Feed on
Tulisan
Komentar

“Nah, itulah Ki Ageng Pengging.” Syekh Siti Jenar melangkah pelan, “Makanya Islam mengajarkan jika di antara kita terjadi perbedaan paham sebaiknya dikembalikan pada alquran dan assunnah. Semua perbedaan pendapat dan pemahaman bisa diselesaikan dengan cara musyawarah. Tidak semestinya melakukan tindakan yang tidak diridhoi Allah, apalagi menciptakan laknat. Bukankah Islam mengajarkan bahwa kita harus selalu menebar rakhmat, hamamayu hayuning bawanna? Seandainya orang tadi belum mengenal Desa Kendharsawa, maka bisa dikatakan tersesat. Salah jalan. Jika salah jalan karena ketidaktahuan itulah yang sesat.” urainya.

“Ya, karena tidak akan mungkin sampai pada tujuan.” Kebo Kenongo mengangguk-anggukan kepala, “Jadi makna “sesat” disini bisa diartikan berbeda?”

“Tentu,” Syekh Siti Jenar mengiyakan, “Bisa saja kita yang salah karena keterbatasan ilmu dan pengetahuan. Bisa juga orang yang kita anggap sesat benar-benar sesat. Atau bahkan sebaliknya.”

“Syekh,” Ki Chantulo mendekat, dibelakangnya berdiri Ki Donoboyo. “Kita telah jauh memperdalam ilmu hamamayu hayuning bawanna, ma’rifat mungkin hampir saya capai. Namun saya khawatir ada akibat….lihatlah daun dan ranting kering ini, sangat mudah terlepas dari batang pohon meski hanya tertiup angin sepoi-sepoi.”

“Jika kita sebagai manusia tentu saja harus punya rasa khawatir.” Syekh Siti Jenar membalikan tubuhnya, tatapan matanya menyapu wajah Ki Chantulo. “Kekhawatiran muncul karena keterbatasan ilmu dan ketidaktahuan perjalanan hidup. Ketidaktahuan akan ketidakjelasan kabar.”

“Maksudnya?”

“Saat orang bilang, awas jangan  lewat jalan Kendharsawa karena ada rampok kejam, apa yang akan andika lakukan?”

“Saya akan menertawakan orang tadi, karena setahu saya jalan menuju Desa Kendharsawa aman.”

“Karena andika tahu betul.” ujar Syekh Siti Jenar, “Tapi sebaliknya bagi orang yang belum mengenal Kendharsawa tentu akanmerasa khawatir. Mengenai kabar yang tidak jelas tadi, bahkan akan menimbulkan rasa was-was.”

“Ya,” Ki Chantulo mengangguk, “Mungkin karena keterbatasan ilmu saya yang menyebabkan khawatir dan takut.”

“Sebenarnya apa yang menjadi kekhawatiran andika, Ki Chantulo?” tanya Kebo Kenongo.

“Saya mendengar kabar ditangkapinya orang-orang yang menganut ajaran Syekh Siti Jenar. Jika tidak salah dewan wali menganggap ajaran kita sesat.” Ki Chantulo menundukan kepala.

“Syekh?” Kebo Kenongo menatap Syekh Siti Jenar, belum juga kering mulutnya ketika berbincang tentang sesat.

 
Bersambung…….

“Ya,” Kebo Kenongo tersenyum, “Pencapaian itulah yang memerlukan proses yang cukup lama dan panjang. Hingga terkadang orang merasa putus asa…”

“Putus asa, penyebab petaka. Itu tidak perlu terjadi,” terang Syekh Siti Jenar, “Untuk menghindari keputusasaan dalam hal pencapaian diperlukannya guru yang selalu membimbing dan mengarahkan.”

“Benar, supaya tidak kesasar dan gila?”

“Ya, mungkin kata lain sesat. Orang akan menyatakan sesat atau kesasar pada orang lain, karena menurut ilmu dan pengetahuan yang dia milki bahwa jalan menuju Desa Kendharsawa hanya satu. Jalan yang biasa Ki Ageng Pengging lalui beserta orang kebanyakan. Padahal setahu saya ada banyak jalan menuju Desa Kendharsawa, bisa memutar dulu ke Utara, bisa berbelok dulu ke Selatan, bisa juga mengambil jalan pintas.” urai Syekh Siti Jenar, “Salahkah jika orang yang berpendapat harus berlok ke Utara atau ke Selatan, bahkan mengambil jalan pintas? Jelasnya tidak pernah mengambil jalan yang biasa dan diketahui umum. Salahkah?”

“Saya kira tidak,”

“Mengapa?”

“Karena sudah tentu semuanya akan sampai ke Desa Kendharsawa. Hanya waktu sampainya yang berbeda, ada yang cepat, lambat, dan alon-alon.”

“Itulah maksud saya, Ki Ageng Pengging.” ujar Syekh Siti Jenar. “Nah, yang diributkan orang kebanyakan soal perbedaan jalan itulah. Sehingga memicu pertengkaran, demi mempertahankan ilmu dan pengetahuan yang dimilikinya agar diikuti orang lain. Padahal setiap orang memiliki pemahaman dan pendalaman, juga maksud yang berbeda, meski sebenarnya punya tujuan sama.”

“Maksudnya?”

“Bukan tidak tahu jalan umum menuju Desa Kendharsawa, tetapi berbelok ke Selatan karena punya maksud menemui dulu kerabat. Jalan yang di tempuh lewat Utara, karena ingin membeli dulu hadiah untuk teman di Kendharsawa. Sampaikah mereka semua pada tujuan? Desa Kendharsawa?”

“Sampai?”

“Mengapa harus bertengkar dan saling menyalahkan?”

“Karena jalannya tidak diketahui umum,”

“Haruskah umum selalu tahu? Haruskah umum memberikan kesimpulan bahwa jalan Utara dan Selatan sesat?”

“Tidak,”

“Mengapa?”

“Karena pasti sampai.”

“Kenapa pula dipertengkarkan?”

“Bertengkar karena tidak saling memahami akan persoalan yang sesungguhnya.”

Bersambung……..

Suasana istana yang hening terusik dengan isak tangisnya Raden Patah, seakan-akan mengubah dan memecah suasana. Pangeran Bayat semakin menundukan kepalanya, dagunya seakan-akan menyentuh lutut, hatinya mulai ketar-ketir, jika seandainya Raden Patah marah.

Sunan Giri hanya berbagi tatap dengan para wali, termasuk Sunan Kalijaga, Sunan Bonang, Sunan Muria, Sunan Kudus, Sunan Drajat, dan Sunan Gunung Jati. Mereka memahami setiap maksud perkataan Sunan Giri, namun tidak ada yang mengusik isak tangis Raden Patah meski hanya sepatah kata penghibur.

“Mereka mudah dihasut karena miskin…” isak Raden Patah, “…bukankah menurut laporan yang saya dengar tidak ada lagi rakyat miskin dan menderita…seandainya itu masih ada artinya…telah berdosa dan menyia-nyiakan amanah…”

***

Matahari mulai menyelinap di balik bukit Desa Kendharsawa, awan tipis berlapis-lapis laksana serpihan sutra merah. Angin senja bertiup sepoi-sepoi mengusik setiap daun dan ranting kering, selanjutnya jatuh di atas tanah, tanpa daya.

Sorot mata Ki Chantulo tidak beranjak dari jatuhnya daun dan ranting kering di hadapannya. Lalu duduk dan memungutnya.

“Ranting dan daun kering, rupanya usiamu telah berakhir senja ini.” perlahan bangkit, seraya mengangkat kepalanya, tatapan mata menyapu awan jingga berlapis dan berarak laksana kereta kencana. “Betapa indah, taqdir kepergianmu diiringi warna keemasan….”

“Ya, sangat indah kematian daun dan ranting kering ini…” bisik Ki Donoboyo yang berdiri disampingnya. Tatapan matanya tidak beranjak dari tingkah laku teman seperguruannya. “Mungkin itulah yang dikatakan menyatunya kembali dengan dzat yang maha kuasa?”

“Mungkin?” tatap Ki Chantulo. Lalu melangkah pelan menuju padepokan Syekh Siti Jenar, Ki Donoboyo mengiringi.

Di halaman padepokan Syekh Siti Jenar sedang bercakap-cakap dengan Kebo Kenongo. Kebo Kenongo seakan-akan larut pada setiap perkataan dan nasehat gurunya, terkadang berkali-kali mengangguk-anggukan kepalanya.

“Syekh, manunggaling sifat Allah ternyata bisa dibuktikan. Hingga saya mengerti dan memahami…” ujar Kebo Kenongo, “…bahkan ma’rifat pun kini mulai bisa saya capai. Ternyata dalam pencapaian ini tidak harus melalui tahapan yang dulu pernah Syekh ungkapkan.”

“Bukankah saya pernah mengatakan, menuju ma’rifat tidak perlu melalui tahapan syariat, hakikat, thariqat, lantas ma’rifat. Jika demikian berarti hanya orang yang beragama Islam saja yang bisa. Mungkin dalam agama hindu atau budha yang sebelumnya Ki Ageng Pengging ketahui tidak akan menemukan tahapan itu. Bisa saja namanya berbeda, tetapi tujuannya sama.” Syekh Siti Jenar menyapu wajah Kebo Kenongo dengan tatapan matanya. “Saya kira semua agama memiliki tujuan yang sama, yaitu untuk mencapai dan menggapai dzat Yang Maha Kuasa. Yang membedakan semuanya hanyalah tata caranya, jalan, dan nama-nama proses pencapainya.”

Bersambung……..

“Maafkan saya, Kanjeng.” Raden Patah perlahan mengangkat kepalanya, “Jika itu terjadi dan menimpa rakyat negeri Demak Bintoro, mungkin saya sebagai pemimpin akan menerima hukumannya di akhirat. Mudah-mudahan yang dilaporkan Dimas Bayat benar. Hal itu tidak terjadi di negeri ini….”

“Yakinkah, Raden?”

“Saya percaya pada Dimas Bayat, Kanjeng Sunan.”

“Hamba melaporkan dengan sesungguhnya. Berdasarkan pendengaran dan penglihatan hamba.” ujar Pangeran Bayat.

“Baguslah jika yakin sebatas laporan, Raden.” Sunan Giri perlahan bangkit dari duduknya, lalu mengitari singgasana Raden Patah. “Tahukah Raden tujuan utama kedatangan kami, dewan wali ke istana ini?”

“Tentu saja, Kanjeng.” Raden Patah perlahan memicingkan sudut matanya, menatap langkah kaki Sunan Giri. “Bukankah di negeri ini telah muncul persoalan yang terkait dengan Syekh Siti Jenar dan pengikutnya, Kanjeng?”

“Benar,” Sunan Giri menghentikan langkahnya, lalu kembali duduk di atas kursinya. “Ada kabar jika Syekh Siti Jenar menyebarkan ajaran sesat. Pengikutnya terutama rakyat miskin dan kelaparan banyak yang mengakhiri hidupnya.”

“Mereka bunuh diri, Kanjeng?” ujar Raden Patah, “Mereka mengaggap bahwa mati lebih nikmat dari pada hidup dalam kemiskinan. Syekh Siti Jenar pada pengikutnya menghembuskan ajaran hidup untuk mati, mati untuk hidup.”

“Pisahkan dulu persoalan mati untuk hidup, hidup untuk mati, tentang ajaran Syekh Siti Jenar!”

“Kenapa, Kanjeng?”

“Lihat dan perhatikan, jika yang bunuh diri itu si miskin dan menderita…”

“Mengapa harus dipisahkan persoalan ini? Rakyat Demak Bintoro yang miskin tentu saja mudah dihasut akhirnya nekat bunuh diri. Apalagi mendengar ajaran yang menyesatkan ini.”

“Persoalannya karena miskin, Raden. Bukankah tadi dikatakan, jika di negeri makmur ini sudah tidak ada lagi yang miskin dan kelaparan?”

“Astagfirullah!” Raden Patah lalu mengusapkan kedua telapak tangannya pada wajah, “Ya, Allah maafkan hambamu ini. Hamba telah berbuat hilap….” dari sela-sela jemarinya menetes buliran air mata, semakin lama semakin banyak.

Bersambung………

“Terimakasih atas sambutannya, Raden.” Sunan Giri lalu duduk di atas kursi yang telah disediakan. Diikuti para wali lain menempati kursi yang telah disediakan.

“Rasanya sangat bahagia hati ini, batin pun terasa tentram jika sudah bertemu dengan para wali yang terhormat.” Raden Patah perlahan duduk kembali di atas singgasana kerajaannya, para abdi pun mengikuti. “Sudah sekian lama Kanjeng Sunan tidak menyempatkan diri memasuki istana yang megah ini.”

“Tidaklah harus terlena dengan kemegahan istana, Raden.” ujar Sunan Giri tersenyum tipis, “Singgasana berlapis emas, serta empuk, terkadang menyebabkan kita untuk bermalas-malas. Saking nikmatnya kita dalam sehat dan istirahat, terkadang lupa pada tugas yang sesungguhnya. Bukankah kita mendapatkan kepercayaan dari rakyat demi kesejahteraannya, demi ketentramannya, demi ketenangannya, demi melayaninya?”

“Alhamdulillah, Kanjeng.” Raden Patah sekilas menyapu wajah Sunan Giri dengan tatapan matanya, “Saya sudah berupaya menjalankannya sesuai dengan amanah dan ajaran Islam. Namun saya sebagai manusia terkadang terlena dibuatnya…..”

“Jika Raden terlena dengan kekuasaan dan kemegahan, hendaklah istigfar.” Sunan Giri mengacungkan telunjuknya, “Karena singgasana ini tidak abadi, kekuasaan akan berakhir dengan ketidakuasaan, kenikmatan dan kemewahan hanya bisa dikecap dalam sekejap. Semua itu diingatkan ketika diri kita tidak sempat untuk istirahat dan menikmati, bahkan saat sakit mengusik kita. Disitu tidak ada nikmat yang bisa dirasakan meski sekejap. Itu semua mengingatkan pada diri kita, semua yang kita miliki akan  ditinggalkan, semua yang kita kuasai pada suatu saat akan menjauh. Bukankah kehidupan di dunia ini telah ditentukan batasnya? Seindah apa pun dunia tetaplah fana, semegah apa pun dunia akan berkesudahan. Tidak ada bedanya saat kita merasakan lapar bergegas mencari makanan, setelah rasa lapar tergantikan dengan kekenyaang nikmat pun tidak ada lagi.”

“Jika perut sudah terlalu kenyang tidak mungkin meneruskan makan, meski masih terhidang beraneka kelezatan di atas meja.” Raden Patah mengangguk-anggukan kepala, “Hanya sekejap….dan ada akhirnya…bukankah datangnya rasa nikmat ketika kita merasakan lapar?”

“Andai lapar itu berada pada tahapan Raden. Tentu akan terobati, tinggal memanggil pelayan kerajaan. Tetapi jika rasa lapar menimpa rakyat miskin, bisakah terobati dalam sekejap?” tatap Sunan Giri.

“Ya, saya paham, Kanjeng.” Raden Patah menundukan kepalanya, “Dimas Bayat, masihkah di negeri ini ada rakyat yang kelaparan?” lalu tatapan matanya tertuju pada Pangeran Bayat.

“Menurut hamba negeri ini sangatlah makmur, Gusti.” Pangeran Bayat mengacungkan sembahnya, “Sangat tidak mungkin di negeri semakmur Demak Bintoro ada rakyat yang kelaparan?”

“Benarkah, Dimas?”

“Hamba yakin, Gusti.”

“Baguslah jika tidak ada yang kelaparan,” Raden Patah menundukan kepala dihadapan Sunan Giri.

“Seandainya masih ada rakyat yang miskin dan kelaparan? Sementara kita serba berkecukupan? Tidakah di akhirat nanti akan menuai kecaman dari Allah SWT.? Mungkin rakyat negeri Demak Bintoro, meski pun lapar tidak akan banyak berbuat selain mengganjal perutnya dengan kesedihan, bisa juga menangis?” desak Sunan Giri.

Bersambung……..

“Bagus,” ujar Loro Gempol, “Sekarang kesaktian saya telah bertambah. Mengapa tidak digunakan untuk kembali mengadakan penyerangan terhadap Kademangan Bintoro?”

“Haruskah malam ini?” tanya Kebo Benongo. “Tidakah merasa lelah sepulang dari padepokan?”

“Tidak!”

“Gempol, bukannya saya tidak percaya pada tendangan maut yang baru saja andika miliki.” Kebo Benowo mendekat, “Cukupkah jumlah prajurit kita untuk menggempur Kademangan Bintoro?”

“Benar!” Joyo Dento meletakan kedua tangannya di belakang, “Meski pun Ki Gempol bisa mengalahkan Ki Sakawarki, tidak ada salahnya kmemperhitungkan jumlah kekuatan yang kita miliki. Sebenarnya ada taktik perang gelap…”

“Maksud andika?” Loro Gempol menatap tajam.

“Harus menghindari perang terbuka. Mengingat jumlah pasukan kita lebih sedikit di banding musuh.” dahinya dikerutkan, “Serangan kita harus bersifat memecah konsentrasi musuh, lantas menyerang, lalu menghilang.” terang Joyo Dento.

“Berhasilkah dengan cara demikian?” tanya Kebo Benowo, “Tidak lebih baikah jika kita menambah jumlah pasukan?”

“Bisa saja, menambah pasukan. Artinya untuk sementara kita menghentikan penyerangan….”

“Jadi saya tidak bisa mencoba ilmu baru dalam waktu dekat?” Loro Gempol garuk-garuk kepala.

***

Dewan wali yang di pimpin Sunan Giri mulai memasuki istana kerajaan Demak Bintoro. Mereka menginjakan kakinya di atas karpet berwarna hijau, kiriman dari Bagdad. Di setiap sudut istana berdiri para prajurit dengan tombak dan tameng di tangannya.

Raden Patah sudah berada di atas singgasananya, perlahan bangkit menyambut kedatangan para wali. Pangeran Bayat, serta para abdi kerajaan lainnya berdiri, menyalami.

Hari itu tampaknya ada pertemuan penting antara Raden Patah dan Walisongo.

“Selamat datang di keraton, Kanjeng Sunan.” Raden Patah menyalami dan memeluk Sunan Giri, lalu yang lainnya. “Silahkan…”

Bersambung………..

Tidak lama berselang terdengar suara kuda yang bergerak ke arah mereka. Dua ekor kuda yang ditunggangi Kebo Benowo dan Loro Gembol telah berada di tengah-tengah pengikutnya.

“Ki Gempol,” ujar Joyo Dento mendekat, “Terlihat segar malam ini….”

“Benar, Dento.” Loro Gempol turun dari punggung kuda, “Syekh Siti Jenar benar-benar hebat. Hanya dengan tatapan mata beliau menyembuhkan luka dalam akibat tendangan Ki Sakawarki.”

“Hebat!” Joyo Dento menggelengkan kepala. “Artinya Ki Gempol sudah siap memimpin kembali pemberontakan?”

“Tentu saja, Dento.” Loro Gempol menepuk-nepuk dadanya, “Bahkan ilmuku sudah mulai bertambah meski dalam waktu sangat singkat. Saya sudah memiliki tendangan yang lebih hebat dari Ki Sakawarki.” lalu memutar lehernya mengikuti sudut pandangnya yang tertuju pada sebongkah batu.

“Seperti apa tendangan itu, Ki?” tanya Kebo Benongo.

“Lihatlah! Saya akan menghancurkan batu sebesar perut kerbau itu hanya dengan satu kali tendangan.” Loro Gempol lalu mengambil ancang-ancang, seraya loncat dan mengarahkan tendangannya pada batu.

Dragkkkk….tendangan kaki Loro Gempol menghantam sasaran, tidak pelak lagi hancur lebur berkeping-keping. Prilakunya disambut dengan tepukan pasukan gelap sewu, serta Joyo Dento dan Kebo Benongo.

“Bisa seperti itu Syekh Siti Jenar mengajarkan ilmu kanuragan, Ki Gempol?” Joyo Dento mengerutkan keningnya.

“Bukankah dia orang sakti, Dento?” Loro Gempol tersenyum.

“Sayang, Ki Gempol?”

“Kenapa, Dento?”

“Seandainya beliau bersedia mendukung perjuangan kita dengan kesaktiannya, sudah barang tentu sangat mudahlah menghancurkan Kademangan Bintoro.” ujar Joyo Dento, seraya duduk di atas bangku yang terbuat dari kayu. “Sungguh sayang, begitu juga Ki Ageng Pengging, sangatlah sulit untuk diajak serta.”

“Jangankan Kademangan, Demak pun jika beliau mau tentu bisa dihancur leburkan!” timpal Loro Gempol.

“Sangat aneh?” Joyo Dento menggelengkan kepala, “Semakin tinggi ilmunya, semakin digjaya kesaktiannya, malah semakin tidak tertarik pada kekuasaan?” lalu menghela napas dalam-dalam.

“Itulah keanehan mereka, Dento.” Kebo Benowo ikut nimbrung, “Bukankah menurut andika tidak perlu lagi memikirkan mereka yang sudah tidak memiliki keinginan untuk berkuasa.”

“Ya, lupakan saja semuanya!” Joyo Dento bangkit dari duduknya, “Sebaiknya kita tidak terpengaruh….”

Bersambung……..

“Kanjeng Sunan Bonang?” Sunan Drajat mengangukan kepala, meski tidak mengerti. Hatinya seakan-akan disusupi nasihat yang sebelumnya tidak pernah diketahui. “Saya harus menafsirkannya…”

“Apa yang telah terjadi? Kenapa saling memberi isyarah?” Pangeran Bayat kebingungan. “Kanjeng Sunan Giri?”

“Saya juga tidak terlalu paham, Pangeran.” bisiknya, lalu menatap Sunan Bonang. “Kanjeng Sunan Bonang?”

“Tidak ada hal yang perlu dikhawtirkan, Kanjeng Sunan Giri.” ujar Sunan Bonang, “Putusan terbaik dalam menyikapi Syekh Siti Jenar dan pengikutnya, kita mesti menunggu keputusan Raden Patah, sesuai dengan pendapat Kanjeng. Kami berisyarah setuju pada perkataan Kanjeng Sunan Giri tadi.”

“Baiklah jika demikian. Kita bersidang dengan pihak pemerintahan demi mengambil keputusan.” Sunan Giri mengaggukan kepala, lalu perlahan bangkit dari duduknya.

“Kanjeng, jika demikian saya mohon pamit.” ujar Demang Bintoro. “Karena tugas saya sudah selesai, sedangkan persidangan merupakan wewenang para wali dan pemerintah.”

“Baiklah, Ki Demang.” Sunan Giri menerima kedua telapak tangan Demang Bintoro yang mengajak bersalaman. “Semoga kalian selamat diperjalanan. Persoalan tadi akan kami tindaklanjuti, agar tidak terlanjur dan terlunta-lunta hingga mengakibatkan kesesatan bagi umat.”

***

Matahari mulai merayap, perlahan meredup seakan-akan terlihat lelah dan ngantuk. Seharian memelototi bumi beserta isinya, menatap setiap tingkah dan laku manusia yang beragam. Matahari sudah waktunya kembali dan beristirahat di peraduannya, seiring dengan datangnya gelap malam.

Namun penghuni jagat raya seakan tidak peduli meski matahari tidak lagi memelototi dan menerangi, biar kerlip gemintang sebagai pengganti, saksi mereka bertingkahlaku. Malam hanya perpindahan dari terang pada gelap, dari benderang pada kremangan. Hingga tidak pernah menghalangi dan menyurutkan niat dan langkah manusia dengan segenap tekad dan keinginannya untuk berbuat.

Pinggir hutan di halaman pendopo milik Kebo Benowo dan pengikutnya, berkelebatan bayangan tubuh yang sedang berlatih silat. Joyo Dento dan Kebo Benongo bergantian mengajarkan setiap jurus dan strategi perang.

Bersambung……..

“Saya setuju!” ujar Pangeran Bayat. “Apa pun yang terjadi jika itu keputusan raja, sudah semestinya kita taati.”

“Baiklah.” Sunan Kalijaga menganggukan kepala, tatapan matanya tertuju pada Sunan Bonang, mata hatinya mulai bersentuhan dan bercakap-cakap. ‘Kanjeng Sunan Bonang, saya secara syariat tidak bisa melawan kehendak Allah.’

‘Ya, karena itu sudah menjadi sebuah taqdir dan ketentuan yang mesti dijalani. Kita lihat dan ikuti saja…meski secara lahiryah tetap harus berikhtiar. Saya kira Syekh Siti Jenar juga paham perjalanan hidupnya…’ batin Sunan Bonang, tatapan matanya menerbar sinar kemerah-merahan beradu dengan sorot mata pancaran jingga Sunan Kalijaga.

“Ada apa?” Sunan Drajat tersentak dari duduknya, “Mengapa ada pancaran sinar dari…”

“Disini tidak ada yang aneh, Kanjeng Sunan Drajat.” tegur Sunan Giri, “Kenapa Kanjeng tersentak?” tatapan matanya mengikuti sudut pandang Sunan Drajat, tetapi tidak menemukan hal yang perlu dikejutkan. 

“Tidakah Kanjeng me…”

“Benar, Kanjeng Sunan Drajat.” tatap Sunan Bonang. Seakan-akan menembus batin hingga tidak berdaya.

 

Bersambung………………

“Pengertian sesat?” Sunan Giri memutar tatapannya, “Saya menyimpulkan, jika Syekh Siti Jenar sudah menganggap shalat lima waktu tidak wajib, puasa bulan ramadan tidak wajib. Hidup untuk mati, mati untuk hidup. Jelas sesat! Sudah keluar dari esensi Islam yang sesungguhnya.”

“Tidakah kita menelisiknya terlebih dahulu, Kanjeng Sunan Giri?” Sunan Kalijaga beradu tatap.

“Apa lagi yang mesti kita selidiki, Kanjeng Sunan Kalijaga?” ujar Sunan Giri, “Penyebaran ajaran sesat harus segera dihentikan. Jika tidak maka umat akan resah, kesetabilan negeri Demak Bintoro akan terancam.”

“Tidakah kita ingin memastikan sekali lagi tentang sesatnya ajaran Syekh Siti Jenar dengan mengutus seorang wali?” tatap Sunan Kalijaga.

“Bukankha Ki Sakawarki saja sudah cukup sebagai seorang Kiai membuktikan kesesatan tadi?”

“Apakah Ki Sakawarki sudah secara langsung mendengar dan melihat jika ajaran Syekh Siti Jenat itu sesat?”

“Maafkan Kanjeng Sunan Kalijaga, saya belum bertemu dengan Syekh Siti Jenar. Namun saya hanya melihat dan mendengar dari para muridnya, ketika beberapa malam lalu melakukan pemberontakan.”

“Bisakah itu dijadikan sebagai bukti?” Sunan Kalijaga memutar tatapannya ke arah Pangeran Bayat dan Sunan Giri.

“Dari Segi politik, yakin tujuan utamanya ingin makar. Bukan semata menyebarkan ajaran sesat, Kanjeng.” Pangeran Bayat mengerutkan dahinya, “Yang memperkuat tuduhan saya dengan adanya nama Kebo Kenongo. Jelas-jelas dia masih keturunan Majapahit dan memiliki pengaruh sama dengan Gusti Raden Patah. Hanya dia tidak seberuntung junjungan kita.”

“Pangeran, bagaimana jika kita pisahkan dulu masyalah politik dan agama?”

“Maaf, Kanjeng. Saya rasa persoalan politik dan agama dalam hal ini sudah menyatu.” tukas Pangeran Bayat. “Saya menduga jika kepentingan politik yang ditebarkan Kebo Kenongo dibungkus rapih dengan agama. Dengan tujuan orang terfokus pada persoalan agama, padahal politis.”

“Makanya saya tadi berpendapat, untuk menjernihkan persoalan ini dan menangkap makna yang sesungguhnya, kita pisahkan dulu…”

“Kanjeng Sunan Kalijaga, sebaiknya perdebatan ini dihentikan. Saya takut di antara para wali terjadi perbedaan paham yang runcing, begitu pula dengan kalangan pemerintah.” potong Sunan Giri. “Selanjutnya kita renungkan sejenak sebelum mengambil keputusan. Bagaimana jika kita memperbincangkannya dengan Raden Patah, semoga dari hasil persidangan nanti ada keputusan. Jika Syekh Siti Jenar perlu ditangkap, kita tangkap!”

Bersambung………

Older Posts »