Pengumpan:
Tulisan
Komentar

Oleh Herdi Pamungkas

“Andai kita beliau ya bukan soal. Menurut hematku apa yang Ki Chantulo lakukan sudah tepat.” kembali berbalik.

Lelaki bertubuh gempal mendekat, kiranya ingin larut dalam pembicaraan yang belum tuntas.

“Ki Chantulo,”

“Saatnya kita menikmati masakan Nyi Ageng.” tatapnya. “Mari!” lalu diajak memasuki serambi.

Kebo Kenongo berdiri, menyampaikan ajaran Syekh Siti Jenar di depan warga Pengging yang telah usai menjalankan salat Magrib berjamaah.

Lekaki bertubuh gempal melahap hidangan nasi putih dengan lauk-pauknya berupa ikan bakar disertai Ki Chantulo. Telinganya berusaha pula menyerap setiap ceramah Kebo Kenongo di depan pekarangan dengan suara tenang, lantang, dan mudah dicerna. Meskipun tidak semuanya mampu dipahami dengan keterasingannya, persoalan-persoalan yang baru didengar.

“…tiada seorang pun manusia yang bisa luput dari kematian,” berhenti sejenak. “Sadarilah, kematian itu akan menjemput siapa saja tanpa pandang bulu. Malaikat maut tidak akan melihat siapa yang harus dihadapi. Ketika waktunya telah tiba maka orang yang dikehendakinya akan terkapar tanpa nyawa. Berhargakah manusia jika tidak memiliki nyawa?”

“Tidak!”

“Dapatkah kerabat, sanak saudara, atau orang yang dicintai menghidupkan kembali?”

“Tidak!” kembali sahut yang hadir.

“Meskipun dia seorang penguasa, saudagar, bahkan siapa saja tidak bisa menangkal maut. Maut akan merenggut siapa saja, kapan saja, dimana saja. Dimana harta, tahta keluarga yang kita banggakan dan sombongkan saat itu berada? Bisa saja berada disampingnya, bahkan memeluknya, tetapi tidak berdaya menghadapi ketentuan Alloh. Mereka yang mencintai dan menyayangi hanya bisa menangis sekeras-kerasnya. Tangis itu tidak sanggupmengembalikan ruh yang telah lepas dari jasadnya. Ruh itu mengembara ke alam lain untuk mempertanggungjawabkan hidup itu sendiri, ketika berada di alam jasad. Alam barzah bukanlah tempat untuk kembali merajut kebaikan, mengumpulkan amal kebaikan, tetapi tempat penantian yang sangat panjang menjelang manusia kembali di bangkitkan menuju akhirat.”

“Bagaimana keadaan keluarga dan harta yang kita tinggalkan?”

“Ingatlah, ketika manusia mati yang mengantar jenazah ke liang lahad
ada tiga; pertama keluarganya, kedua harta bendanya, dan yang ketiga
amal perbuatannya. Ketahuilah yang dua itu akan kembali bersama
rombongan ke rumahnya, yaitu; keluarga, dan hartanya, yang tinggal
dan menyertainya hanyalah amal perbuatan. Keluarga sekali pun sangat
mencintai tidaklah mungkin akan ikut masuk ke liang lahad, harta juga
tidak. Andai memaksakan harta itu harus dimasukan ke dalam kubur,
adakah manfaat dan madharatnya?”

“Tidak, hanya akan dicuri orang.”

“Tetapi amal perbuatan itu tidak tampak yang jelas akan menyertainya di alam kubur. Bukankah amal perbuatan itu hasil jerih payah ketika manusia berada di alam jasad? Andai itu baik, maka akan menjadi kebaikan pula di sana, sebaliknya andai tidak baik akan berakibat buruk pula.”

bersambung…..

Oleh Herdi Pamungkas

“Saya tidak paham apa yang andika katakan?” gelengkan kepala.

Ki Chantulo belumlah kembali berujar, kepalanya menunduk,lalu mendongak
pelan. Batinnya, mungkinkah orang yang baru saja percaya akan adanya
Tuhan bisa memahami ilmu yang bertingkat tentang hakikat? Sementara
mengenal juga baru akan?

“Mengapa andika diam?” liriknya.

“Nanti kita lanjutkan,” langkahnya mendahului. “Lagian kita sudah memasuki Perkampungan Pengging. Tidakkah andika merasa lapar dan dahaga?”

“Tentu saja.”

Mereka memasuki pekarangan gubuk yang berukuran tujuh belas tombak persegi. Para petani yang telah berpakaian bersih berdatangan dan menghamparkan tikar pandan. Ki Donoboyo menuju pancuran air bambu di selatan pekarangan, dibelakangnya Ki Chantulo mengiringi. Lelaki gempal kebingungan setelah menambatkan pedati di luar halaman.

“Apa yang akan mereka lakukan?” liriknya.

“Mereka akan melakukan salat Magrib berjamaah.” terang Kebo Kenongo yang
masih berdiri disampingnya.

“Salat?” dahinya berkerut-kerut.

“Syariat Islam yang hukumnya wajib bagi penganutnya. Apakah andika mau
bersama-sama mendirikannya?”

“Tidak.” dahinya semakin berkerut. “Belum mengerti, jika Ki Ageng ingin silahkan! Saya sebaiknya menunggu di sini.” lalu menepi, duduk di atas batu.

Kebo Kenongo, berlalu dari hadapannya. Mengambil air wudu seusai kedua teman sepergurunnya. Tidak lama berselang azan Magrib dikumandangkan, membelah bayang-bayang jingga keemasan di langit barat perkampungan Pengging.

Lelaki bertubuh gempal tidak melepas tatapannya, batinnya tidak henti bicara tatkala menyaksikan perilaku Kebo Kenongo beserta para penduduk  Pengging. Hingga selesai.

“Ki Ageng Pengging ternyata masih memiliki pengikut setia yang jumlahnya tidak sedikit. Mereka masyarakat miskin, petani sederhana. Mengapa tidak tertarik akan tahta juga harta? Sungguh aneh sosok ini? Meninggalkan Istana Kadipaten hanya karena ingin berbaur dengan para petani miskin. Rasanya tidak mungkin berbuat seperti ini jika tanpa tujuan?” gumamnya.  “Mereka juga begitu patuh, bahkan mengikuti setiap gerakan Ki Ageng.  Meskipun Ki Ageng harus menungging mencium tanah. Aneh?”

Usai salat Magrib Ki Chantulo yang berada di shaf terdepan berbisik pada Kebo Kenongo selaku imam.

“Haruskah saya menjawabnya?”

“Belumlah saatnya.”

“Bukankah Syekh Siti Jenar mengajarkan ilmu tidak pernah mengenal tahapan?”

bersambung…..

Oleh Herdi Pamungkas

“Ah, bhatin saya belumlah sehebat Ki Ageng. Tidak mengapa seandainya Ki Ageng dan lainnya tidak ke Khendarsawa, izinkanlah saya.” berbalik tanpa menunggu jawaban, berkelebat menyatu dengan angin senja.

“Secepat angin?” gumam lelaki bertubuh gempal tak berkedip.

Ki Canthulo dan Ki Donoboyo melempar tatap ke arah Kebo Kenongo, setelah
Ki Lontang menghilang dari pandangan.

“Ikutilah Ki Lontang andai andika berdua tertarik untuk itu,”

“Tindakan Ki Lontang sempat menggoyah batin kami. Haruskah berbuat yang serupa atau cukup disini menyertai Ki Ageng?”

“Andika telah memiliki ilmu yang sama. Ragukah akan ilmu dan batin andika?”

“Kami tidak meragukan ilmu. Mungkinkah keraguan yang kami dapatkan karena tarap pencapaian ilmu belumlah seperti Ki Ageng. Batin ini terhalang, mata hati tertutup rapat.”

“Lenyapkan keraguan dalam batin andika. Ikutilah kehendak mata hati, gunakanlah ilmu itu sebagai alatnya.”

“Kiranya kami belum sanggup menggunakannya.”

“Semuanya akan terjawab andai andika tepat menggunakannya.”

“Terangkanlah sedikit alasan Ki Ageng tidak mengikuti jejak Ki Lontang?”

“Bukankah saya telah menjelaskan jauh sebelum Ki Lontang datang?”

“Ya, mengikuti batin dan ilmu. Tetapi batin kami sumpek?”

Kebo Kenongo melangkah pelan, mereka mengikuti. Pintu gerbang perkampungan Pengging telah tercapai.

“Tahukah andika tentang kematian Srinalendra Kresna, Resi Drona, ataukah
Resi Bisma dalam Mahabharata parwa perang Bharatayuda?”

“Bukankah kami pernah menyaksikan lakonnya yang dibawakan Ki Ageng Tingkir waktu mendalang.”

“Saya ingat.” timpal Ki Chantulo, “Srinalendra Kresna telapak kaki kirinya kena panah saat bertapa, Resi Drona menjemput kematiannya sambil duduk di medan perang Kuru Setra namun pedang Dresta Jumena membabat lehernya padahal beliau sudah mati, dan Resi Bisma sekujur tubuhnya tertusuk ribuan anak panah, kematian beliau sesuai keinginannya…”

“Saya tidak mengerti apa yang andika semua perbincangkan?”

“Kisanak, maksudnya ketiga orang tadi bisa mengatur kematian dan tahu darma serta karmanya…” jelas Ki Chantulo.

“O,” lelaki gempal gelengkan kepala. “Hebat sekali, adakah ajaran Syekh  Siti Jenar demikian?”

“Syekh Siti Jenar adalah sosok yang telah memahami hakikat hidup, terang akan makna taqdir, batinnya tajam melebihi ujung pedang…”

bersambung…..

Oleh Herdi Pamungkas

“Selamat datang, Ki Lontang.” tatapnya menyejukan. “Tidak juga, malah kisanak yang tidak pernah berubah selalu ingin mendalami bhatin orang lain. Tampaknya kisanak dalam keadaan marah memasuki Pengging?”

“Ki Ageng, bisa menembus bhatin saya. Kenapa saya tidak?” gelengkan kepala. “Saya selalu berada dibawah Ki Ageng.”

“Siapa dia Ki Ageng?” tatap lelaki bertubuh gempal.

“Ki Lontang teman seperguruan kami.”

“Saya kira bhatin Ki Ageng telah maphum. Datangnya saya ke Pengging tentu saja dalam keadaan marah dan berapi-api, mengapa tidak? Saya mendengar kabar Syekh Siti Jenar akan ditangkap orang-orang Demak Bintoro, utusan Raden Patah. Sudah selayaknya saya sebagai muridnya marah besar!” geramnya.

“Bukankah baru akan?”

“Ya,” tangan bergetar, mata menyala. “Mereka tidak menghargai guru menginjak-nginjak martabat sesama. Tidakah mereka ingin saya lumat dengan pukulan gelap Ngampar!” kepalan tangannya diayunkan ke arah batu seukuran anak kerbau yang bertengger di tepi jalan.

Terlontar bola api disusul suara ledakan dahsyat yang meluluhlantakan menjadi kepulan debu, tertiup angin. Lelaki bertubuh gempal tidak berkedip, mulut melongo, tubuh menggigil. Berbeda dengan para murid Syekh Siti Jenar lainnya tidak terusik.

“Haruskah mereka saya lumat laksana debu?”

“Apakah pertanyaan itu untuk saya ataukah untuk Ki Lontang sendiri?”

“Ki Ageng, mengapa melempar pertanyaan demikian?”

“Bukankah setiap orang bertanya membutuhkan jawaban?”

“Tentu saja,” dahinya berkerut tiga. “Pertanyaan itu saya tujukan pada Ki Ageng dan rekan seperguruan.”

“Jika itu tertuju pada saya, maka saya tidak akan bersikap seperti Ki Lontang.”

“Tidak melakukan pencegahan dan perlawanan?”

“Tentu saja,”

“Bukankah beliau guru kita. Sudah selayaknya menuntut bela dan melakukan perlawanan.”

“Itu yang saya maksud pertanyaan tadi. Saya sudah menjawab, berikutnya Ki Lontang sendiri yang menjawab.”

“Ki Ageng?” dahi berkerut tiga dipijit-pijitnya. Mulai larut pikirannya dalam setiap ucapan Kebo Kenongo.

Semuanya belumlah beranjak beberapa tombak dari muka gapura perkampungan Pengging. Kebo Kenongo menghargai perjalan pikiran Ki Lontang yang mencari ujung penyelesaian, Ki Donoboyo, dan Ki Chantulo sebatas menghormati. Hanya lelaki bertubuh gempal yang tidak terlalu paham perilaku mereka.

“Jadi Ki Ageng tidak akan datang ke Khendarsawa untuk melakukan pembelaan terhadap guru, serta melumat para utusan Demak termasuk di dalamnya anggota wali songo?”

“Tidakah Ki Lontang memahami bhatin guru?”

“Maksud, Ki Ageng?”

“Bukankah guru itu manunggaling kawula gusti?”

“Ya,”

“Jika Ki Lontang mendalami itu saya rasa maphum?”

bersambung….

Pantun Anak

 Jika ingin makan kupat

jangan lupa bagi-bagi

jika gigi ingin sehat

mesti rajin gosok gigi

 

Dulu delman sekarang bendi

masak gule dikuali

bangun tidur terus mandi

tidak lupa gosok gigi

 

Jika hendak beli mistar

 belinya ke batu jajar

jika ingin jadi pintar

hendaklah rajin belajar

 

Jalan-jalan naik dokar

sambil makan nasi uras

anak pintar rajin belajar

 anak cerdas rangking kelas

 

Kalau kita beli sate

 dibakarnya pakai bara

 tanda-tanda anak sholeh

tentu taat orang tua

 

bersambung….

Oleh Herdi Pamungkas
“Ketika sang raja merasa sangat berkuasa, sudah tentu akan menghalalkan segala cara demi terlaksananya setiap jengkal keinginan. Rakyat akan menderita dan semakin miskin. Dari mana lagi mereka mendapatkan kekayaan kalau bukan dengan jalan menekan rakyatnya; upeti akan dinaikan berkali lipat, wanita persembahan, yang menentang akan dibungkam.”

“O, demikiankah? Artinya penguasa itu telah mengambil hasil keringat rakyatnya sendiri demi kemakmuran dirinya dan sesamanya. Apa yang diberikan mereka pada rakyat?”

“Coba apa yang andika rasakan sekarang?”

“Tidak ada rasanya. Saya memiliki emas ini hasil keringat saya beserta pengikut setia. Rakyat jelata bisa makan dan minum hasil keringat sendiri dengan jalan bercocok tanam, selain berdagang.” lelaki itu gelengkan kepala. “Benar sangat Ki Donoboyo. Mereka yang bergelimang kekayaan di balik tembok megah dan angkuh hanya bisa berkelakar. Apa sesungguhnya yang mereka perbuat hanyalah untuk kesenangan raja beserta pengikut setianya. Di luar istana masih banyak rakyat melarat, kelaparan.”

“Itulah arti kekuasaan.” geram Ki Chantulo. “Sangat maklum andai Ki Ageng Pengging melengserkan diri.”

“Sudahlah Ki Chantulo.” lirik Kebo Kenongo. “Itu sudah menjadi tekad saya untuk hidup berbaur dengan rakyat tanpa tembok pembatas. Yang telah membatasi saya dengan rakyat untuk berbagi. Menjauhkan saya serta terciptanya jarak yang memaksa rakyat untuk menghormati saya, dipisahkan pula dengan hak istimewa, raja harus dibentengi para pengawal. Padahal apa istimewanya saya di hadapan Gusti Alloh seandainya tidak bisa membantu mensejahterakan rakyat, apalagi rakyat semakin menderita gara-gara saya berkuasa. Lalu bagaimana ketika saya harus berhadapan dengan rakyat dalam pengadilan Alloh?” menarik napas dalam-dalam.

“Saya tidak paham dengan apa-apa yang kalian perbincangkan.” lelaki itu memijit-mijit keningnya. “Saya masih harus banyak belajar dari kalian tentang ajaran Syekh Siti Jenar yang begitu mulia. Pendapat saya.”

Sejenak hening, desir angin mengusik dedaunan, menggerak-gerakan jubah ketiga murid Syekh Siti Jenar. Roda pedati, beradu keras dengan suara terompah mereka. Semakin mendekati gapura perkampungan Pengging, dari jarak belasan tombak wajah sederhana telah tampak. Gubuk-gubuk berdinding anyaman bambu, bertiang kayu, beratap anyaman daun kelapa yang dilapisi jerami tersusun rapih.

“Sangat sederhana,” gumam lelaki brtubuh gempal. “Tidakkah penduduk kampung ingin menjadi orang kaya?”

Belumlah kering mulut lelaki gempal, mata mereka berusaha ingin menangkap kelebatan bayangan. Gerakannya menyatu dengan angin senja, warna lembayung jingga membungkus jubah merahnya yang semakin menyala. Tubuh ramping, ceking berbalut jubah longgar semakin mendekat berjarak beberapa anak panah.

Dalam jarak dua anak panah berhenti, sorot mata tajam menancap pada mereka, sejenak terpaku dalam tatap. Hanya Kebo kenongo yang menandingi, tiap pendaran ketajaman dapat dipatahkan, berkeping-keping.

“Ki Ageng,” meleleh. “Ilmu bhatin Ki Ageng meluluhlantakan semuanya. Saya tidak sanggup lagi menembus dinding bhatin yang Ki Ageng tanam.”

bersambung……

Oleh Herdi Pamungkas

“Benar itu, Kisanak.” tatapnya. “Mengapa batangan-batangan ini tidak pernah membuat saya puas. Hanya pada awalnya kepuasaan itu tiba—setelah menjadi kebiaasan dan bukan lagi hal aneh semuanya tinggal gapaian angan-angan, semakin hari semakin menggunung. Semakin dikejar-semakin tak berasa. Semakin banyak yang tersimpan semakin dalam disembunyikan—semakin ketakutan diketahui orang yang memiliki niat merampoknya. Hingga saya memutuskan untuk melenyapkan semuanya—karena membuatnya saya bersusah payah mencurigai banyak orang, termasuk mereka yang pernah saya beri kepercayaan untuk menjaganya. Terkadang timbul pikiran, tentu pada suatu saat akan berhianat. Meski pun sebetulnya mereka setia. Perasaan takut dihianati selalu menghantui.”

“Bukankah ketika bersyahwat untuk memiliki sesuatu akan selalu mengejarnya, hingga yang diinginkan itu teraih. Maka ketika telah tercapai bukankah hanya sesaat merasakan bangganya atas capaian tadi, setelah itu biasa lagi.”

“Ya, puncaknya seperti yang saya kemukakan tadi.” menumpuk kembali jerami dan kayu bakar di atas batangan emas dalam pedati. “Mengapa kisanak tidak menginginkan kekayaan seperti kebanyakan orang?”

“Saya tidak ingin terjebak dalam kepalsuan dan kebodohan.”

“Ketahuilah Kisanak!” potong Ki Chantulo. “Tahukah andika siapa yang sebetulnya diajak bicara?”

“Bukankah andika ini para muridnya Syekh Siti Jenar?”

“Benar, tetapi yang saya maksud, beliau!” menunjuk dengan lirikkannya. “Beliau ini Ki Ageng Pengging…”

“Saya tahu kalau nama itu. Bukankah Ki Ageng Pengging itu seorang Adipati, lihatlah kemegahan bangunan kadipaten serta kekayaannya. Mengapa Ki Ageng yang saya kenal sangat bersahaja?”

“Beliau telah melepaskan diri dari kemegahan, harta, serta tahta.”

“Sudahlah, Ki Chantulo.” tatap Kebo Kenongo.

“O, andai demikian saya baru paham akan Ki Ageng. Pantas memahami apa yang saya rasakan. Tidak salah rasanya saya belajar hidup miskin…”

“Miskin dan bersahaja itu berbeda, Kisanak.” timpal Ki Donoboyo.

“Apa perbedaannya?”

“Orang yang merasa miskin itu akan selalu memiliki perasaan kurang dan kurang, sehingga terus berusaha memperkaya diri. Meskipun secara kasat mata telah memiliki segalanya.”

“Benar yang andika katakan. Saya pun tidak pernah merasa puas meskipun kata orang memiliki segalanya. Makanya sekarang saya ingin seperti kalian meskipun tidak kaya tetapi tampak bahagia. Benarkah itu?”

“Ketahuilah, bahagia itu fitrah setiap manusia. Sedangkan tahta, ilmu, dan kekayaan tidak dimiliki setiap orang. Andai saja andika memiliki dari ketiga hal atau salah satunya, tetapi tidak merasakan bahagia, padahal bahagia itu fitrah setiap manusia. Maka perlulah bersedih.” terang Kebo Kenongo. “Bukan kemiskinan yang perlu ditangsi, belum tentu yang menurut andika miskin hatinya tidak bahagia?”

“Lalu mengapa orang mencari itu semua?”

“Mereka mengejar kakayaan ingin bahagia. Padahal ilmu, harta, tahta bukan sumber bahagia. Tetapi alat untuk jadi bahagia. Yang namanya alat andai tidak tepat menggunakannya, mungkinkah bisa dirasakan manpaatnya?”

“Tidak,”

“Ya, itulah yang terjadi.”

“Benar, Ki Ageng.” turun dari pedati, berjalan beriringan, tangannya memegang tali kekang. “Saya akhirnya tidak heran andai Ki Ageng melepas jabatan. Ketika orang memiliki jabatan ditangannyalah segala kebijakan. Bebas berbuat sekehendak hati, kekuasaan bertumpu pada tangannya. Siapa yang akan berani menentang? Meski berusaha keras untuk mendapatkan segalanya, bermegah-megah, berpoya-poya sekali pun.”

“Ingatlah, prilaku demikian bisa merugikan rakyat.” lirik Ki Donoboyo.

“Maksudnya?”

bersambung……

Oleh Herdi Pamungkas

Perkampungan Pengging semakin larut dalam untaian irama senja, para petani sudah kembali dari ladang dan sawah arungi jalan yang berkelok-kelok dinaungi bayang-bayang keemasan.

Ketiga murid Syekh Siti Jenar beriringan melintasinya, menuju gubuk kecil
di sudut perkampungan. Tiada lagi bayangan Kadipaten Pengging yang penuh
dengan kemegahan serta serba berkecukupan, semuanya telah dijauhi. Mereka
dalam kemegahan menganggap hanya berlari dari satu kemegahan pada kemegahan berikutnya, tiada akhir. Lalu kapan berupaya, berpikir, untuk
mendekatkan diri pada Maha Penguasa, Gusti Alloh. Seandainya mereka
beranggapan kemegahan itu sebagai penghalang.

“Tunggu!” dengan pedati mengejar. Loncat menghadang langkah ketiganya.

“Apalagi?” tatap Ki Donoboyo. “Bukankah andika sudah percaya tentang
keberadaan Gusti Alloh?”

“Ya, artinya saya telah kalah taruhan. Pedati berserta isinya, juga diri
saya sudah dipertaruhkan. Ambilah semuanya!”

“Saya mengajarkan ilmu bukan mengejar kepeng atau urusan duniawi, juga
bukan untuk memperbudak sesama.”

“Perlu dicamkan! Para murid Syekh Siti Jenar menyebarkan ilmu dan ajaran
bukan mengejar; tahta, harta, wanita, kepeng. Kami menyebarkan ilmu tidak
lain untuk bersama-sama memasuki cahaya pencerahan agar menjadi rahmat
bagi seluruh alam, hama mayu hayuning bawana, serta mendekatkan diri pada
Gusti Alloh. Untuk meraih kebahagian dunia dan akhirat serta menuju
ketenangan bhatin.” timpal Ki Chantulo.

“Heran?” gumamnya.

“Kenapa?”

“Baru kali ini saya menemukan orang-orang macam andika? Tidak tertarik
pada harta, tahta…mungkin andika hanya memandang pedatinya, memang
tidak berbeda jauh dengan pedati milik rakyat kebanyakan. Pedati ini
isinya berbeda, bukanlah tumpukan jerami kering atau kayu bakar semata.
Isi pedati ini lebih berharga dari kereta kencono milik keraton.”

“Maksud andika?”

“Ya, saya hanya menduga. Pedati dan isinya bukan barang berharga?” loncat
lagi ke atas pedati, kedua tangannya perlahan membuka tumpukan jerami
kering dan kayu bakar yang memenuhinya. “Lihatlah, Kisanak!” teriaknya.

“Emas,” gumam Ki Chantulo lirih.

Batangan emas memenuhi gerobak pedati, cahayanya semakin memancar beradu dengan lembayung. Tiada terhitung berapa batang emas yang
tersimpan, sebelumnya tertutup tumpukan jerami kering dan kayu bakar.

“Emas ini cukup untuk membangun sebuah istana Kadipaten, belum lagi yang
tersimpan di tempat penambangan. Tidakkah andika tertarik?” tatapnya.

“Tidak!” geram Ki Donoboyo.

“Jika andika merelakannya? Berikanlah pada fakir-miskin serta mereka yang
kelaparan. Kami sudah menghindari gemerlapnya kepalsuan. Tahukah andika
kepalsuan?” tatap Kebo Kenongo.

“Maksudnya?”

“Apa yang telah andika dapatkan dari batangan-batangan emas itu?”

“Segala keinginan bisa ditukar dengan ini. Wanita, rumah, makanan,
minuman memabukan, banyak lagi.”

“Bahagiakah andika dengan semua itu?”

“Tidak saya rasakan apa pun, kecuali perasaan sakit hati andai tidak
melampiaskannya. Wanita, tidak lagi menjadi nikmat saking seringnya bergonta-ganti. Makanan apalagi yang belum saya nikmati, nikmatnya sudah
tidak ada yang aneh. Minuman apalagi….ya saya akhirnya merasa bosan.
Bukankah saya pernah mengutarakannya pada andika.”

“Itulah kepalsuan.” senyum Kebo Kenongo, “Perempuan ketika sudah memiliki
perhiasan mungkin hanya diletakan dipergelangan tangan atau leher, setelah itu merasa bangga. Berharapan orang lain melihat serta memuji-mujinya. Setelah itu selesai. Cukup sampai disitu. Itu pun andai ada yang memujinya.”

“Kepalsuan?”

“Sesuatu yang palsu itu tidak akan pernah memuaskan bhatin kita. Lebih menyakitkan lagi ketika angan-angan itu semakin tidak bertepi, bahkan tak berujung. Entah kapan selesainya—andai tidak pernah menemukan
penyelesaian—-maka rasa penasaranlah yang semakin bertaburan.”

bersambung…..

Oleh Herdi Pamungkas

“Percaya, Gusti Alloh itu ada,” lelaki itu memecah keheningan. “Hanya sayang saya memiliki keterbatasan dalam menjangkaunya?” raut mukanya kecewa dan sedih.

“Mengapa andika percaya akan adanya Gusti Alloh?”

“Saya telah berpikir bolak-balik apa yang andika uraikan tadi, sehingga saya berkesimpulan; Gusti Alloh itu ada—karena tidak mungkin ada ciptaan-Nya jika tidak ada yang menciptakannya, saya tidak bisa menjangkau Gusti Alloh karena keterbatasan pancaindra. Hanya orang bodohlah yang tidak percaya! Karena saya memiliki akal maka akan terus memikirkannya…seperti halnya tidak mungkin pedati yang saya bawa tiap hari dengan tiba-tiba ada di rumah tanpa pengerjaan teman saya.” menunduk, “terkadang tersirat dalam benak saya kalau Gusti Alloh itu hanya hayalan orang-orang macam andika. Akibat terlalu jauh memasuki alam hayalan tentang keberadaan-Nya hingga andika semua percaya, juga beranggapan Dia memiliki kekuatan…”

“Rupanya pikiran semacam itu masih mengganggu benak andika?”

“Terkadang berulang-ulang melintasi kekurang pahaman akal pikiran saya. Hingga mengganggu saya untuk berkeyakinan mengenai keberadaan Gusti Alloh…” keluhnya.

“Baiklah,” Ki Donoboyo tersenyum. “Percayakah andika tentang perkara ghaib?”

“Apa itu ghaib?”

“Sesuatu yang tidak bisa dijangkau pancaindra,”

“Tidak, saya hanya percaya segala sesuatu yang nampak saja serta bisa dirasakan indra.”

“Percayakah andika akan ruh?”

“Apa itu ruh?”

“Yang bersarang dalam jasad wadak setiap makhluk hidup termasuk manusia.”

“Jasad wadak?”

“Ki Donoboyo,” tatap Kebo Kenongo.

“Ya, baiklah, Ki Ageng.” Ki Donoboyo menganggukan kepala. “Kisanak, rupanya perbincangkan kita untuk kali ini cukup. Pikirkanlah hingga akal andika mencerna serta melumatnya dengan baik.”

Ketiga murid Syekh Siti Jenar beranjak tiada menghiraukan orang yang terjebak dalam kebingungan, memikirkan setiap perkataan Ki Donoboyo.

“Ki Ageng, mengapa kita meninggalkan dia?”

“Biarkanlah mencerna dulu.” senyum Kebo Kenongo. “Andai saja keingintahuannya kuat serta terpahami yang baru saja andika sampaikan, tentulah dia akan kembali mencari kita.”

bersambung….

Oleh Herdi Pamungkas

“Baiklah. Indahnya pegunungan bisa andika jangkau dengan penglihatan, adanya angin bisa andika rasakan dengan kulit, harumnya bunga bisa andika tangkap dengan penciuman…”

“Ya, tentu karena ada.”

“Bukankah menurut andika yang ada itu hanya bisa dijangkau dengan penglihatan?”

“Awalnya memang begitu, ternyata tidak selalu bisa dijangkau dengan penglihatan seperti yang andika katakan tadi. Bisa juga yang ada itu cukup dirasakan dengan kulit atau penciuman.” alisnya dinaikan. “Mengapa? Apa kaitannya dengan Gusti Alloh?”

 ”Mata memiliki keterbatasan dalam menjangkau pandangan. Jika mata tidak bisa menjangkau angin tentulah kulit merasakannya, andai keduanya tidak maka penciumanlah yang menjangkaunya. Perhatikan dari ke tiga indra tadi, semuanya memiliki keterbatasan dan kemampuan yang tidak terlampau hebat. Perhatikan dibukit sana para petani yang turun gunung tampak mulutnya komat-kamit artinya sedang berbincang dengan temannya. Bisakah kita mendengar atau hanya mampu menjangkau gerakan mulutnya dengan tatapan mata menunjukan mereka sedang berbincang?”

“Tidak terdengar perbincangannya karena jauh, tetapi mata menangkap mereka sedang berbincang satu sama lain. Maksud andika?”

“Saya hanya ingin menjelaskan betapa terbatasnya kemampuan pancaindra kita. Bukankah andika ingin melihat Gusti Alloh? Angin saja sebagai salah satu ciptaannya tidak bisa dijangkau mata, bahkan memandang sifat harumnya bunga pun tidak sanggup. Obrolan petani yang di atas bukit bisa ditangkap gerak bibirnya dengan mata tetapi sayang pendengaran tak sanggup menjangkaunya karena jauh. Sangat terbatas dan lemah pancaindra kita ini bukan?”

“Ya, tapi adakah Gusti Alloh itu?”

 ”Tentu ada, bukankah ciptaannya ada.”

 ”Jika ada mengapa tidak terlihat?”

 ”Haha, belum paham juga rupanya. Jika ingin memandang Gusti Alloh coba pandang dulu ciptaan-Nya yang berupa angin dan sifat harumnya bunga!”

“Mana mungkin itu bisa dilakukan, bukankah pancaindra ini kemampuannya terbatas?”

“Jika merasa kemampuan pancaindra andika terbatas, jangan coba-coba menjangkau yang diluar batas. Perhatikan serta pikirkan dulu ciptaan-Nya, sebelum mengejar yang menciptakan-Nya!”

 ”Bingung?” memijit-mijit kening.

 ”Mengapa harus bingung?”

 ”Tidak bisa melihat Gusti Alloh.”

 ”Bukankah angin juga tidak bisa andika lihat?”

 ”Ya, tapi bisa dirasakan. Gusti Alloh selain tidak terlihat juga tidak bisa dirasakan dan dicium baunya?”

“Bukankah petani yang berbincang di atas bukit hanya bisa andika tangkap komat-kamit mulutnya tetapi telinga tidak bisa menangkap apa yang dibicarakannya?”

“Ya, memang. Meski pun tidak bisa dijangkau tetapi jelas keberadaannya, sedangkan Gusti Alloh?”

“Bukankah pancaindra itu memiliki keterbatasan? Mana mungkin yang memiliki keterbatasan itu bisa menjangkau yang berada di luar batas..”

“Lantas benarkah Gusti Alloh itu ada?”

“Lihatlah ciptaannya! Bukankah tidak ada benda yang bisa terjadi dengan sendirinya tanpa diciptakan? Bukankah andika meyakini tidak mungkin manusia sanggup membuat bintang dan meletakannya di langit?”

Lelaki bertubuh gempal sejenak merenung, pikirannya mulai mengunyah setiap perkataan Ki Donoboyo. Kunyaahan–demi kunyahan–satu persatu dicobanya untuk dicerna, sangat teliti serta hati-hati. Tidak ingin keliru dalam memahami—lalu memperbandingkan keterbatasan indra dengan akal pikirannya—-terkadang alisnya naik, dahinya berkerut tiga.

bersambung….

Tulisan Sebelumnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.