Para prajurit bergerak menyisir setiap sudut dan sisi taman mencari tahu tempat persembunyian penyelinap.
“Celaka kalau sampai ketahuan. Apalagi jika tertangkap oleh prajurit pengawal, sudah barang tentu akan mendapat hukuman berat.” gumam Permaisuri penuh dengan rasa khawatir, sejenak bagaikan salah tingkah di depan halaman keputren.
“Gusti, mohon maaf!” seorang pengawal mengacungkan sembah. “Atas perintah Sripaduka, Gusti Permaisuri agar segera memasuki ruang kaputren.”
“Baiklah pengawal,” Dewi Ontrowulan meski dalam hati waswasbergegas memasuki ruang keputren. Terlihat penjagaan semakin diperketat. “Duh, aku harus berbuat apa demi keselaman Pangeran Samudra…” meski seribu kali khawatir kakinya terus melangkah pelan dan masuk ke dalam kamarnya.
Permaisuri duduk di atas kursi yang berada dekat pembaringanya, tampak wajahnya gelisah. Lalu perlahan bangkit, mendongak keluar melalui celah jendela yang terbuat dari kayu ukir.
“Bagaimana kalau sampai tertangkap?” gumamnya, lalu kembali duduk di atas tempat tidur.
“Bunda….” tiba-tiba terdengar suara lirih dari balik tiang langit-langit kamar.
“Pangeran?” Permaisuri terkejut, cepat bangkit dan memburu ke arah datangnya suara. Hingga diteumkannya sosok Pangeran Samudra yang berdiri dibalik tiang. “Rupanya ananda ada disini…” lalu memeluknya dengan erat.
“Benar, Bunda.” Pangeran Samudra membalas pelukan Permaisuri, serta meletakan dagu dibahunya, tidak menghiraukan gesekan pelipis keduanya.
“Raden. kenapa menyelinap?” Permaisuri mengelus punggung Pangeran Samudra.
“Tidak mengapa, Bunda.” Pangeran Samudra melilitkan kedua tangannya di pinggang Permaisuri. “Rasanya ananda tidak bisa meski hanya satu hari untuk tidak menjumpai bunda.” wajahnya dibenamkan di dada.
Bersambung…………………