“Benar, Ki Bisono. Baru saja kita akan bertanya tentang sabda alam dan pesannya, beliau sudah mengawali kalimat dengan yang akan kita tanyakan.” bisik Ki Ageng Tingkir, “Syekh Siti Jenar benar-benar waspada permana tinggal.” berdecak kagum. “Hamamayu hayuning bawana, yang telah andika amalkan belumlah cukup. Sehingga alam pun tidak utuh memberikan sabdanya, namun meskipun demikian andika [...]
Arsip untuk April, 2008
Syekh Siti Jenar Menyatu dengan Dzat (Ajal) 44
Diposkan dalam Cerber pada April 28, 2008 | Tinggalkan sebuah Komentar »
Sisindiran Cinta
Diposkan dalam Sisindiran, Label Sisindiran pada April 25, 2008 | 2 Komentar »
Rincik rincang rincik rincang aya roda na tanjakan sidik pisan sidik pisan nyai teh bogoh ka akang Mun arek neang paraji geus pasti rek ngalahirkeun mun peuting kabawa impi mun beurang sok kagundamkeun Tuh tempo ka lebah ditu katumbiri nutug leuwi duh enung jungjunan kalbu geulisna kawanti-wanti Mun pareng rek ka cilawu ulah poho mawa [...]
Syekh Siti Jenar Menyatu dengan Dzat (Ajal) 43
Diposkan dalam Cerber pada April 22, 2008 | Tinggalkan sebuah Komentar »
“Meskipun kita bisa merasakan belumlah bisa mentafsirkan tentang pesan yang alam sampaikan.” tambah Ki Ageng Tingkir. “Benar, Ki Ageng Tingkir.” Ki Chantulo menarik napas dalam-dalam. “Meski sukma kita sanggup berkomunikasi dengan alam, bertaut, dan bergumul. Rasanya sulit untuk meterjemah dan menafsirkan sabda alam?” “Padahal kita tahu maksud alam dengan kabaran dan berita yang dibawanya?” tambah [...]
Syekh Siti Jenar Menyatu dengan Dzat (Ajal) 42
Diposkan dalam Cerber pada April 21, 2008 | Tinggalkan sebuah Komentar »
“Janganlah andika berkata demikian, Gempol!” tatap Kebo Benowo. “Bukankah Syekh Siti Jenar juga guru kita dan telah mengajarkan ilmu yang kita pinta, sehingga memiliki kesaktian tak terbatas.” “Namun menurut hemat saya, mereka itu telah benar-benar mempelajari ilmu yang di anut Syekh Siti Jenar?” kerut Joyo Dento. “Bukankah kita juga mempelajari ilmu beliau?” tukas Loro Gempol, [...]
Syekh Siti Jenar Menyatu dengan Dzat (Ajal) 41
Diposkan dalam Cerber pada April 20, 2008 | 1 Komentar »
“Baiklah, Ki Demang.” ujar Sunan Giri, seraya memutar pandangannya pada para wali dan ulama yang berkumpul dalam persidangan di dalam masjid Demak. “Mungkin tidak wali yang pergi ke kademangan. Siapakah di antara ulama yang siap melakukan tugas ini, menyertai Ki Demang?” Keadaan hening sejenak, para wali dan ulama saling tatap satu sama lain. Etah apa [...]
AKU TAK PENGECUT
Diposkan dalam puisi cinta pada April 18, 2008 | Tinggalkan sebuah Komentar »
Mentari pagi kirimkan sinar Secerah pesona yang kau tebar Wangi tubuhmu semerbak nan mewangi Mengusik ketenangan relung batinku Hingga bangkit berjuta harapan, membayangi hari-hariku menyambangi mimpi-mimpiku menyelinap dalam igaku terselip di sanubari Akhirnya ku berharap Diriku jadi milikmu atau aku memilikimu Semuanya tidak ada yang salah Semuanya hanya demimu Semuanya hanya untukmu Rinduku semakin menggebu [...]
Syekh Siti Jenar Menyatu dengan Dzat (Ajal) 40
Diposkan dalam Cerber pada April 17, 2008 | Tinggalkan sebuah Komentar »
“Sudahlah! Andika tidak perlu bertanya lagi tentang taqdir. Jalani saja ambisi dan rencana semula. Jika ingin berhenti silahkan!” “Tapi tidak mungkin saya menghentikan rencana ini. Sebab kesempatan dan peluang baik seperti sekarang hanya datang satukali, mengingat dukungan penuh Kebo Benowo juga para pejuang Majapahit yang tidak menyukai bayang-bayang kekuasaan Raden Patah.” “Sudah terjawab bukan? [...]
Syekh Siti Jenar Menyatu dengan Dzat (Ajal) 39
Diposkan dalam Cerber pada April 16, 2008 | Tinggalkan sebuah Komentar »
“Bukankah saya ada dihadapan andika, Dento?” ujar Kebo Kenongo, seiring dengan bergeraknya hamparan terusik angin sepoi tikar. Pelan-pelan wujud keduanya yang sedang duduk bersila mulai tampak. “Ki Ageng, terimalah sembah hormat hamba!” Joyo Dento langsung saja menekuk lututnya seraya mengacungkan kedua tangannya menyembah. “Begitu juga pada Syekh Siti Jenar, seorang wali yang memiliki kesaktian tinggi. [...]
Syekh Siti Jenar Menyatu dengan Dzat (Ajal) 38
Diposkan dalam Cerber pada April 11, 2008 | Tinggalkan sebuah Komentar »
“Baiklah, Kanjeng.” Demang Bintoro menganggukan kepala, seraya menatap para wali yang mulai duduk berkeliling di tengah masjid sesuai permintaan Sunan Giri. *** ‘Bagaimana pun juga aku harus menghadap Ki Ageng Pengging. Meskipun dia tidak berambisi untuk menjadi penguasa negeri Demak Bintoro. Namun aku tidak rela jika bekas para abdi Majapahit berada dibawah bayang-bayang kekuasaan [...]
Syekh Siti Jenar Menyatu dengan Dzat (Ajal) 37
Diposkan dalam Cerber, Dewasa pada April 9, 2008 | Tinggalkan sebuah Komentar »
“Namun sebelumnya saya ingin tahu dulu.” “Tentang apa?” “Apakah Syekh Siti Jenar juga seorang wali seperti anda?” “Bukan! Dia hanyalah sosok yang tidak jelas asal usulnya. Juga ilmu yang didalaminya entah dari mana sumbernya.” “Tapi bukankah dia juga seorang ulama yang memiliki ilmu tinggi?” “Mungkin saja, Ki Demang. Tetapi dia bukan wali seperti saya dan [...]


