“….maksud bunda?” Pangeran Samudra membiarkan tangan Permaisuri berada dibalik kainnya. “…ananda paham…”
“Tapi itu sangat berbahaya….” Permaisuri perlahan menyingkap kain yang dikenakan Pangeran Samudra, “…bagi keselamatan Pangeran….” lalu merapat.
“Keselamatan anada akan dipertaruhkan demi….” Pangeran Samudra mengikuti gerakan tangan permaisuri yang menariknya pelan, “….bunda yang sangat ananda rindukan dan sayangi….” tangan kekarnya menggenggam kedua paha permaisuri, ditariknya semakin dekat setelah kainnya tersingkap hingga pinggang.
“…maksud ananda pengorban sia-sia sebagai bukti kasih sayang terhadap bunda?” Permaisuri melepas genggamannya setelah dirinya merapat, hingga tidak ada jarak sama sekali. Terasa dengus napas Pangeran Samudra mengusik raut wajahnya, “….rasanya tidak harus dengan jalan mencelakai diri sendiri…akhhh…” lalu kedua tangannya melilit dibahu Pangeran Samudra.
“….tidak…bunda.” Pangeran Samudra melingkarkan kedua tangannya dipinggang Permaisuri, sejenak keduanya terdiam dan menyatu dalam satu helaan napas. “…bukankah pertemuan ini telah terjadi. Ananda kini telah berada dalam dekapan bunda, curahan kasih sayang, dan kehangatan…” keringat dingin menetes dari kening Pangeran Samudra ke atas muka Dewi Ontrowulan yang mendongak.
“…pangeran bunda pun jadi tidak berdaya dibuatnya…” Permaisuri bergerak pelan seiring dengan denyut nadi dan darah yang bergolak disekujur tubuhnya, “…nasihat apalagi yang harus bunda katakan…agar pangeran tidak selalu menantang maut….akhhh…”
“….kasih sayang bunda sudah melebihi segalanya…” Pangeran Samudra bergerak mengimbangi setiap gerakan Permaisuri, dengan tidak menghiraukan napasnya yang terasa berat. Lalu menyeretnya ke atas tempat tidur tanpa melepas pelukannya. “…hal itulah yang membuat ananda selalu ingin menemui bunda…dan berada dalam buaian…”
“…jika demikian bunda tidak sia-sia berupaya sekuat tenaga untuk selalu dirindukan pangeran….” Permaisuri telentang di atas tempat tidur, “…upaya itu dilakukan demi mengobati kekhawatiran Kanda Prabu, agar keutuhan kerajaan tetap terjaga…pangeran…” tangannya semakin kuat memeluk bahu Pangeran Samudra yang berada di atas tubuhnya.
“Gusti Permaisuri, izinkan hamba memasuki kamar untuk melakukan pemeriksaan!” dari luar terdengar teriakan prajurit pengawal dan suara kaki yang menginjk lantai.
Bersambung…….
MAKSUD NYA………………
NYATA GAX SI???
gak tau tuh nyata tidaknya? Ini ‘kan cerita jaman dulu yang berkembang disono,……lihat aja dikawasan gunung kemukus…hingga kini mereka masih mengunjungi/meyakini dan sebagian masih melaksanakan ritual itu…..