentar »
***
Awan berlayar rendah di atas bahu puncak Gunung Lawu. Matahari berbinar kemerah-merahan, mungkin marah atau terusik dengan suara bising di tepi hutan. Teriak lantang, dentingan senjata begitu nyaring.
Nun jauh dari keramaian rakyat negeri Demak Bintoro, berdiri pendopo megah terbuat dari kayu jati tidak berukir. Halamnnya yang luas dipagari pepohonan sebesar tubuh kerbau, daun rimbunnya menutup [...]
Ritual Sex (Kisah Cinta Terlarang Sang Pangeran dan Permaisuri)64
Diposkan dalam Dewasa pada Februari 2, 2009 | 1 Komentar »
“Lupakanlah masa kecil itu, Anggoro!”
“Hhhhhmmmm…” Anggoro menghela napas dalam-dalam, seraya benaknya berputar. ‘Biarlah aku tidak memiliki dirimu….tetapi kesempatan ini tidak akan kubiarkan berlalu begitu saja…’ lalu tersenyum.
“Jawab, Anggoro! Ditanya malah senyam-senyum sendirian?”
“Baiklah, Nini. Saya paham…meski imbalannya hanya segenggam emas tidaklah soal. Mari akan saya tunjukan tempatnya!” lalu melangkah mendahului, diriingi Dewi Citra Ningrum yang sudah [...]
Tiada lagi Kejujuran……..
Diposkan dalam cerpen pada Februari 2, 2009 | Leave a Comment »
Oleh Herdi Pamungkas
Angin kematian berhembus semakin kencang. Jerit kematian semakin menjalar, mayat-mayat bergelimpangan, tubuh-tubuh berjatuhan, darah menggenangi Kuru Setra.
“Ayo lawan aku…” teriak Resi Dorna di atas kereta, seraya melepas sepucuk anak panah dari busurnya. Ketika melesat menjadi ribuan laksana hujan yang turun dari langit, menghantam para prajurit Pandawa.
Pihak Kurawa tampak gembira, Dursasana menari-nari sembari [...]