Feeds:
Tulisan
Komentar

P :  Berlayar wahai perahu
naik sampan tanpa galah
slamat datang digubukku
meski tidak begitu indah

T : Meski sauh tanpa galah
tapi kita sampai jua
trimakasih tuan rumah
sambutan teramat ramah

P : Tak mengapa tanpa galah
kalau tetap sampai jua
bukan hanya ramah tamah
memang itulah adanya

T : Galah pun hanya dibawa
hanya untuk putri tuan
tak usah tuan merendah
tuan paling bahagia

Keterangan:

- P = Pribumi
- T = Tamu

Bersambung…………….

Seandainya penghipnotis berhadapan dengan korban terutama dengan jalan menatap matanya. Jika penghipnotis sedikit menggelengkan kepala, biasanya si korban pun akan mengikuti gelengan tadi. Tandanya orang tersebut sudah terpengaruh. Jika hal tadi terjadi artinya penghipnotis akan dituruti setiap ucapannya oleh si korban.

Namun hipnotis bukan hal yang mutlak bisa mengenai/mempengaruhi setiap orang. Kecenderungan orang yang dapat dihipnotis, hanyalah yang “mau” dihipnotis. Pertanyaannya? Apakah korban perampasan barang dengan cara dihipnotis korbannya “mau”? Jawaban menurut ilmu hipnotis, “ya”.  Tapi kenapa si korban setelah diambil barang-barangnya baru menyesal? Kenapa mau dihipnotis? (Jika yang memiliki ilmu hipnotis digunakan untuk kejahatan).

“Mau”, disini bukan berarti bersedia dirampok, atau memberikan barang secara cuma-cuma. Namun si korban memiliki daya “mau” dalam arti membiarkan pengaruh hipnotis itu lolos. Mengapa? (nanti akan kita urai).

Sebelum penulis memberi tahu cara menguasai ilmu hipnotis, akan mengulas dulu bahwa tidak setiap orang dapat dihipnotis. Para penghipnotis akan mudah memasukan kekuatan hipnotisnya pada orang yang “bersedia” dihipnotis. Jika seandainya tidak? Maka ada cara lain bagi penghipnotis supaya bersedia? (untuk hipnotis hiburan, permainan).

Bersambung…….

1.Allahu Akbar Allahu Akbar
Takbir mulai bergema, menyeruak ke angkasa menembus gelapnya malam
Seiring hati bahagia, kembali pada fitrah
Selamat idul fitri 1430 H, mohon maaf lahir dan batin

2. Takbir, tahmid, tahlil ‘tlah berkumandang. Memecah keheningan malam, mengantar rasa syukur padaNya. Esok pagi menyambut hari yang fitri, selamat hari lebaran 1430 H taqaballahu mina wa minkum, mohon maaf lahir dan batin

3. Kegembiraan ‘tlah bergema memecah keheningan. Kalimat-kalimat suci pertanda bahagia, umat islam menyambut kemenangan. Melukar belenggu dosa, melepas ikatan dengki, menebar cinta serta maaf dan memaafkan. Selamat idul fitri 1430 H, taqaballahu mina wa minkum

4. Tiada gembira yang menggelora, tiada senang yang mengangkasa, selain kita telah kembali pada fitrah dan ampunanNya. Taqaballahu mina wa minkum, selamat idul fitri 1430 H, minal ‘aidzin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin

5. Matahari tampak berseri, takbir, tahmid, tahlil tiada henti menyambut hari yang fitri, kita berada di antara lautan jemaah menjemput bahagia kembali pada fitrah. Selamat idul fitri 1430 H, taqaballahu mina wa minkum, mohon maaf lahir dan batin

6. Andai hati berbalut dengki, andai tingkah membuat marah, mohon maaf lahir dan batin. Selamat idul fitri 1430 H, minal ‘aidzin wal faizin

7. Jika telinga salah mendengar, andai janji tak ditepati, meski tangan tak bersambut, mohon saling memaafkan. Selamat idul fitri 1430 H, taqaballahu mina wa minkum

Kalau hendak pasang pelana
tidak usah saat malam
Tahmid takbir ‘tlah bergema
menyeruak belah malam

Jika kita beli bata
jangan lupa terus ditata
tahlil menembus angkasa
malam fitri telah tiba

Masak gule di perigi
untuk esok kita makan
kita songsong esok pagi
demi sambut kemenangan

Jika kita pergi zarah
jangan lupa bawa makan
hari fitri smoga fitrah
saling maaf-memaafkan

Kalau makan dengan lalap
sudah pasti kita lahap
jika pernah ada khilap
smoga pula ada maaf

Jika kita bersedekah
fakir miskin tersantuni
jika pernah ada salah
smoga pula diampuni

Kalau kita tanam padi
jangan lupa tanam pala
kita ikrar hari fitri
tiada cerca serta dosa

Andai hendak beli rusa
janganlah ke pasar unta
moga amal kita smua
diterima oleh Allah

Hipnotis mempengaruhi bagian otak yang memproses pergerakan tubuh. Akibat dari hipnotis, bagian otak yang seharusnya memerintahkan penggerakan tubuh mengabaikan input dan malah mendengarkan perintah dari penghipnotis.

Orang yang terkena pengaruh hipnotis kehilangan konsentrasi sadarnya,sehingga dapat dengan mudah diperintah apa saja oleh si penghipnotis.

Pikiran serta daya imajinasinya tergiring dalam setiap ucapan pelaku. Misalnya, udara disini sangat panas berkeringat, atau kamu menggigil kedinginan, buka jam tangan dan diminta akan dikasihkan.

Ketika pengaruh hipnotis telah hilang, bahkan apa yang dilakukannya diluarkesadaran. Padahal sebenarnya orang yang terkena pengaruh hipnotis tidak berarti lupa seratus persen. Dia seolah-olah harus berbuat seperti halnya berada dalam alam mimpi, namun mengikuti segala ucapan penghipnotis. Kehilangan daya kontrol normal, terbang bersama imajinasi, sulit untuk menghindar.

Pelaku hipnotis, dengan beragam cara untuk melakukan hipnotisnya agar mengenai sasaran. Bisa dengan cara menatap mata korban, bisa dengan jalan disentuh, atau memperlihatkan benda yang diputar, dan lain-lain. Itu semua dilakukan untuk memasukan pengaruh hipnotis.

Lalu ciri orang yang sudah terkena pengaruh hipnotis, bagi penghipnotis akan nampak jelas….
Bersambung……….

Ketua KPU Pusat Hafiz Anshary menilai bahwa Pemilu 2009 jauh lebih cerdas dibandingkan dengan Pemilu 2004 karena menggunakan pulpen dengan tinta warna biru untuk menentukan suara sah.
         
Diungkapkannya, dengan menggunakan paku dan harus mencoblos terkesan menunjukkan kekerasan. “Kalau umum dicoblos di beberapa daerah ada yang menyebut ditusuk dan lainnya yang merupakan simbol-simbol kekerasan, akhirnya kita gunakan pulpen yang lebih cerdas,” katanya.
    
Hafiz menjelaskan, suara yang dianggap sah adalah satu tanda pada nama caleg atau lambang partai. Tanda selain contreng (v) seperti o, x, dan lain sebagainya dianggap tidak sah.
    
“Dua penandaan akan menjadikan suara tidak sah, akan tetapi jika tercoblos dinyatakan menjadi suara sah,” katanya.
    
Kenapa KPU menetapkan contreng sebagai tanda pemilih sah karena lebih umum dan lazim digunakan. Selain itu, waktu yang diperlukan juga lebih sedikit dibanding harus memberi tanda silang atau lainnya. (dikutif dari berbagai sumber)

Baiklah sebebelum memasuki bahasan pokok, kita bercerita dulu tentang ilmu lain, misalnya ilmu sihir, menaklukkan jin, sebaliknya manusia takluk kepada jin (yang bisa melahirkan ilmu sihir, gendam, pelet, santet dan sebangsanya). Ilmu sihir sangat populer pada zaman Fir’aun, hampir seluruh pengikutnya mengusai ilmu tersebut dengan level sangat tinggi. Namun semua sihir yang dipertontonkan mereka dihadapan Fir’aun untuk menaklukkan Nabi Musa as., seluruhnya tidak mempan melawan mujijat yang diturunkan Allah kepada Musa (mujijat tidak bisa dipelajari).

Sihir tidak berlaku di zaman Nabi Sulaiman as., karena seluruh jin, baik yang muslim atau pun yang kafir berada dibawah kekuasaan Nabi. Disitu jin semuanya tunduk kepada sang Nabi atas kehendak Allah, sehingga bisa disuruh apa saja. Tidak satu pun dari bangsa jin yang bisa membantah Nabi Sulaiman as.

Selain ilmu tersebut di atas ada pula ilmu kanuragan, yang mengandalkan fisik, strategi dan keahlian beladiri. Misalnya di Zaman Nabi Muhammad SAW., yang menganjurkan umatnya untuk belajar naik kuda, memanah, beladiri (berperang/kanuragan). Sehingga di lingkungan muslim terkenal Jendral yang tidak pernah kalah menghadapi musuh, yaitu Khalid bin Walid, selain ahli strategi juga ahli beladiri dan mengendarai kuda.

Kemudia pada zaman berikutnya, di Indonesia penulis pernah memperhatikan beberapa pesantren yang ternyata di dalamnya diajarkan pula beragam ilmu kanuragan atau beladiri. Tapi bukan tujuan untuk menyombongkan diri dan berbuat keonaran, hanya sekedar untuk bekal bela diri. Hanya sekedar Contoh yang mudah dan supaya tidak termasuk ria/takabur/sombong, lihatlah gambaran si Pitung, seorang santri, lihat pula para Kiai/ulama dalam film Mak Lampir, mereka rata-rata jago kanuragan/beladiri. Itu hanya sekedar contoh tentang sebuah gambaran nyata, yang tidak seharusnya menyebutkan pesantren mana, kiai mana, perguruan mana. (Jika tidak setuju boleh berkomentar).

Sekarang kita kembali pada pokok permasayalahan yang akan kita urai, kita bahas bersama. Penulis mengupas dan membahas seperti yang tertulis pada judul di atas bukan bertujuan macam-macam, namun hanya satu macam saja, yaitu ingin berbagi pengalaman….mudah-mudahan sama…kalau berbeda harap maklum, mungkin kita berbeda jalan ketika menuju sesuatu….

Bersambung………

Oleh Herdi Pamungkas

Hipnotis, Tenaga Dalam, Telepati, dan sebangsanya merupakan ilmu biasa bukan sulap-bukan sihir. Tidaklah teramat sulit untuk mempelajari, bahkan mengusai ilmu-ilmu tersebut. Pada hakekatnya pada setiap diri manusia terdapat bahan dasar dari ilmu-ilmu tadi, hanya tanpa sadar seakan-akan kita tidak bisa. Bahan dasar tadi dimiliki oleh makhluk hidup (khusnya manusia), yang akan kita bicarakan pada kesempatan ini adalah upaya/proses penggalian dari dasar-dasar ilmu tadi sehingga berkembang menjadi/sebuah ilmu yang dituju.

Selamat menyimak pada edisi berikutnya……….

Bersambung………..

                                                                                                      Ddronaalam wiracarita Mahabharata, Drona  atau Dronacharya adalah guru para Korawa dan Pandawa. Ia merupakan ahli mengembangkan seni pertempuran, termasuk dewāstra. Arjuna adalah murid yang disukainya. Kasih sayang Drona terhadap Arjuna adalah yang kedua jika dibandingkan dengan rasa kasih sayang terhadap puteranya, Aswatama.
Kelahiran dan kehidupan awal
Drona dilahirkan dalam keluarga brahmana (kaum pendeta Hindu). Ia merupakan putera dari pendeta Bharadwaja, lahir di kota yang sekarang disebut Dehradun (modifikasi dari kata dehra-dron, guci tanah liat), yang berarti bahwa ia (Drona) berkembang bukan di dalam rahim, namun di luar tubuh manusia, yakni dalam Droon (tong atau guci).

Kisah kelahiran Drona diceritakan secara dramatis dalam Mahabharata. Bharadwaja pergi bersama rombongannya menuju Gangga untuk melakukan penyucian diri. Di sana ia melihat bidadari yang sangat cantik datang untuk mandi. Sang pendeta dikuasai nafsu, menyebabkannya mengeluarkan air mani yang sangat banyak. Ia mengatur supaya air mani tersebut ditampung dalam sebuah pot yang disebut drona, dan dari cairan tersebut Drona lahir kemudian dirawat. Drona kemudian bangga bahwa ia lahir dari Bharadwaja tanpa pernah berada di dalam rahim.

Drona menghabiskan masa mudanya dalam kemiskinan, namun belajar agama dan militer bersama-sama dengan pangeran dari Kerajaan Panchala bernama Drupada. Drupada dan Drona kemudian menjadi teman dekat dan Drupada, dalam masa kecilnya yang bahagia, berjanji untuk memberikan setengah kerajaannya kepada Drona pada saat menjadi Raja Panchala.

Drona menikahi Krepi, adik Krepa, guru di keraton Hastinapura. Krepi dan Drona memiliki putera bernama Aswatama.
Belajar kepada Parasurama
Mengetahui bahwa Parasurama mau memberi pengetahuan yang dimilikinya kepada para brahmana, Drona mendatanginya. Sayangnya pada saat Drona datang, Parasurama telah memberikan segala miliknya kepada brahmana yang lain. Karena tersentuh oleh kesanggupan hati Drona, Parasurama memutuskan untuk memberikan pengetahuannya tentang ilmu peperangan kepada Drona.
Drona dan Drupada
Demi keperluan istri dan puteranya, Drona ingin bebas dari kemiskinan. Teringat kepada janji yang diberikan oleh Drupada, Drona ingin menemuinya untuk meminta bantuan. Tetapi, karena mabuk oleh kekuasaan, Raja Drupada menolak untuk mengakui Drona (sebagai temannya) dan menghinanya dengan mengatakan bahwa ia manusia rendah.

Dalam Mahabarata, Drupada memberi penjelasan yang panjang dan sombong kepada Drona tentang masalah kenapa ia tidak mau mengakui Drona. Drupada berkata, “Persahabatan, adalah mungkin jika hanya terjadi antara dua orang dengan taraf hidup yang sama”. Dia berkata bahwa sebagai anak-anak, adalah hal yang mungkin bagi dirinya untuk berteman dengan Drona, karena pada masa itu mereka sama. Tetapi sekarang Drupada menjadi raja, sementara Drona berada dalam kemiskinan. Dalam keadaan seperti ini, persahabatan adalah hal yang mustahil. Tetapi ia berkata bahwa ia akan memuaskan hati Drona apabila Drona mau meminta sedekah selayaknya para brahmana daripada mengaku sebagai seorang teman. Drupada menasihati Drona supaya tidak memikirkan masalah itu lagi dan ingin ia hidup menurut jalannya sendiri. Drona pergi membisu, namun di dalam hatinya ia bersumpah akan membalas dendam.
Legenda Dronacharya
Legenda tentang Drona sebagai guru besar dan kesatria tak terbatas pada mitologi Hindu saja, namun dengan kuatnya mempengaruhi tradisi sosial India. Drona memberi inspirasi perdebatan tentang moral dan dharma dalam wiracarita Mahabharata.
Bola dan cincin
Drona pergi ke Hastinapura dengan harapan dapat membuka sekolah seni militer bagi para pangeran muda dengan memohon bantuan Raja Dretarastra. Pada suatu hari, ia melihat banyak anak muda, yaitu para Korawa dan Pandawa yang sedang mengelilingi sumur. Ia bertanya kepada mereka tentang masalah apa yang terjadi, dan Yudistira, si sulung, menjawab bahwa bola mereka jatuh ke dalam sumur dan mereka tidak tahu bagaimana cara mengambilnya kembali.

Drona tertawa, dan menasihati mereka karena tidak berdaya menghadapi masalah yang sepele. Yudistira menjawab bahwa jika Sang Brahmana (Drona) mampu mengambil bola tersebut maka Raja Hastinapura pasti akan memenuhi segala keperluan hidupnya. Pertama Drona melempar cincin kepunyaannya, mengumpulkan beberapa mata pisau, dan merapalkan mantra Weda. Kemudian ia melempar mata pisau ke dalam sumur seperti tombak. Mata pisau pertama menancap pada bola, dan mata pisau kedua menancap pada mata pisau pertama, dan begitu seterusnya, sehingga membentuk sebuah rantai. Perlahan-lahan Drona menarik bola tersebut dengan tali.

Dengan keahliannya yang membuat anak-anak sangat terkesima, Drona merapalkan mantra Weda sekali lagi dan menembakkan mata pisau itu ke dalam sumur. Pisau itu menancap pada bagian tengah cincin yang terapung kemudian ia menariknya ke atas sehingga cincin itu kembali lagi. Karena terpesona, para bocah membawa Drona ke kota dan melaporkan kejadian tersebut kepada Bisma, kakek mereka.

Bisma segera sadar bahwa dia adalah Drona, dan keberaniannya yang memberi contoh, ia kemudian menawarkan agar Drona mau menjadi guru bagi para pangeran Kuru dan mengajari mereka seni peperangan. Kemudian Drona mendirikan sekolah di dekat kota, dimana para pangeran dari berbagai kerajaan di sekitar negeri datang untuk belajar di bawah bimbingannya.
Diskriminasi kasta

Sebuah lukisan dari India, tentang adegan saat Ekalawya mempersembahkan ibu jarinya kepada Drona.Ekalawya adalah seorang pangeran muda dari suku Nishadha, yang datang mencari Drona karena minta diajari. Drona tidak mau menerimanya karena ia tidak berasal dari golongan Warna (kasta) kesatria. Ekalawya tidak terkejut, kemudian memasuki hutan, dan ia mulai belajar dan berlatih sendirian, dengan sebuah patung tanah liat menyerupai Drona dan ia sembah. Dengan menyendiri, Ekalawya menjadi kesatria dengan kehebatan yang luar biasa, setara dengan Arjuna. Pada suatu hari, seekor anjing menggonggong saat ia serius melakukan latihan, dan tanpa melihat, sang kesatria menembakkan panah lalu menancap di mulut anjing tersebut. Para Pandawa melihat anjing itu lari, dan heran karena ada yang mampu melakukan perbuatan tersebut. Mereka melihat Ekalawya, yang mengaku bahwa ia adalah murid Drona. Drona kaget karena merasa tidak memiliki murid seperti Ekalawya. Kemudian Ekalawya menjelaskan bahwa setiap hari ia belajar dengan patung yang menyerupai Drona yang ia anggap sebagai guru. Karena merasa prestasi Arjuna akan tersaingi, Drona meminta agar Ekalawya mempersembahkan daksina kepada sang guru sebagai tanda bahwa pelajarannya telah sempurna. daksina yang diminta Drona adalah ibu jari Ekalawya. Ekalawya pun memotong jarinya sendiri sehingga ia tidak bisa lagi menggunakan senjata panah.

Karna yang ingin belajar di bawah bimbingan Drona juga ditolak dengan alasan bahwa Karna tidak berasal dari kasta kesatria. Karena merasa terhina, Karna belajar kepada Parasurama dengan menyamar sebagai brahmana.
Pembalasan terhadap Drupada
Saat para Korawa dan Pandawa menyelesaikan pendidikannya, Drona menyuruh agar mereka menangkap Raja Drupada yang memerintah Kerajaan Panchala dalam keadaan hidup-hidup. Duryodana, Dursasana, Wikarna, dan Yuyutsu mengerahkan tentara Hastinapura untuk menggempur Kerajaan Panchala, sementara Pandawa pergi ke Kerajaan Panchala tanpa angkatan perang. Arjuna menangkap Drupada dan membawanya ke hadapan Drona. Drona mengambil separuh dari wilayah kekuasaan Drupada, dan separuhnya lagi dikembalikan kepada Drupada. Dengan dendam membara, Drupada melaksanakan upacara untuk memohon anugerah seorang putera yang akan membunuh Drona dan seorang puteri yang akan menikahi Arjuna. Maka, lahirlah Drestadyumna, pembunuh Drona dalam Bharatayuddha, dan Dropadi, yang menikahi Arjuna dan para Pandawa.
Pertempuran di Kurukshetra
Saat perang di Kurukshetra berkecamuk, Drona menjadi komandan pasukan Korawa. Ia merencanakan cara yang curang untuk membunuh Abimanyu pada pertempuran di hari ketiga belas.
Kematian Drona
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Yudistira
Sebelum perang, Bagawan Drona pernah berkata, “Hal yang membuatku lemas dan tidak mau mengangkat senjata adalah apabila mendengar suatu kabar bencana dari mulut seseorang yang kuakui kejujurannya”. Berpedoman kepada petunjuk tersebut, Sri Kresna memerintahkan Bhima untuk membunuh seekor gajah bernama Aswatama, nama yang sama dengan putera Bagawan Drona. Bhima berhasil membunuh gajah tersebut lalau berteriak sekeras-kerasnya bahwa Aswatama mati. Drona terkejut dan meminta kepastian Yudistira yang terkenal akan kejujurannya. Yudistira hanya berkata, “Aswatama mati”. Sebetulnya Yudistira tidak berbohong karena dia berkata kepada Drona bahwa Aswatama mati, entah itu gajah ataukah manusia (dalam keterangannya ia berkata, “naro va, kunjaro va” — “entah gajah atau manusia”). Gajah bernama Aswatama itu sendiri sengaja dibunuh oleh Pendawa agar Yudistira bisa mengatakan hal itu kepada Drona sehingga Drona kehilangan semangat hidup dan Korawa bisa dikalahkan dalam perang Bharatayuddha.
Drona dalam pewayangan Jawa
Riwayat hidup Drona dalam pewayangan Jawa memiliki beberapa perbedaan dengan kisah aslinya dari kitab Mahabharata yang berasal dari Tanah Hindu, yaitu India, dan berbahasa Sanskerta. Beberapa perbedaan tersebut meliputi nama tokoh, lokasi, dan kejadian. Namun perbedaan tersebut tidak terlalu besar sebab inti ceritanya sama. Perlu digarisbawahi juga, bahwa kepribadian Drona dalam Mahabharata berbeda dengan versi pewayangan.
Kepribadian
Resi Drona berwatak tinggi hati, sombong, congkak, bengis, banyak bicaranya, tetapi kecakapan, kecerdikan, kepandaian dan kesaktiannnya luar baisa serta sangat mahir dalam berperang. Karena kesaktian dan kemahirannya dalam olah keprajuritan, Drona dipercaya menjadi guru anak-anak Pandawa dan Kurawa. Ia mempunyai pusaka sakti berwujud keris bernama Keris Cundamanik dan panah Sangkali (diberikan kepada Arjuna).
Riwayat
Bhagawan Drona atau Dorna (dibaca Durna) waktu mudanya bernama Bambang Kumbayana, putera Resi Baratmadya dari Hargajembangan dengan Dewi Kumbini. Ia mempunyai saudara seayah seibu bernama Arya Kumbayaka dan Dewi Kumbayani. Ia adalah guru dari para Korawa dan Pandawa. Murid kesayangannya adalah Arjuna. Resi Drona menikah dengan Dewi Krepi, putri Prabu Purungaji, raja negara Tempuru, dan memperoleh seorang putra bernama Bambang Aswatama. Ia berhasil mendirikan padepokan Sokalima setelah berhasil merebut hampir setengah wilayah negara Pancala dari kekuasaan Prabu Drupada.

Dalam perjalanannya mencari Sucitra, ia tidak dapat menyeberang sungai dan ditolong oleh seekor kuda terbang jelmaan Dewi Wilutama, yang dikutuk oleh dewa. Kutukan itu akan berakhir bila ada seorang satria mencintainya dengan tulus. Karena pertolongannya, maka sang Kumbayana menepati janjinya untuk mencintai kuda betina itu. Namun karena terbawa nafsu, Kumbayana bersetubuh dengan kuda Wilutama hingga mengandung, dan kelak melahirkan seorang putra berwajah tampan tetapi mempunyai kaki seperti kuda (bersepatu kuda), yang kemudian diberi nama Bambang Aswatama.

Setelah bertemu Sucitra yang telah menjadi raja dan bergelar Prabu Drupada, ia tidak diakui sebagai saudara seperguruannya. Kumbayana marah merasa dihina, kemudian balik menghina Raja Drupada. Namun Mahapatih Gandamana (dulu adalah Patih di Hastinapura, saat pemerintahan Pandu) menjadi murka sehingga terjadi peperangan yang tidak seimbang. Meskipun Kumbayana sangat sakti ternyata kesaktiannya masih jauh di bawah Gandamana yang memiliki Aji Bandung Bondowoso (ajian ini diturunkan pada murid tercintanya, Raden Bratasena) yang memiliki kekuatan setara dengan seribu gajah.

Kumbayana menjadi bulan-bulanan sehingga wajahnya rusak. Namun dia tidak mati dan ditolong oleh Sangkuni yang bernasib sama (baca sempalan Mahabharata yang berjudul Gandamana Luweng). Akhirnya ia diterima di Hastinapura dan dipercaya mendidik anak-anak keturunan Bharata (Pandawa dan Korawa).
Drona dalam Bharatayuddha
Dalam perang Bharatayuddha, Resi Drona diangkat menjadi Senapati Agung Kurawa, setelah gugurnya Bisma. Ia sangat mahir dalam siasat perang dan selalu tepat menentukan formasi perang. Resi Drona gugur di medan pertempuran oleh tebasan pedang Drestadyumena, putera Prabu Drupada, yang memenggal putus kepalanya. Konon kematian Resi Drona akibat dendam Prabu Ekalaya, raja negara Parangggelung yang arwahnya menyatu dalam tubuh Drestadyumena. Akan tetapi sebenarnya kejadian itu disebabkan oleh taktik perang yang dilancarkan oleh pihak Pandawa dengan tipu muslihat karena kerepotan menghadapi kesaktian dan kedigjayaan sang Resi.

Pelajaran yang dapat diambil dari sini adalah bagaimanapun saktinya sang resi, beliau sangat sayang terhadap keluarganya sehingga termakan tipuan dalam peperangan yang mengakibatkan kematiannya. (dikutip dari wikipedia)

ozawaTanggal lahir: 8 Januari 1986 (umur 23)
Tempat lahir: Hokkaido, Jepang
Ukuran vital: 88(E)-58-86(cm)
35-23-34(inch)
Tinggi: 1.62 m (5 ft 4 in)
Berat: 48 kg
Warna mata: Coklat
Warna rambut: Hitam
Payudara asli: Ya
Golongan darah: A
Etnis: Jepang dan Kanada Perancis
Alias: Miyabi
Official Website
Maria Ozawa ( ,Ozawa Maria), juga dikenal sebagai Miyabi  (lahir 8 Januari 1986; umur 23 tahun), adalah bintang porno Jepang.

 

 Kehidupan dan Karir
Seperti idola pornografi lainnya, Tina Yuzuki dan Anna Ohura, Maria Ozawa memiliki ras campuran. Ibunya adalah orang Jepang dan ayahnya orang Kanada Perancis.

Ozawa mengalami pengalaman seksual pertamanya pada usia 13 tahun dan mempelajari 48 posisi seksual dari buku yang ia beli sendiri. Dia pertama kali melihat AV (adult video/Film Dewasa) dengan melihat beberapa rekaman video yang dimiliki saudara laki-lakinya. Tidak seperti kebanyakan aktris AV, Ozawa tidak diarahkan. Dia pertama kali dikenalkan pada industri AV melalui temannya yang bekerja pada perusahaan AV. Ozawa kemudian tertarik pada industri tersebut, mencari perusahaan yang cocok sampai akhirnya ia menemukan perusahaan B-open, agen model yang disukainya. Dia mengikuti wawancara dengan perusahaan tersebut dan diterima. Ozawa memulai karirnya sebagai model Miyabi untuk situs Shirouto-Teien.com pada Juni 2005, yang menghasilkan beberapa set foto dan Video Hardcore gonzo pendek uang diedarkan dalam format CD-R dan DVD-R. Kemudian Ozawa menandatangani kontrak dengan S1, sebuah perusahaan AV yang memproduksi pornografi hardcore ringan, tampil pertama kali sebagai Maria Ozawa pada 7 Oktober 2005 dengan video New Face – Number One Style. Ozawa ingat saat itu ia sangat gugup selama proses syuting Film AV pertamanya sampai ia tidak mampu menatap wajah lawan mainnya.

Di S1, Ozawa secara teratur muncul dalam video bulanan sampai Februari 2007. Ozawa juga ikut berpartisipasi dalam beberapa video kompilasi S1, termasuk video kontestan “AV Open 2006″, sebuah pameran kompetisi diantara studio pornografi Jepang yang menentukan studio mana yang memiliki omset penjualan paling tinggi. Video Hyper – Barely There Mosaic yang menghadirkan Maria Ozawa, diantara beberapa idola AV lainnya seperti, Sora Aoi, Yua Aida, Yuma Asami, dan Rin Aoki memenangkan juara pertama. Maria Ozawa mengakhiri kontrak dengan S1 pada awal 2007. Bersama dengan Rin Suzuka, Reina Matsushima dan Rin Aoki, mereka kemudian pindah ke perusahaan baru yaitu, Dasdas (DAS). Pada 25 April 2007, Dasdas mengedarkan beberapa video pertama perusahaan tersebut, diantaranya menghadirkan Maria Ozawa. Video-video Dasdas menampilkan adegan pemerkosaan, creampie, urolagnia, enema, dan penyikasaan fisik, tema yang sangat berbeda dari video S1nya.

Pada akhir 2007, ia menandatangani kontrak (tidak eksklusif) dengan Attackers’ , sebuah studio AV yang memiliki spesialisasi pada tema pornografi perkosaan. Pada Juni 2008 ia berpindah studio sekali lagi, berpindah ke studio baru yaitu Ranmaru yang meluncurkan videonya dengan studio tersebut pada 19 Juli 2008. Pada pertengahan 2008 Maria Ozawa melakukan beberapa variasi video dari produser yang berbeda termasuk video lesbiannya yang pertama (W Cast Premium Lesbian) untuk LADYXLADY, sebuah divisi dari studio pornografi Jepang Soft on Demand. Dia akhir September 2008 Maria Ozawa mengeluarkan AV pertamanya yang benar-benar tanpa mozaic atau dengan kata lain tanpa sensor, dengan judul Tora-Tora Platinum 49.

Selain dalam video dewasa, ia juga tampil pada film-film V-Cinema, sebuah buku foto dan beberapa video glamor (”gravure”). Ia juga pernah tampil dalam MTV Jepang, dan di Grup hip hop Yokohama DS455’s untuk lagu “Summer Time in the D.S.C.”.

Pada sebuah wawancara tahun 2007, Ozawa menyatakan bahwa ketertarikannya pada industri film dewasa tetap tinggi, dan dalam lemari videonya hanya terdapat film dewasa saja. Ia mendapat hidup yang layak dari industri ini, tinggal di sebuah apartemen mewah dengan sewa per bulan US$1.682, dan Ozawa mendapat penerimaan minimal $8.000 per bulan. Walaupun begitu, ia mengatakan bahwa ia akan berhenti dari industri AV jika ia terpaksa untuk melakukan hal lain, Ozawa juga mencegah teman-temannya agar tidak bekerja pada Industri AV. Keluarga Ozawa dan temannya sangat menentang dan tidak setuju dengan profesinya. Ketika Ozawa membawa beberapa video AVnya untuk ditunjukkan pada orangtuanya, mereka menolak untuk menontonnya dan mengusirnya keluar dari rumah. (Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas)

Tulisan Sebelumnya »