Lelaki muda bertubuh kekar berdiri tegap dalam gelap malam, dari bola matanya memancar sinar, seakan-akan sanggup menembus kegelapan. Mulutnya komat-kamit membacakan mantra, terkadang meluncur teriakan keras laksana guntur memecah suara gemuruhnya air sungai.
“Cepat selesaikan! Sebelum datang waktu subuh.” kembali teriakannya, memecah riuh rendah, suara robohnya pepohonan, remuknya bebatuan, gemuruhnya air, serta gemerincingnya pekakas terbuat dari baja.
Secara kasat mata, seandainya ada orang yang menyaksikan tentulah akan merasa heran. Apa sebenarnya yang sedang dikerjakan lelaki muda tersebut, hanya bersungut-sungut dan berteriak-teriak, taubahnya panglima perang memberikan perintah. Kenapa batu, pohon, kayu, terbentuknya sebuah bendungan sedikit-demi sedikit dengan sendirinya? Itu terjadi seakan-akan dibawah perintahnya? Tiada satu pun manusia yang terlihat melakukan semuanya, selain dirinya sendiri dengan terikan lantang laksana panglima perang?
Guntur dilangit bersahutan, namun tiada ada hujan meski setetes, awan gelap perlahan bergeser, seakan-akan membiarkan buyar. Awan putih mulai menggeser, menyeret, gelapnya malam.
“Cepat selesaikan!” sorot matanya menyentuh bendungan yang menyerupai danau, hampir tuntas. Lalu beralih ke tepi bendungan, tumpukan kayu yang sudah dihaluskan dan dibentuk bertumpuk, disamping perahu yang belum selesai dikerjakan.
“Ayo percepat! Pekerjaan kalian.” terkadang melirik ke angkasa, wajahnya tampak gelisah. Hitamnya malam seakan-akan sirna diusir dengan akan tibanya sang pagi.
Bersambung…….



