“Nah, itulah Ki Ageng Pengging.” Syekh Siti Jenar melangkah pelan, “Makanya Islam mengajarkan jika di antara kita terjadi perbedaan paham sebaiknya dikembalikan pada alquran dan assunnah. Semua perbedaan pendapat dan pemahaman bisa diselesaikan dengan cara musyawarah. Tidak semestinya melakukan tindakan yang tidak diridhoi Allah, apalagi menciptakan laknat. Bukankah Islam mengajarkan bahwa kita harus selalu menebar rakhmat, hamamayu hayuning bawanna? Seandainya orang tadi belum mengenal Desa Kendharsawa, maka bisa dikatakan tersesat. Salah jalan. Jika salah jalan karena ketidaktahuan itulah yang sesat.” urainya.
“Ya, karena tidak akan mungkin sampai pada tujuan.” Kebo Kenongo mengangguk-anggukan kepala, “Jadi makna “sesat” disini bisa diartikan berbeda?”
“Tentu,” Syekh Siti Jenar mengiyakan, “Bisa saja kita yang salah karena keterbatasan ilmu dan pengetahuan. Bisa juga orang yang kita anggap sesat benar-benar sesat. Atau bahkan sebaliknya.”
“Syekh,” Ki Chantulo mendekat, dibelakangnya berdiri Ki Donoboyo. “Kita telah jauh memperdalam ilmu hamamayu hayuning bawanna, ma’rifat mungkin hampir saya capai. Namun saya khawatir ada akibat….lihatlah daun dan ranting kering ini, sangat mudah terlepas dari batang pohon meski hanya tertiup angin sepoi-sepoi.”
“Jika kita sebagai manusia tentu saja harus punya rasa khawatir.” Syekh Siti Jenar membalikan tubuhnya, tatapan matanya menyapu wajah Ki Chantulo. “Kekhawatiran muncul karena keterbatasan ilmu dan ketidaktahuan perjalanan hidup. Ketidaktahuan akan ketidakjelasan kabar.”
“Maksudnya?”
“Saat orang bilang, awas jangan lewat jalan Kendharsawa karena ada rampok kejam, apa yang akan andika lakukan?”
“Saya akan menertawakan orang tadi, karena setahu saya jalan menuju Desa Kendharsawa aman.”
“Karena andika tahu betul.” ujar Syekh Siti Jenar, “Tapi sebaliknya bagi orang yang belum mengenal Kendharsawa tentu akanmerasa khawatir. Mengenai kabar yang tidak jelas tadi, bahkan akan menimbulkan rasa was-was.”
“Ya,” Ki Chantulo mengangguk, “Mungkin karena keterbatasan ilmu saya yang menyebabkan khawatir dan takut.”
“Sebenarnya apa yang menjadi kekhawatiran andika, Ki Chantulo?” tanya Kebo Kenongo.
“Saya mendengar kabar ditangkapinya orang-orang yang menganut ajaran Syekh Siti Jenar. Jika tidak salah dewan wali menganggap ajaran kita sesat.” Ki Chantulo menundukan kepala.
“Syekh?” Kebo Kenongo menatap Syekh Siti Jenar, belum juga kering mulutnya ketika berbincang tentang sesat.
Bersambung…….
Ditulis dalam Cerber | Tidak ada komentar »