“…ananda akan mengikuti…bunda..” Pangeran Samudra berlutut,”letakan kedua tumit bunda di atas bahu ananda…” tangannya menggenggam paha Permaisuri.
“…ternyata pangeran tidak lupa pada pahatan gambar yang akan kita pelajari sekarang.” Dewi Ontrowulan tersenyum. “Pangeran memang cerdas…akhhh…”
“…tentu saja, karena bunda pun sangat cerdas.” Pangeran Samudra menggerakan tubuhnya. “…bunda…siapakah sesungguhnya yang membuat bangunan dalam lorong itu…”
“…seorang pemahat dari India, Pangeran.” jawab Dewi Ontrowulan, seraya kedua tangannya mengenggam tempat tidur. “…pangeran…” desahnya.
“..sangat jauh bunda.” Pangeran Samudra semakin erat menggenggam kedua paha Dewi Ontrowulan, seakan-akan tidak mau melepasnya. “Kenapa harus dibuat bangunan tadi?”
“…bangunan itu dibuat karena untuk bersenang-senang mendiang Eyang Prabu Jayanegara.” Dewi Ontrowulan memejamkan kedua matanya, bibirnya menyeringai, gengamannya semakin erat dan tertahan. “…dindingnya pun dipahat dengan gambar-gambar kamasutra…”
“…seperti yang bunda ajarkan pada ananda bukan?” Pangeran Samudra mendesis berat.
“…akkhhhh…ya..pangeran.” Dewi Ontrowulan terkulai lemas, begitu juga Pangeran Samudra. “…selesai…itulah kamasutra…pangeran.” tangannya mengelus rambut Pangeran Samudra yang tergolek di atas dadanya.
“Ananda sangat berterimakasih, Bunda.” Pangeran Samudra tersenyum bahagia. Lalu mencium kening Permaisuri. “Bunda sangat baik…serta dengan susah payah mengajarkan..kamasutra meskipun melelahkan dan menguras tenaga. Serta melindungi ananda dari hukuman dan aturan istana karena mendatangi tempat terlarang.”
“Bukankah itu wujud kasih sayang bunda yang sesungguhnya dan bukan hanya diucapkan dengan kata-kata, Pangeran.” Dewi Ontrowulan melepaskan pelukannya, seraya mendorong dada Pangeran Samudra yang menindihnya. “Yakinlah bahwa bunda sangat
menyayangi, Pangeran.” lalu bangun dan duduk di samping Pangeran Samudra yang masih terbaring.
“Ananda sangat bangga dengan kasih sayang bunda Permaisuri.” Pangeran Samudra bangkit duduk dibelakang Dewi Ontrowulan, kedua tangannya dilingkarkan dipinggang Permaisuri. “Duduklah dipangkuan ananda bundaku tersayang…”
“Pangeran, bunda juga sangat menyayangi ananda.” Dewi Ontrowulan mengangkat tubuhnya dan duduk dipangkuan pangeran Samudra. “Tahukah Pangeran nama bangunan yang berpahatkan gambar adegan kamasutra.” merapatkan punggungnya di dada.
“Apakah namanya, Bunda?” tangan kanan Pangeran Samudra mengelus rambut Dewi Ontrowulan yang menyandar di bahunya.
“Yoni Lingga Tirta, Pangeran.” Dewi Ontrowulan melirik ke arah wajah Pangeran Samudra, hingga pelipisnya bersentuhan.
“Apakah itu, Bunda?” Pangeran Samudra melingkarkan lengan di pinggang Permaisuri.
“Yoni adalah ini….sedangkan Lingga…itu..” Dewi Ontrowulan menunjuk dengan isyarat.
“O…Yoni ada pada bunda…sedangkan Lingga..” Pangeran Samudra menganggukan kepala. “…pada ananda. Jika tirta?”
“Tirta adalah air…” Dewi Ontrowulan menatap tajam mata Pangeran Samudra dengan sorot mata sejuk dan menenangkan. “…yang memancar ketika…”
“Ananda paham, Bunda.” Pangeran Samudra tersenyum dan mengagguk.
“Ya, itulah Yoni Lingga Tirta.” Dewi Ontrowulan pun tersungging pula. “Ketika keduanya bersamaan…bukankan sebuah pencapaian…yang….Pangeran?”
“Benar bunda. Tidak seperti sebelumnya mengotori muka bunda…” ujar Pangeran Samudra. “…bunda…”
Bersambung……..
Ceritanya bagus, tolong cerita lanjutannya segera n kalo bisa kirimkan cerita sebelumnya