Feeds:
Tulisan
Komentar

Lelaki muda bertubuh kekar berdiri tegap dalam gelap malam, dari bola matanya memancar sinar, seakan-akan sanggup menembus kegelapan. Mulutnya komat-kamit membacakan mantra, terkadang meluncur teriakan keras laksana guntur memecah suara gemuruhnya air sungai.

“Cepat selesaikan! Sebelum datang waktu subuh.” kembali teriakannya, memecah riuh rendah, suara robohnya pepohonan, remuknya bebatuan, gemuruhnya air, serta gemerincingnya pekakas terbuat dari baja.

Secara kasat mata, seandainya ada orang yang menyaksikan tentulah akan merasa heran. Apa sebenarnya yang sedang dikerjakan lelaki muda tersebut, hanya bersungut-sungut dan berteriak-teriak, taubahnya panglima perang memberikan perintah. Kenapa batu, pohon, kayu, terbentuknya sebuah bendungan sedikit-demi sedikit dengan sendirinya? Itu terjadi seakan-akan dibawah perintahnya? Tiada satu pun manusia yang terlihat melakukan semuanya, selain dirinya sendiri dengan terikan lantang laksana panglima perang?

Guntur dilangit bersahutan, namun tiada ada hujan meski setetes, awan gelap perlahan bergeser, seakan-akan membiarkan buyar. Awan putih mulai menggeser, menyeret, gelapnya malam.

“Cepat selesaikan!” sorot matanya menyentuh bendungan yang menyerupai danau, hampir tuntas. Lalu beralih ke tepi bendungan, tumpukan kayu yang sudah dihaluskan dan dibentuk bertumpuk, disamping perahu yang belum selesai dikerjakan.

“Ayo percepat! Pekerjaan kalian.” terkadang melirik ke angkasa, wajahnya tampak gelisah. Hitamnya malam seakan-akan sirna diusir dengan akan tibanya sang pagi.

Bersambung…….

Oleh Herdi Pamungkas

 ”Mengapa, Ramanda?” tiba-tiba Raden Mas Sahid mendongak, keningnya berkerut.

“Tidak. Tidak, mengapa, Raden.” lalu bangkit, “Itu semua hanya untuk kebaikanmu, Raden.” Tumenggung tak lagi menoleh, “Pertemuan hari ini cukup, kembalilah kalin pada pekerjaan masing-masing, tingkatkan terus kemajuan Kadipaten kita.”

Pengawal, ponggawa, prajurit, inang, dan dayang, mulai beranjak satu demi satu meninggalkan bale paseban, kembali menjalankan tugas sesuai titah penguasa Tuban.

Raden Mas Sahid, yang telah menginjak remaja mulai berpikir. “Apa maksud perkataan Ramanda tadi?” langkahnya dalam pengawasan prajurit pengawal dan dayang, “Mengapa aku tidak diperbolehkan keluar dari istana?”

 ”Maaf, Raden.” Pengawal mendekat, “Saatnya berlatih olahkanuragan.”

 ”Ya, Paman.” lamunannya terusik. Langkahnya diikuti prajurit pengawal menuju halaman samping istana.

“Raden, kita lanjutkan pelajaran yang tertunda hari kemarin.” lelaki paruh baya tersenyum, tangannya melambai.

“Baik, Guru.” Raden Mas Sahid mulai berdiri tegak pasang kuda-kuda, untuk melanjutkan jurus-jurus yang pernah diajarkan hari sebelumnya. “Membosankan…” gumamnya.

“Kenapa, Raden?” tanya Ki Cakradewangga, mengibas kupingnya.

“Tidak, Guru.” kembali mengayunkan pukulannya menghantam begig bambu yang berlapis ijuk.

“Hahaha…bagus, Raden.” Ki Cakradewangga, bertepuktangan menyaksikan kecerdasan dan ketangkasan Raden Mas Sahid, dalam menyerap setiap gerakan ilmu beladiri yang diajarkannya.

Bersambung…..

Tatap mata Ki Dalang melekat pada ujung wayang kayon, ingatannya melesat terbang ke angkasa, lembaran awan tersingkap lembar demi lembar, membuka catatan masa lalu.

 Tampak istana megah tempat tinggal penguasa wilayah Tuban, Tumenggung Wilwatikta. Benteng istana berdiri dengan gagah dan angkuh, disamping kiri kanannya prajurit penjaga dengan tombak di lengan kanan serta keris terselip di antara lipatan sabuknya.

Pengurus kebun mengusik sampah dedaunan kering yang tidak kuat lagi berpegang pada ranting, jatuh tertiup angin sepoi-sepoi, terserak di atas rerumputan. Sebagian terinjak kaki burung-burung yang meloncat dari ranting satu ke ranting lainnya, sambut mentari pagi hangatkan suasana.

Benteng megah mengurung keindahan dalam istana, penjaga gerbang sewaktu-waktu membuka pintu setelah mendapat isyarat dari luar, datangnya beberapa roda pedati yang ditarik berpasang-pasang ekor kerbau dengan muatan penuh rempah-rempah, kain, emas, serta keperluan lainnya. Barang kiriman hasil upeti dari jerih payah rakyat Tuban yang dipungut tiap saat.

Setiap barang yang masuk diseleksi untuk ditempatkan di dalam gudang penyimpanan barang milik istana.  Tiap gudang dijaga ketat para pengawal. Penghuni istana serba berkecukupan, tiada seorang pun tanpa pernak-pernik perhiasan, bentuk serta kadarnya disesuaikan dengan jenjang kepangkatan.

Tumenggung tampak gagah dengan berbagai pernak-pernik serba berlapis emas, mulai dari mahkota, pakaian, kain, serta terompah. Tubuh tinggi besar melangkah pelan mendekati singgasana bertahtakan emas permata. 

Setelah duduk di  atas singgasana, tatapan matanya berhamburan pada para pengawal istana, permaisuri, inang, dayang, dan para ponggawa yang duduk rapih sesuai dengan pangkat juga kedudukannya.

“Aku telah menyaksikan kemajuan di istana Tuban.” tatap Tumenggung Wilwatikta, “Semuanya tiada lain karena kerja keras andika semua selaku abdi….”

“Kami selaku abdi Gusti, mohon maklum hanya inilah yang bisa dipersembahkan.” hormat Ki Dirgoboyo.

“Bagus, sudah ada peningkatan.” lalu melirik ke sudut kanan, tampak anak muda berwajah tampan menunduk, “Pangeranku jangan biarkan keluar dari istana. Jagalah dia!”

Bersambung…..

Senja itu angin bertiup tidak terlalu kencang. Daun kering berjatuhan menukik menyentuh tanah. Pertanda semuanya akan kembali padaNya, tak luput ranting kering, serta binatang jatuh dan mati.

Seiring dengan indahnya lembayung di upuk barat, terseret gelapnya malam  yang tak lama lagi datang. Tiada seorang pun yang sanggup mencegahnya, apalagi merubahnya. Semuanya telah menjadi ketentuan dan kuasaNya.

Torehan pena mencumbu kertas, helai demi helai mulai terciprat tinta hitam nodai putihnya. Tiada peduli tetesnya keringat, mengusik lipatan kain lengan baju berulang untuk menyekanya.

Sentuhan, itu telah mengubah putihnya tiap lembaran menjadi ternoda, untaian kata memanjang, membawa pesan sebagai pertanda. Petata, petiti, sabda, lan nasehat, gamelan lan kidung, saling rangkul, saling peluk. Melahirkan beribu makna penuntun umat manusia agar selamat dunia akhirat.

Wayang kayon diletakan, gamelan mengalun pelan mengelus hati mengusap nurani. Mengusik gemuruhnya dada, galau cemas, mulai direda bahkan hanyut ditelan arus tenang alunan lelagu Ki Dalang.

Untaian kalimat meluncur berirama diiring gamelan alon menghentikan hiruk-pikuk, seakan-akan angin pun berhenti bertiup, burung hantu terpukau kagum, bintang-gemintang mengentikan kedip. Terpesona petuah pembelah dada, penabur benih-benih keimanan, merasuki sekujur tubuh. Mengalir menyatu dengan darah, menyelinap ke dalam batin.

“Layang jamus kalimusada……” Ki Dalang berujar pelan, “…perlambang keagungan….”

Bersambung…………..

1. Tahun ini ‘kan berlalu, laksana anak panah terlepas dari busurnya. Pajar baru di tahun yang akan datang, semoga menjadi lembaran baru yang lebih baik. Selamat tahun baru 2010 M, semoga lebih maju dan sukses.

2. Serpihan malam bulan separuh, jelang hari baru pertanda tiba. Kembang api membuncah ke angkasa sambut tahun muda 2010. Selamat tahun baru 2010 M, semoga lebih baik dibanding tahun sebelumnya.

3. Waktu terus berlalu, lembaran demi lembaran telah dilalui. Coretan demi coretan telah memenuhi, kadang tak berarti, kadang tanpa makna, atau hanya sedikit makna. Semoga di tahun ini setiap lembaran memiliki makna, setiap lembaran bermanfaat. Selamat tahun baru 2010. Semoga lebih sukses.

4. Tahun ini hampir usai terlalui, belumlah tergores coretan berarti, belumlah setiap gagasan menjadi nyata, konsep masih terdokumenkan. Padahal telah berada dipenghujung, meski akan terlewati, semoga ada perubahan, dalam lembaran baru. Selamat tahun baru 2010 M.

5. Matahari menyelinap dibalik bukit, sembunyikan kenangan hidup, menyimpan lembaran usang, menyambut hari-hari muda, sebentar lagi ‘kan menjelang. Selamat datang tahun baru 2010 M, harapan baru dan perubahan.

6. Masa lalu adalah sejarah, hari ini adalah goresan, hari esok adalah harapan. Selamat datang tahun baru 2010 M. Seiring dengan perginya kenangan, menyambut harapan. Selamat tinggal kenangan, selamat datang harapan.

7. Malam ini ‘kan berlalu, minggu ini ‘kan beranjak, bulan ini akan pergi, tahun ini ‘kan meninggalkan. Sejarah kehidupan, catatan suka dan duka, menyongsong tahun baru. Selamat tahun baru 2010 M. Semoga selalu jaya dan sejahtera.

8. Senja indah, kirimkan ciprat keemasan, kirimkan pertanda keagungan, kekusaan, serta kemegahan. Meski itu hanya sekejap, hingga sirna ditepis malam, pertanda esok akan tiba. Selamat tahun baru 2010 M. Semoga sukses selalu.

 ”E…eh,” Syekh Siti Jenar menjaga keseimbangan.

“Dimas, mengapa berlaku demikian padanya?” tatap Pangeran Bayat.

“Maaf, Kakang. Dia terlalu angkuh dan selalu mencela kita.  Arti nya melawan Pejabat Negara. Tidak sepantasnya bagi rakyat  jelata  melawan Pejabat.”

“Ternyata  kisanak  telah  dilenakan  dengan  pakaian  kebesaran, Pangeran.”  sungging Syekh Siti Jenar. “Tidakah antara si  miskin  dan  si  kaya,  pejabat atau pun rakyat semuanya  sama  di  depan  hukum?”

“Siapa bilang?” geram Pangeran Modang. “Andika selain  penghianat Agama  dan Negara juga berani mencela setiap ucapan  saya.  Tidak  sadarkah  derajat  andika dan saya berbeda. Andika  hanya  rakyat  jelata, saya pejabat Negara. Mestikah saya hormat terhadap  andika?”

“Benar…benar kisanak telah dibutakan gemerlapnya pakaian  kebesaran dan singgasana jabatan.” sungging Syekh Siti Jenar,  ”Kisanak  telah  lupa  tentang asal muasal  sendiri,  apalagi  hakikat  hidup.  Lantas  tidakah ingat bahwa Allah menilai  manusia  bukan karena  parasnya  yang  cantik, bukan  karena  jabatannya,  bukan  karena  miskinnya,  tetapi orang yang paling  mulia  dihadapanNya hanyalah  nilai  ketakwaannya? Dunia, jabatan,  kekuasaan,  serta segala  yang  kisanak miliki tidak akan  pernah  menolong  dan membantu ketika kita ber…”

“Diam!” bungkam Pageran Modang, “Tidak..semestinya andika menggurui  saya.” mukanya merah padam, matanya menyala terbakar  marah. Kepalan tangannya menghantam lambung.

“Akhhh…” jerit lirih Syek Siti Jenar, merunduk.

“Rupanya andika harus mendapat pelajaran!” ketusnya.

Bersambung……..

“O…”  hela  Syekh Siti Jenar, “…teramat  mudah  menghilangkan nyawa orang dengan jalan dipenggal. Mestikah hukum penggal dilak ukan demi menghilangkan nyawa orang?”

 ”Jangan salah arti, Syekh!” ujar Pangeran Modang, “Hukum  penggal dilakukan  bukan untuk menghilangkan nyawa orang!  Ingatlah,  pemenggalan dilakukan demi tegaknya hukum!”

“Bukankah  pada akhirnya tetap untuk menghilangkan  nyawa  orang?  Yang kisanak anggap sebagai musuh Negara?”

“…tidak…”

“Mengapa  tidak?  Bukankah setelah orang dipenggal  dan  lehernya  putus akan mati? Itu sebuah pembunuhan, yang tidak memiliki  rasa  kemanusian  sama  sekali. Apa bedanya kisanak  dengan  menghargai  binatang ternak yang disembelih?”

 ”Apa bedanya seorang penjahat seperti andika dengan hewan sembel ihan? Bukankah tidak lebih rendah perbuatan andika dari  binatang  sembelihan?”

“Kisanakah yang menentukan rendah dan terhormatnya derajat  manusia?”

“Ini sudah menjadi ketentuan hukum…” Pangeran Modang  mengerutkan  keningnya, lalu lengan bajunya mengusap keringat yang  mulai  meleleh dari dahinya. “…hingga derjat andika dianggap setingkat  dengan   binatang   sembelihan.   Maka   hukum   penggal    sugah  semestinya…”

“Pangeran,”  desis  Sunan  Geseng.  ”Tidakah  perkataan  Pangeran  terlalu berlebihan? Bukankah pengadilan nanti yang akan  menentukan di depan sidang para wali dan Gusti Sinuhun?”

 ”Ah,  tapi…” Pangeran Modang tampak pucat. “Bukankah  sepantasnya, Kanjeng Sunan. Jika Syekh Siti Jenar diberi sedikit penjelasan…maksud  saya  supaya  tersadar  akan  kesalahan  dan  dosa-dosanya. Sebelum hukum dijatuhkan dia mau bertobat…”

“Hahahaha….” Syekh Siti Jenar terkekeh, “….Pangeran perkataan  kisanak berlebihan…”

“Diam,  Syekh!” Pangeran Modang merah padam, lalu memukul  pundak  Syekh Siti Jenar hingga terhuyung.

Bersambung…….

Tidak setiap orang bisa dihipnotis

Ketika kita sedang baca koran, ada judul jutaan rupiah raib seorang ibu kena hipnotis, di televisi diberitakan pula korban hipnotis. Hipnotis oleh sebagain orang digunakan untuk kejahatan, terutama meraup keuntungan dengan mudah. Namun sangat ironis, mengapa “si pelaku hipnotis” bisa diciduk polisi? Mengapa hipnotis tidak digunakan “si pelaku” agar tidak ditangkap polisi?

Sesuai dengan pembahasan kita saat ini, tidak setiap orang bisa dihipnotis.

Hipnotis hanya kena pada orang yang ingin dihipnotis. Ibu korban hipnotis secara sadar atau tidak sadar kena hipnotis karena dalam batinnya punya daya ingin. Maksudnya, ketika pelaku mendekat lalu terlibat dalam obrolan. Padahal kita belum kenal dengan orang tadi, lalu “si pelaku” mulai mempengaruhi lewat obrolan. Intinya pada saat terlibat dalam obrolan “si pelaku” sedang mencari titik lemah korban. Jika titik lemah korban di ketahui “si pelaku” maka pengaruhnya akan masuk, lalu berada dalam kendalinya.

Jika pelaku memulai dengan jalur obrolan biasanya diawali dengan kalimat-kalimat yang menyeret kita pada perasaan, empati, simpati, haru, berkesan, dan lain-lain. Itulah titik lemah calon korban, maka daya kontrol pikiran normal perlahan akan sirna dengan perasaan-perasaan tadi. Dalam hal umum kebanyakan korban hipnotis adalah ibu-ibu, mengapa? Karena perempuan terkadang lebih mempergunakan perasaan. Tidak menutup kemungkinan laki-laki pun jadi korban, itu pun ketika pikiran kita sedang tidak lemah/karuan. Maksudnya daya kontrol yang bersifat “rasional”.

Penangkal Hipnotis

Kenapa polisi yang menciduk “si pelaku” tidak bisa dihipnotis? Karena situasi daya kontrol saat melakukan penangkapan berada di atas pengaruh pelaku. Seandainya setiap orang bisa menjaga daya kontrol pikiran tidak akan bisa dipengaruhi hipnotis.

Orang yang daya kontrol pikirannya kuat, suka bercanda, rata-rata sulit untuk dihipnotis. Lalu tidak mudah terpengaruh obrolan orang yang baru dikenal, bahkan orang yang sudah lama kita kenal pun. Hendaklah kita lebih mengutamakan daya kontrol yang bersifat “rasional” ketimbang “emosional” (perasaan). Orang-orang semacam itulah yang sangat sulit untuk dipengaruhi oleh hipnotis.

Sebelum kita mempelajari hipnotis sebaiknya menguasai dulu penangkalnya….

Bersambung……..

  • 1. ngaborong doran jeung hayam
    diparaban sampeu atah
    wilujeng boboran siam
    mugi urang wangsul fitrah
  • 2. boh bilih ngical kalapa
    candakna nganggo carangka
    boh bilih kalindih murka
    muga kersa ngahampura
  • 3. boh bilih ka Sukajadi
    ulah hilap meser roti
    boh bilih kalangsu dengki
    muga kersa ngamaklumi
  • 4. salami di Sukajadi
    teu ningalkeun kuring salat
    Salami urang pahiri
    urang silih pundut maaf
  • 5. lamun kuda mirip itik
    loba jalma lalumpatan
    salami urang kumelip
    tangtos seueur kalepatan
  • 6. cecendet mande kiara
    dijualan make panci
    mugi kersa ngahampura
    kuring kungsi ingkar janji
  • 7. mun cecendet mande kiara
    gera cokot hiji-jiji
    mugi kersa ngahampura
    kuring kungsi nganyenyeri
  • 8. mun indit ka Sukmanah
    ulah poho ka Pa Lurah
    mugi anjeun jembar manah
    sabab kuring niat pasrah
  • 9. hirup kumbuhna manusa
    tangtu kungsi haramjadah
    kuring pasrah tumarima
    laku lampah teu merenah
  • 10. meuli kacu ejeung gincu
    mawana bari disuhun
    rumasa ngagugu nafsu
    matak kuring nyuhun ampun
  • 11. mun indit ka Ujungberung
    bari mawa awi tali
    rumasa kungsi ngaberung
    mugi Gusti kersa nampi

“Mengapa saya harus menantang? Andai benar itu tujuan andika?”
“Baiklah!”  dorong Pangeran Modang, “Andika akan  diadili,  serta mendapatkan hukuman yang setimpal.”
“Saya kira tidak melalui pengadilan dulu?”
“Bicara apa?”
“Masa kisanak tidak dengar?”

 

“Itu  penghinaan, Syekh!” geram Pangeran Modang, “Jangan  sekali-kali andika bicara ngelantur. Untung saja belum berada  dihadapan Gusti  Sultan. Dosa dan kesalahan andika akan  bertambah,  akibat menghina  pengadilan.  Hukuman pun akan lebih  berat!  Itu  mesti andika pahami!”
“Apa artinya hukum manusia?”
“Tidak takutkah andika, Syekh?”

“Mengapa mesti takut, Pangeran. Tidakkah kehidupan manusia ini di dunia hanya sekejap.” desahnya pelan, “Tidakkah kisanak  perhatikan indahnya matahari di upuk senja? Jika hari sudah senja, artinya tiada lama lagi malam akan tiba. Terpaksa atau tidak terpaksa indahnya  senja  akan terseret gelapnya malam.  Bukankah  teramat singkat dan cepat. Begitu pula kehidupan kita di dunia ini.”
Pangeran Modang diam sejenak, Pangeran Modang, Sunan Geseng,  dan yang  lainnya  hanya menghela napas dalam-dalam.  Tiada  salahnya yang  diucapkan  Syekh Siti Jenar. Meski  demikian  mereka  tidak boleh  hanyut terbawa arus pembicaraannya. Apa pun yang  terjadi, Syekh  Siti  Jenar tetap merupakan musuh Negara  dan  Agama  yang perlu mendapatkan hukuman.
“Cukup,  Syekh!” sentak Pangeran Modang memecah keheningan  sejenak.

“Andika diseret ke Demak bukan untuk berbicara tentang kehidupan. Semua orang tahu itu! Perlu andika ketahui! Andika digiring ke Demak Bintoro tiada lain untuk dipenggal!”
“Pangeran?” sela Sunan Geseng pelan.

 

Bersambung……

Tulisan Sebelumnya »